Foto bersama tim pengmas Unusa dengan pengurus Pondok Pesantren Wahid Hasyim Bangil yang diketuai A. Wildan. DUTA/ist

Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menggelar pengabdian masyarakat di Pondok Pesantren (Ponpes) Wahid Hasyim, Bangil Pasuruan akhir 2021 lalu. Mereka melakukan pemeriksaan para para santri agar bisa melakukan tindakan preventif dan promotif.

—–

Dua dosen Unusa yakni dr Choirotussanijjah dan dr Hotimah Masdan Salim dibantu mahasiswa Ilham Putera Alam, Nadia Hidayati, M. Ikhwan Fajri dan Rahmat Rizal Ramadhany melakukan skrining kesehatan untuk mengetahui apakah para santri dan seluruh penghuni pondok tersebut memiliki faktor risiko kesehatan.

Hal ini dilakukan agar individu mampu mendeteksi dan mencegah risiko penyakit kronis secara dini, seperti diabetes dan hipertensi. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan tanda- tanda vital, konsultasi kesehatan serta pembagian vitamin pada pengurus, guru dan santriwati di ponpes tersebut.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Ketua Tim Pengmas, dr Choirotussanijjah mengatakan tindakan preventif sangat penting dilakukan agar tidak terjadi penyakit-penyakit berbahaya menyerang penghuni ponpes tersebut. “Kalau bisa diketahui dari awal kan bisa dilakukan tindakan preventif, bisa juga mencegah agar tidak terjadi penyakit-penyakit degenerative itu,” jelasnya.

Dalam kegiatan itu, diikuti 40 orang yang terdiri dari orang pengasuh, guru dan santri/santriwati. Hasil dari kegiatan ini adalah pendataan status kesehatan peserta berupa berat badan, tekanan darah, riwayat penyakit dan keluhan yang dirasakan oleh peserta.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, sebanyak 67,5% peserta memiliki berat badan 51-70 kg dan hanya 2,5% yang terdiagnosis sebagai obesitas. Sedangkan dari hasil tekanan darah, sebanyak 67,5% peserta memiliki tekanan darah normal, prehipertensi 27,5% dan hipertensi I 2,5%.

Sebagian besar peserta hanya mengalami gangguan kesehatan ringan berupa nyeri kepala, pusing serta gangguan pencernaan. Tidak ditemukan adanya gangguan kesehatan yang serius dari peserta skrining.

“Karena itu, melalui kegiatan ini, diharapkan terdapat peningkatan kesadaran untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan melakukan general check up untuk mendeteksi adanya penyakit memiliki potensi komorbiditas dan mortalitas tinggi,” ujarnya.

Skrining kesehatan dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu preventif primer dan preventif sekunder selektif. Preventif primer dilakukan pada individu sehat dengan menggali riwayat kesehatan, sedangkan skrining preventif sekunder dilakukan pada individu yang memiliki risiko tinggi penyakit kronis atau kanker.

“Kita mendeteksi secara dini adanya faktor risiko penyakit serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga Kesehatan diri sendiri. Selain itu, upaya ini dilakukan untuk mencegah pengeluaran biaya Kesehatan yang berlebihan serta adanya morbiditas dan mrtalitas yang disebabkan oleh penyakit tersebut,” tuturnya.

Fakultas Kedokteran Unusa sebagai salah satu fakultas kedokteran yang turut berperan aktif dalam bidang Pendidikan dan Kesehatan memiliki misi, salah satunya adalah di bidang kedokteran komunitas di lingkungan pesantren dan masyarakat umum.

“Kami mengadakan acara di Ponpes tersebut karena selama ini sudah menjadi mitra Fakultas Kedokteran Unusa. Selain itu, kami menggelar acara di ponpes karena selama ini selalu ada stigma, ponpes menjadi sarang penyakit seperti diare, penyakit kulit, malaria, Ispa dan sebagainya,” katanya.

Pengmas ini tidak berhenti, dosen Unusa berkomitmen untuk melakukan pemeriksaan lanjutan setiap enam bulan sekali. ril/bbs/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry