JOMBANG | duta.co – Banjir kembali melanda Jombang dan sudah menjadi agenda rutin untuk tiga kecamatan setiap tahunnya. Namun, banjir kali ini tidak separah pada tahun sebelumnya walaupun tingginya mencapai 1,5 meter.

Anton Setiawan, warga Kademangan, Kecamatan Mojoagung, mengatakan, hujan yang turun pada pukul 2 dini hari, Selasa malam, membuat luapan air tidak bisa ditampung sungai. Air mulai masuk ke rumah-rumah warga sekira pukul 05.00 WIB.

“Air bertambah tinggi hingga pukul 08.00 WIB pagi tadi,” ujarnya, Selasa (9/4/2019). Bahkan ketinggian air mencapai dada orang dewasa.

“Tadi selepas subuh air mulai naik dan terus sampai sekarang. Ini sudah biasa, rutin tiap tahun,” imbuhnya.

Dikatakan, banjir ini tidak membuat warga setempat mengungsi. Bagi warga Kebondalem, banjir seakan sudah menjadi tradisi setiap tahun saat musim hujan tiba.

“hujan. Kalau banjirnya siang seperti ini, tidak ada yang mengungsi, karena sudah biasa dan paling sebentar saja surut,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Jombang, Abdul Wahab menyebutkan, dari data yang dihimpun, ada 5 desa di tiga kecamatan yang diterjang banjir kali ini. Kendati genangan air di dua desa lainnya sudah surut.

“Ada lima desa yang kena banjir, di tiga kecamatan yakni Mojowarno, Mojoagung dan Sumobito. Tapi yang paling parah di Kebondalem sama Betek. Sedangkan di Mojowarno sudah surut,” terangnya.

Menurutnya, banjir disebabkan karena hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Bareng dan Kandangan Malang membuat debit air sungai Gunting dan Pancir meluap.

“Selain itu ada barongan (tanaman bambu) yang nyangkut di pintu air, sehingga menyebabkan penyumbatan. Kita sedang berusaha ke sana untuk membongkar barongan yang menyumbat pintu air itu,” pungkasnya. (bi)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.