Penyuluhantentang gizi seimbang bagi remaja masjid Al Muhajirin Bonteng, Menganti Gresik. DUTA/ist

Dosen dan mahasiswa Program Studi S1 Gizi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) memberikan pencerahan tentang gizi bagi remaja masjid Al Muhajirin Bonteng, Menganti Gresik.

Ini dilakukan agar para remaja paham tentang pemenuhan gizi seimbang di masa pertumbuhan sehingga tidak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan untuk tumbuh kembangnya.

—-

Tiga dosen Unusa, Farah Nuriannisa, SGz, MPH dan Rizki Nurmalya, SGz, MKes (S1 Gizi,Fakultas Kesehatan) serta dr Wiwik Winaringsih, MARS (S1 Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran) dibantu tiga mahasiswa memberikan pencerahan masalah gizi itu. Kupas tuntas masalah gizi itu dilakukan di Masjid Al Muhajirin, Bonteng, Menganti, Gresik, Minggu (29/8/2021) lalu.

Ini dilakukan karena  remaja  merupakan kelompok usia yang rawan mengalami masalah gizi. Apakah itu masalah gizimakro seperti overweight dan underweight, maupun masalah gizi mikro sepertianemia.

Adanya masalah gizi tersebut kata Ketua Tim Pengabdian Masyatakat, Farah Nuriannisa tentu bisa menyebabkan berbagai macam masalah. Di antaranya menurunnya konsentrasi saat belajar atau bekerja, menurunnya kemampuan tubuh untuk beraktivitas danmeningkatnya berbagai risiko penyakit di masa mendatang.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

“Salah satu cara untuk mencegah masalah gizi pada remaja adalah dengan melakukan edukasi gizi, sehingga pengetahuan dan sikap terhadap gizi pada remaja akan meningkat,” ujarnya.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan sebelumnya dengan pengurus Remas Al-Muhajirin, Boteng, Menganti, Gresik, belum ada edukasiterkait gizi yang dilaksanakan, terutama untuk remaja, di wilayah tersebut.

Pengukuran tinggi badan para remaja masjid diimbagi dengan menimbang berat badan. DUTA/ist

Karena itu, beberapa staf pengajar dan mahasiswa dari program studi S1Gizi IUnusa mengadakan kegiatan edukasi gizi bagi para remaja itu.

Dikatakan Farah metode edukasi pada remaja dilakukan semenarik mungkin dan interaktif. Sehingga dapat menarik minat remaja dan dapat berdampak pada peningkatan pengetahuan dan perbaikan pola konsumsi pada remaja.

Kegiatan edukasi tersebut menggunakan metode permainan atau kuis mitos atau fakta dengan melibatkan 30 orang peserta.

“Peserta diberikan beberapapernyataan terkait gizi pada remaja, kemudian mereka diminta menilai pernyataantersebut, apakah termasuk mitos atau fakta. Setelah itu, kami kupas dan bahas setiap pernyataan tersebut,” ujar Farah.

Menurut Farah, banyak peserta masihsalah menilai beberapa pernyataan. “Semua peserta masih menganggap 4 Sehat 5Sempurna masih digunakan, sedangkan sebetulnya 4 Sehat 5 Sempurna sudah tidak berlaku lagi dan digantikan dengan Pedoman Gizi Seimbang. Hal ini menjelaskan pentingnya sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai adanya Pedoman Gizi Seimbang ini,” jelas Farah.

Selain Pedoman Gizi Seimbang, materi yang diberikan juga membahas mengenai pentingnya pencegahan anemia, terutama pada remaja putri, dan adanya konsep body image pada remaja.  Adanya body image atau persepsi diri negatif pada remaja dapatberdampak pada kecukupan zat gizi yang dikonsumsi.

“Remaja biasanya menilai bentuk tubuhnya kurang sesuai, tidak ideal, terlalu gemuk atau terlalu kurus, sehingga mereka malah ikut diet yang sebetulnya tidak sehat ” jelas Mitha Rachmawati, selaku mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Karena itu, edukasi remaja terkait body image dan dampaknya pada gizi penting untuk dilakukan. Selain edukasi gizi, pada akhir kegiatan, peserta juga diukur dan dihitung status gizinya.

Harapan tim pengabdian masyarakat ini, kegiatan pengukuran status gizi yang dilakukan dapat memberikan informasi obyektif mengenai status gizi dan body image, sehingga pola makan yang diterapkan pada remaja lebih sesuai dengan anjuran dalam Pedoman Gizi Seimbang.   ril/hms/end 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry