
SURABAYA | duta.co – Ya! Sampai sekarang memang belum ada kepedulian pemerintah terhadap Museum NU (Nahdlatul Ulama) yang berada di kawasan Gayungan, Surabaya, selain diajak pameran oleh Disparta (Dinas Pariwisata & Kebudayaan) Kota Surabaya maupun Pemprov Jawa Timur ke sejumlah event. Selama ini, urusan perawatan, bayar listrik dan keamaman masih dilakukan Yayasan BISMA (Bina Swadaya Masyarakat) Jawa Timur. “Kok panas ya?,” celetuk Ustadz Hajj Kyoichiro Sugimoto, PhD, begitu keluar dari Gedung Museum NU.

Prof Dr Mukhrojin langsung tersenyum. Diakui, ketika masuk gedung museum lazimnya, dingin sekali. Ini untuk menjaga agar benda-benda lebih aman. Tetapi, khusus Museum NU masih dalam kondisi pengiritan. “Dulu kapasitas listriknya 40.000 Volt Ampere (VA). Sekarang dibawah 10 ribu, untuk AC saja tidak kuat. Disamping AC-nya sudah tua, biaya rawat Museum NU juga tidak kecil ukuran kita. Ada dua AC bantuan dari Bu Risma, nyaris tidak terpakai, karena listriknya tidak kuat,” celetuk Gus Khozin panggilan akrabnya.
Semangat! Tetap semangat! Kondisi itu tidak nengendorkan nyali pengelola Museum NU. Saat itu, memang, terlihat lelaki yang akrab dipanggil Sensie Sugimoto tersebut, mengipaskan tangannya sembari menyaksikan artefak (benda atau objek buatan manusia dari masa lampau yang ditemukan melalui penggalian arkeologi, serta memiliki nilai sejarah, budaya, atau arkeologi) peninggalkan Kiai NU. Ada yang berupa kitab kuning, buku atau foto-foto dokumenter, keris, baju (jas) Mbah Wahab, serta benda-benda berupa batu yang diyakini memiliki kekuatan luniwih dari Allah SWT. “Ini (dulu) adalah senjata para kiai untuk mengusir penjajah. Ini (telor geledek) dari Ibu Risma (Tri Rismaharini Menteri Sosial Republik Indonesia (2020–2024) dan mantan Wali Kota Surabaya dua periode (2010–2020),” demikian Faris kepada Sensie Sugimoto.

Ustadz Hajj Kyoichiro Sugimoto mengapresiasi semangat pengelola Museum NU dalam mematri peninggalan para kiai NU. Apalagi itu memiliki kontribusi yang tidak kecil dalam menjaga keutuhan bangsa. “Kalau di Jepang, museum seperti ini didanai pemerintah,” tegasnya.
Ia juga bertanya tentang kiprah politik kiai-kiai NU di pemerintahan. Apakah NU memiliki Parpol tertentu? Begitu Ustadz Hajj Kyoichiro Sugimoto. Atas pertanyaan ini, Mokhammad Kaiyis Pemred duta.co menegaskan, bahwa, NU secara struktural membebaskan warganya dalam memilih Partai Politik. “Tetapi, NU juga menfasilitasi warganya yang ingin berkumpul dalam Parpol tertentu. Mungkin semua orang mafhum, bahwa, NU pernah resmi bergabung dengan PPP, NU pernah menjadi Parpol sendiri, dan NU pernah melahirkan PKB,” tegas Kaiyis.
Karena itu, tambahnya, kini terdengar jargon ‘warga NU tidak ke mana-mana tetapi ada di mana-mana’. Ada yang ikut PKB, PPP, PDIP, Gerindra bahkan PAN dan PKS. “Hari ini banyak warga NU yang mendapat tawaran untuk bergabung dengan PSI (Partai Solidaritas Indonesia), partainya Kaesang (putra Jokowi). Sah-sah saja, boleh-boleh saja, asal tidak atas nama jamiyah NU,” jelasnya.

Dakwah di Riau
Jadwal dakwah Ustadz Hajj Kyoichiro Sugimoto, memang padat. Bersama ‘Dompet Dhuafa Riau’ ia menggelar Safari Dakwah bertajuk “Geliat Hidayah Islam di Negeri Sakura” di sejumlah lokasi di Kota Pekanbaru pada Jumat (10/7/2026) kemarin. Kegiatan ini menghadirkan dua tokoh dakwah internasional. Selain Ustaz Dr. Kyoichiro Sugimoto, PhD, ada Ustadz Dr. H. Ach Firman Wahyudi, S.E., M.Sc., AWPS., CSFT, Executive Director Dompet Dhuafa Japan. Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Riau, Hendi Mardika, mengatakan kegiatan ini menjadi kesempatan langka bagi masyarakat Riau untuk mengenal lebih dekat perkembangan dakwah Islam di Jepang, sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah lintas negara.
“Kehadiran Ustaz Dr. Kyoichiro Sugimoto dan Ustadz Dr. Ach Firman Wahyudi di Pekanbaru merupakan momentum berharga bagi masyarakat Riau. Kita dapat mendengarkan langsung bagaimana geliat hidayah dan tantangan saudara-saudara Muslim kita bertahan serta berkembang di tengah masyarakat minoritas di Jepang. Ini bukan sekadar kajian biasa, melainkan sebuah panggilan kepedulian,” ujar Hendi Mardika.
Selain menjadi ajang syiar Islam dan memperluas wawasan tentang perkembangan Islam di dunia, Safari Dakwah juga mengusung misi kemanusiaan. Seluruh infak dan wakaf yang dihimpun selama kegiatan akan disalurkan untuk pembangunan Masjid Al-Muttaqin Islamic Center di Matsudo, Chiba, Jepang.
Masjid tersebut diharapkan menjadi pusat ibadah, pembinaan, dan penguatan komunitas Muslim di Jepang yang terus berkembang di tengah masyarakat minoritas. Safari Dakwah berlangsung dalam empat sesi di lokasi berbeda. Kegiatan diawali usai Subuh di Masjid Nurul Huda, Jalan Ronggo Warsito, kemudian dilanjutkan pukul 08.00 WIB di Aula Masjid Raya Ar-Rahman, Jalan Jenderal Sudirman. Siang hari, Ustadz Dr. H. Ach Firman Wahyudi menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Al-Falah Darul Muttaqin, Jalan Sumatera. Sementara sesi penutup digelar pukul 16.00 WIB di Masjid Baiturrahim BRK Syariah, Jalan Jenderal Sudirman, dengan menghadirkan kembali Ustadz Dr. Kyoichiro Sugimoto. (net)





































