GUBES : Prof. Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, dr., Sp.KK(K) (kiri) saat dinobatkan sebagai guru besar Universitas Airlangga (Unair) Sabtu (26/1). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Universitas Airlangga kembali mengukuhkan tiga guru besar baru. Kegiatan pengukuhan guru besar baru tersebut dilangsungkan di Aula Garuda Mukti pada Sabtu (26/1).

Ketiga guru besar tersebut berasal dari tiga bidang keilmuan yang berbeda. Salah satunya Prof. Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, dr., Sp.KK(K), dokter spesialis kulit dan kelamin.

Dalam orasinya di hadapan Rektor Unair, Prof. Mohammad Nasih dan para undangan, Prof Cita menyampaikan karya berjudul Kusta Melawan Kesejahteraan, Menantang Ilmuan (Menuju Penghentian Transmisi M.Leprae dengan Kolaborasi Lintas Sektor dalam Academic Health System Melalui Penjegahan Dini Disregulasi Ilmunitas.

“Kusta merupakan penyakit sepanjang sejarah peradaban manusia, namun sampai saat ini transmisi penyakit tersebut belum bisa dihentikan. Hal itu terbukti dari masih stabilnya kasus baru, kasus kusta anak, dan kasus kecacatan,” ujar Prof Cita.

Penyakit ini bukan hanya masalah fisik namun juga masalah sosial dan ekonomi dengan adanya lingkaran setan kecacatan stigma diskriminasi kemiskinan penderitaan dan perburukan kecacatan, bisa dikatakan kusta melawan kesejahteraan manusia.

Banyak riset telah dilakukan dan kemajuan pesat pada bidang imunologi dan mikrobiologi namun masih belum berhasil memutus rantai transmisi, maka kusta juga dapat dikatakan menantang ilmuwan.

“Kusta pada anak terjadi karena disregulasi sistem kekebalan yang berkelanjutan.  Berbagai faktor yang berpengaruh pada disregulasi kekebalan adalah infeksi, stress, trauma, merokok , imunisasi, nutrisi dan sebagainya,” jelasnya.

Jadi sesungguhnya disregulasi ini bisa dicegah, namun, karena stigma dan diskriminasi maka penderita kusta tidak tersentuh layanan kesehatan sehingga  terdapat lingkaran setan yang saling terkait.

Lingkaran setan itu antara kecacatan – stigma – diskriminasi – kemiskinan – perburukan kecacatan dan stigma – penghindaran layanan kesehtan – disregulasi kekebalan berkepanjangan.

Riset banyak dilakukan namun transmisi belum berhasil diputus. Adakah strategi yang diabaikan? Ternyata riset ilmuwan terutama mengeksplorasi aspek kuratif dan diagnostik dan kurang memperhatikan promotif, preventif dan rehabilitatif.

Padahal aspek promotif dan preventif inilah yang berpotensi tinggi dalam menghentikan transmisi kusta melalui pencegahan dini disregulasi kekebalan terutama di daerah endemis kusta.

fMelalui kolaborasi lintas sektor AHS sinergi antara universitas, RSP dengan berbagai penyedia layanan kesehatan dapat dilakukan. Kelemahan Puskesmas (inovasi program) diatasi dengan kolaborasi bersama Universitas.

Kelemahan Universitas (menjangkau daerah endemis) diatasi dengan kolaborasi bersama Puskesmas dan Pemda. Kelemahan Puskesmas dan Universitas (ketersediaan dokter ahli dan riset kusta) diatasi dengan kolaborasi bersama Rumah Sakit.

AHS dapat memfasilitasi hambatan birokratis dengan menginisiasi perjanjian kerjasama antar institusi pemerintah daerah, institusi pendidikan, dan institusi pelayanan kesehatan.

Agar sistem pelayanan kesehatan menggunakan sistem rujukan berjenjang tidak menyulitkan program pemberantasan kusta.

Puskesmas dikembangkan jadi pusat kegiatan promotif-preventif kusta serta memiliki standar minimum layanan kusta nasional.

Hal yang menarik disini adalah konsep solusi terbaik untuk masalah kesehatan tidak selalu berasal dari pemikiran negara maju.

Namun bisa presisi menyelesaikan masalah sebagai contoh pada penyakit kusta, yaitu dilakukan upaya penghentian transmisi kusta dengan kolaborasi lintas sektor AHS melalui pencegahan disregulasi kekebalan.

Rektor Unair Prof. Nasih menyampaikan guru besar merupakan sebuah amanah. Bukan sekadar gelar tertinggi dalam dunia pendidikan. Ini adalah tugas yang berat. Karena guru merupakan sebagai profesi yang harus bisa memberikan keteladanan.

“Sebagai seroang cendekiawan, guru besar harus bisa memberikan sumbangsih yang nyaa dalam kehidupan manusia. Jangan menjadi menara gading yang sibuk dengan urusan sendiri. Ini sudah saatnya menjadi insan cendekia yang harus menebar manfaat ke seluruh penjuru bumi,” ungkapnya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.