Dari kiri Zainuddin, Suko Widodo dan Zainul Hamdi. (FT/SUUD)

SURABAYA | duta.co – Peluang Pilwali Kota Surabaya tahun 2020 masih sangat terbuka karena belum ada tokoh yang dominan berpeluang maju. Tak ayal, wacana mencari sosok pemimpin Kota Pahlawan yang ideal pun masih terus berlangsung.

Salah satu wacana yang kini mengemuka adalah mempersatukan dua ormas besar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah untuk membangun Kota Surabaya kedepan melalui Pilwali Kota Surabaya.

Pengamat politik dari UIN Sunan Ampel Surabaya, Zainul Hamdi mengatakan bersatunya NU dan Muhammadiyah untuk kepentingan kepemimpinan Kota Surabaya ke depan sangat terbuka untuk mengulang sukses eksperimen Pilkada Lamongan era Masfuk-Tsalist (Muhammadiyah-NU) tahun 2005 silam.

Inung sapaan akrab Zainul Hamdi menjelaskan bahwa wacana Nasionalis-Relegius tak harus dipakai pada kelompok Islam dan nasionalis sekuler (abangan). Melainkan juga juga bisa dipakai pada kelompok relegius-relegius karena memiliki unsur nasionalis yang sangat kuat, seperti antara NU dan Muhammadiyah yang tak perlu diragukan lagi nasionalismenya.

“Saya kira tak tertutup kemungkinan calon di Pilwali Kota Surabaya mendatang muncul pasangan dari unsur NU dan Muhammadiyah,” kata Zainul Hamdi saat dikonfimasi Selasa (2/7/2019).

Menurut Inung, tokoh-tokoh dari kader dua ormas Islam terbesar di Indonesia di Kota Surabaya juga potensial. Diantaranya, Dr. KH Muhibbin Zuhri (Ketua PCNU Kota Surabaya), Mahsun Jayadi (Ketua PD Muhammadiyah Surabaya), Imam Nahrawi (Menpora), Nur Arifin (Bupati Trenggalek), Ipong Muchlisoni (Bupati Ponorogo), Zahrul Azhar (Gus Han) dan banyak lagi.

“tokoh-tokoh itu tak perlu lagi diragukan kapasitasnya. Partai-partai juga pasti sudah melirik tokoh-tokoh potensial tersebut,” dalih aktivis Gusdurian ini.

Senada pengamat komunikasi politik dari Unair Surabaya, Suko Widodo menyatakan bahwa masyarakat Surabaya itu sangat plural dan independensi warganya cukup kuat. Karena itu jika muncul tokoh-tokoh alternatif yang didorong dengan baik muncul di Pilwali Surabaya, masyarakat akan merespon dengan baik pula.

“Masyarakat Surabaya itu tidak lagi komunal seperti daerah-daerah lain di Jawa Timur karena sikap personal warganya cukup tinggi. Namun kultural keagamaannya juga cukup kuat, didominasi NU-Muhammadiyah. Jadi peluang koalisi di Pilwali Kota Surabaya sangat terbuka,” ungkap Suko Widodo.

Surabaya akan Lebih Maju

Diakui Suko, Surabaya membutuhkan wali kota yang berkelas karena termasuk kota Metropolis sehingga yang akan memimpin Kota Surabaya juga harus orang yang berkelas dan memadai. “Syaratnya itu punya kemampuan, punya relasi sosial, material, organisasional baik parpol maupun ormas,” jelas akademisi murah senyum ini.

Ditambahkan Suko, kekuatan kultural dalam Pilkada langsung tak bisa diabaikan bahkan setara dengan kekuatan politik. Terlebih, suara Pileg tak signifikan dengan suara di Pilkada langsung karena adanya distrust masyarakat terhadap parpol. “Saya kira kehadiran orang di luar parpol di Pilwali Kota Surabaya akan menghasilkan pemimpin yang berkualitas,” tegasnya.

Sementara itu kordinator Jaringan Pemantau Riset Indonesia (JAPRI) Jatim, Zainuddin mengaku sangat mendukung jika di Pilwali Kota Surabaya muncul pasangan dari koalisi NU-Muhammadiyah. Alasannya, kehadiran dua ormas Islam terbesar di Indonesia itu diharapkan bisa meredam isu-isu gerakan radikal yang kian marak akhir-akhir ini.

“kalau koalisi NU-Muhammadiyah ini terwujud, maka persatuan dan kesatuan Indonesia akan semakin kokoh bahkan pembangunan Kota Surabaya akan lebih maju,” pungkas mantan ketua Korcab PMII Jatim ini. (ud)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry