SELEP: Pekerja  sedang memproses padi menjadi beras meski stok produksi padi terus menurun karena lahan pertanian yang terus berkurang. (duta.co/ardhy)

LAMONGAN| duta.co -Awal tahun 2018 masyarakat Lamongan dihadapkan pada harga beras yang  melambung tinggi. Untuk beras medium berkisar Rp.10.000, lebih tinggi dari yang di tetapkan harga eceran tertinggi (HET) Rp 9.450. Sedang untuk beras premium Rp.12.800. Harga pengecer di penggilingan padi ada kenaikan 10%  ke konsumen.

Rokim (45) warga  Desa Mangkujajar Kecamatan Kembangbahu mengakui kenaikan beras sudah melambung sejak pertengahan bulan desember 2017 lalu. Melambungnya harga beras dipicu lahan pertanian di wilayah Lamongan yang semakin menipis sehingga produksi menipis.

” Lahan pertanian di Lamongan sekarang banyak yang alih fungsi jadi perumahan, dan sebagian warga pun banyak yang sudah menjual sawahnya, ” ungkap Rokhim.

Rokhim menuturkan sebagian warga yang sudah kehabisan stok beras, pihaknya berusaha untuk menjualnya dengan harga Rp.9.000 ribu sedikit  lebih murah dari harga di produsen  beras.

” Kebetulan saya mempunyai stok gabah kering yang kemudian saya proses menjadi beras dan saya jual ke masyarakat sekitar, dengan harga Rp.9.000,” ucapnya.

Menurut Rokhim, warga sekitar yang tidak memiliki stok gabah lagi di bulan ini banyak yang kesusahan untuk memenuhi kebutuhan. Hal tersebut melatar belakangi menjual beras ke tetangga sekitar dengan harga sedikit lebih murah dari pengepul beras atau harga di penggilingan padi.

Rokim mengatakan  warga sekitar juga sangat resah dengan adanya wabah tikus yang menyerang di daerahnya, hampir semua tanaman padi milik warga terkena  dampaknya.

Senada juga di sampaikan Endar warga desa sumber agung yang mengungkapkan bahwa kenaikan beras juga di alami di desanya.

“Kebetulan warga di sini sangat mengedepankan gotong -royong, jadi kalau ada warga yang kehabisan beras warga yang stok berasnya masih banyak berusaha untuk meminjaminya, dengan catatan kalau sudah panen di kembalikan sesuai dengan yang dipinjamnya,” ungkap Endar.

Endar dan warga lainnya berharap ada perhatian dari pemerintah daerah maupun pusat dalam waktu dekat ini untuk memperhatikan kondisi petani dalam mengantisipasi  gagal panen.

Menurut endar pekerjaan petani mulia kalau tidak ada petani pemerintah mau makan apa. Karena itu pihaknya meminta memperhatikan petani. Disamping memberikan bibit padi yang bermutu juga bisa memberikan pupuk yang murah bagi petani.

“Kalau hasil panen kita tidak bisa maksimal dampaknya juga akan mengganggu di sektor ekonomi yang lain,”  pungkasnya. ard

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.