Nur Ainiyah, SKep.Ns, MKep – Dosen S1 Keperawatan, Fakultas Keperawatan dan Kebidanan

ERA digital dan era pandemi membuat dunia pendidikan beralih dari pertemuan secara langsung menjadi pertemuan secara online, dengan mnggunakan zoom, google meet dan yang lain.

Hal ini menyebabkan orang tua mulai “memberanikan diri membelikan dan memberikan handphone kepada buah hatinya handphone untuk mempermudah menerima proses pembelajaran dari sekolah mereka.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Fenomena ini sering kita temui pada pada orang tua yang keduanya bekerja. Kesibukan dan padatanya pekerjaan kantor menyebabkan banyak orang tua yang lengah terhadap apa yang dilihat dan didengar buah hatinya akibat dampak negative penggunaan handphone.

Meskipun beberapa orang tua yang mengerti tentang teknologi, mereka bisa menggunkan family link untuk memantau buah hatinya. Penggunaan smart phone di luar jam sekolah secara berlebihan menyebabkan kedekatan hubungan orang tua dan buah hatinya mulai ada jarak dan jika hal ini dibiarkan secara terus menerus maka akan menyebabkan, anak menjadi sering tidak bergerak alias mager, tidak berespon ketika diapnggil sehingga timbullah konflik dalam keluarga,

Konflik konflik tersebut dapat diminimalkan dengan adanya komunikasi produktif antara orang tua dan buah hatinya. Komunikasi ini dilaksanakan sesuai dengan tahapan usia dari buah hati.

Ada beberapa rumus penting yang perlu diperhatikan dalam komunikasi produktif yaitu clear dan clarify, yang berarti ketika berbicara dengan buah hati kita harus jelas, mudah dipahami, dengan bahasa yang halus dan baik serta memberikan kenyamanan dan tak lupa pula memberikan kesempatan untuk bertanya jika terdapat sesuatu yang tidak dipahami begitupn sebaliknya.

Choose the right time, memilih waktu yang tepat. Bagi kedua orang tua yang bekerja memilih waktu yang tepat biasanya sangat sulit, tapi menyiapkan waktu yang tepat sangatlah penting, karena tidak semua buah hati kita cepat berespon dengan apa yang disampaikan orang tua, kadang perlu waktu yang agak lama, kesabaran tinggi serta perlu penggunaan bahasa cinta yang “extra”.

Berikutnya adalah use the right intonation, gunakan intonasi yang tepat tidak perlu nada tinggi dan keras (dalam Bahasa jawa “mbleyer-mbleyer”). Menurut Mehrabian’s 7-38-55 Communication Model, keberhasilan komunikasi dengan anak-anak, dipengaruhi oleh 7 persen dengan berbicara, 38 persen dengan intonasi yang tepat, serta 55 persen dengan bahasa tubuh yang benar.

Selanjutnya intensity of the eye contact, ketika berbicara dengan buah hati sebaiknaya orang tua menatap dengan tatapan yang lembut sehingga dapat masuk di hati mereka nan mereka menjadilebih interaktif. Say to them our hope, bila tidak suka dengan tindakan mereka kita dapat mengungkapkan apa yang kita harapkan dari mereka.

Focus the solution, sebagian besar ketika buah hati melakukan kekeliruan, orang tua selalu mencari penyebab dari kekeliruan tersebut, sehingga menjadi marah kepada anaknya. Perlu diketahui bahwa saat anak anak melakukan kekeliruan, karena memang mereka sedang belajar dan tidak paham apa yang mereka lakukan dan dampak yang ditimbulkannya, sehingga jika ada kekeliruan perlu kita ajak diskusi untuk mencari solusi bersama .

Selanjutnya adalah Focus in the future, orang tua tidak boleh mengulang ulang atau mengungkit ungkit kekeliruan yang dilakukan buah hatinya, tapi harus selalu mengajaknya untuk mengambil pelajaran dari kekeliruan yang dilakukannya serta memberi motivasi untuk menjadi individu yang tangguh dan santun.

Responsible with the communication result. Orang tua harus memperhatikan respon buah hatinya sebagai hasil dari komunikasi yang dilakukannya, jika tidak respon tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan perlu dievaluasi merubah strategi komunikasi.

Dengan melaksanakan komunikasi produktif ini secara berkesinambungan maka konflik konflik dalam keluarga dapat diminimalkan sehingga tercipta keluarga yang harmonis. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry