“Setidaknya terdapat tiga masalah krusial terus membayangi: Pertama, soal ketimpangan wilayah.”
Oleh W Eka Wahyudi, Pengajar di Universitas Islam Lamongan

SETIAP tahun, 26 Mei, menjadi hari istimewa bagi warga Lamongan. Tahun ini, Lamongan genap berusia 456 tahun, rentetan usia yang panjang dan tua bagi sebuah daerah yang pernah menjadi saksi bisu pasang surut sejarah Jawa Timur. Namun di balik gegap gempita perayaan, pertanyaan penting harus diajukan: Sudah seberapa jauh Lamongan berkembang sebagai kabupaten yang berdaya saing dan sejahtera?

Sejarah yang (Hampir) Terlupakan

Lamongan secara administratif berdiri pada 26 Mei 1569, saat pemerintahan Sultan Pajang memekarkan wilayah-wilayah kekuasaan lama di pesisir utara Jawa. Namun, jauh sebelum itu, Lamongan telah menjadi pusat peradaban lokal, dari jejak kerajaan Hindu-Buddha hingga peran sentral para ulama Wali Songo seperti Sunan Giri, Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur dalam penyebaran Islam di wilayah ini. Dengan demikian, Lamongan bukan hanya produk kolonial atau Jawa modern, tapi sebuah simpul dari lintasan sejarah panjang yang membentuk historiografi yang kompleks hingga saat ini.

Sayangnya, sejarah ini belum sepenuhnya hadir dalam kesadaran kolektif masyarakat maupun kebijakan pembangunan. Pusat-pusat sejarah dan kebudayaan belum menjadi nafas utama pembangunan daerah, seolah warisan itu hanya ditampilkan saat upacara atau seremoni. Kejayaan Lamongan masa lalu, yang diwariskan oleh Kerajaan Airlangga yang menjadikan daerah ini sebagai pusat pemerintahan pada abad XI, serta salah satu wilayah yang strategis saat kepemimpinan Sunan Giri I – IV. Tentu hal ini ditopang oleh mobilitas ekonomi, sosial dan politik yang baik berkat infrastruktur daerah yang memadai. Namun hari ini, justru problem utama kabupaten ini adalah soal infrastruktur.

Watak Maritim dan Etos Agraris
Lamongan dihuni oleh masyarakat dengan karakter majemuk: gigih, agamis, dan berorientasi kerja keras. Petani dan nelayan menjadi mata pencarian cukup banyak di daerah ini, begitu pula diaspora entrepreneur melalui aneka masakannya yang khas (sambelan dan soto) yang menjadi rival bagi pendatang dari Madura dan Padang. Wilayah utara Lamongan seperti Brondong dan Paciran dikenal dengan etos maritimnya, nelayan yang tangguh menghadapi ganasnya laut Jawa. Sementara bagian tengah dan selatan lebih kental dengan kehidupan agraris yang bertumpu pada sawah, tambak, dan industri rumah tangga dan UMKM.

Namun karakter sosial ini belum sepenuhnya dikelola menjadi kekuatan pembangunan. Masyarakat Lamongan masih dibebani oleh fragmentasi sosial, kesenjangan antar wilayah akibat parahnya infrastruktur, dan rendahnya literasi produktif, terutama masih belum maksimalnya political will, afirmasi kebijakan dan tata kota yang belum ideal. Ironisnya, potensi besar itu belum dibarengi dengan ekosistem yang mendorong inkubasi inovasi lokal.

Problem Pembangunan

Usia 456 tahun adalah waktu yang cukup panjang, tapi realitas Lamongan hari ini masih menghadapi tantangan struktural yang belum sepenuhnta terselesaikan. Setidaknya terdapat tiga masalah krusial terus membayangi: Pertama, soal ketimpangan wilayah.
Pusat kota Lamongan memang terus mengalami tumbuh, tetapi kecamatan-kecamatan di selatan seperti Mantup, Sambeng, atau Sugio tertinggal dalam infrastruktur dasar, konektivitas, dan layanan publik. Akses pendidikan dan kesehatan berkualitas masih menjadi barang mahal di desa-desa pelosok.

Kedua, soal ketergantungan pada ekonomi primer. Dengan istilah lain, perekonomian Lamongan masih sangat bergantung pada sektor pertanian dan perikanan, yang rentan terhadap fluktuasi iklim dan harga pasar. Minimnya hilirisasi produk lokal menjadikan petani dan nelayan tetap berada di posisi lemah dalam rantai nilai ekonomi. Ancaman banjir, sulitnya akses pupuk bagi petani, serta tidak stabilnya harga hasil panen masih menjadi momok bagi petani.

Ketiga, krisis kepemimpinan inovatif. Birokrasi yang lambat, tata kelola pembangunan yang sektoral, serta minimnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta membuat Lamongan sulit bertransformasi menjadi kabupaten yang adaptif di era digital. Di tengah derasnya arus teknologi dan disrupsi, Lamongan “seakan-akan” belum memiliki grand design pembangunan jangka panjang berbasis data dan riset.

Prospek: Tak Hanya Lari, Harus Melompat
Meski menghadapi tantangan, Lamongan punya peluang besar untuk menjadi poros kemajuan kawasan Pantura Jawa Timur. Beberapa langkah konkret bisa menjadi jalan lompatan antara lain: Pertama, revitalisasi wilayah pesisir dan pertanian modern. Melalui pengembangan industri teknologi pertanian, perikanan terpadu, dan penguatan koperasi nelayan/ petani berbasis teknologi. Tidak hanya menanam dan menangkap, tapi mengolah dan memasarkan secara mandiri.

Kedua, membangun sentra ekonomi baru di kawasan selatan Lamongan. Wilayah ini perlu diposisikan sebagai hub baru ekonomi kreatif, agroforestry, dan ekowisata berbasis lokalitas. Pembangunan jalan tembus, konektivitas infrastruktur dan digital, dan pembukaan lapangan kerja berbasis desa menjadi kunci. Sehingga, Masyarakat Lamongan tak perlu lagi berdiaspora untuk menjadi “orang sukses”, karena pemerintah sudah menyediakan simpul-simpul ekonomi baru yang bisa dimanfaatkan terutama bagi generasi muda.

Ketiga, menyiapkan generasi muda sebagai pemimpin inovasi. Lamongan harus berani berinvestasi pada edukasi progresif, mendorong kampus lokal, pesantren, dan komunitas untuk menjadi pusat co-creation, inkubator wirausaha muda, dan penggerak transformasi sosial serta memberikan berbagai afirmasi penguatan kelembagaan. Sehingga, lembaga pendidikan dari sekolah, madrasah, perguruan tinggi dan pesantren kota soto ini menjadi rujukan nasional bahkan internasional.

Ketiga, rebranding identitas kota. Dari sekadar “kota soto dan bandeng”, Lamongan perlu membangun narasi besar sebagai “Kota Poros Maritim” “Kota Entrepeneur Dunia”, dan semacamnya yang menggabungkan warisan sejarah, kemajuan teknologi, dan kearifan lokal dalam satu wajah yang menjual secara nasional bahkan global.

Usia 456 tahun bagi Lamongan bukan sekadar angka. Ia adalah refleksi perjalanan sejarah, cermin tantangan hari ini, dan cikal bakal masa depan. Saatnya Lamongan tidak hanya besar dalam angka umur, tapi juga besar dalam mimpi, gagasan, dan keberanian untuk berubah. Bukan hanya membanggakan masa lalu, tapi merancang masa depan yang setara, hijau, dan berkelanjutan.

Selamat ulang tahun, Lamongan. Mari kita rayakan bukan dengan nostalgia, tapi dengan kerja cerdas dan terukur. Karena daerah ini layak mendapatkan lebih.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry