Gus Fahmi saat mengisi pengajian.

JOMBANG | duta.co – Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, puasa adalah latihan menjaga hati dan mengendalikan ucapan agar ibadah tidak kehilangan maknanya.

Pesan tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Putri Tebuireng sekaligus Ketua PCNU Jombang, KH. Fahmi Amrullah Hadzik, dalam tausiah Ramadan di Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Dalam ceramahnya, Gus Fahmi, sapaan akrabnya, menyampaikan kisah hikmah tentang Lukman Al Hakim, sosok yang dikenal karena kebijaksanaannya.

Dikisahkan, suatu ketika majikan Lukman memerintahkannya menyembelih kambing dan membawa bagian tubuh yang paling baik. Lukman kemudian menyerahkan hati dan lidah kambing kepada tuannya.

Pada hari berikutnya, sang majikan kembali memberi perintah serupa, tetapi kali ini meminta bagian tubuh yang paling buruk. Menariknya, Lukman kembali membawa hati dan lidah. Hal itu membuat majikannya heran dan mempertanyakan alasannya.

Lukman pun menjelaskan bahwa hati dan lidah dapat menjadi bagian terbaik jika keduanya digunakan dengan baik. Namun sebaliknya, keduanya juga bisa menjadi bagian paling buruk apabila digunakan untuk hal yang salah.

Dari kisah tersebut, Gus Fahmi menekankan bahwa hati dan lisan memiliki peran besar dalam menentukan kualitas ibadah seseorang, termasuk saat menjalankan puasa Ramadan.

Ia kemudian mengutip sabda Nabi Muhammad SAW bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang menjadi penentu baik buruknya seluruh anggota tubuh, yaitu hati.

“Jika hati dalam keadaan baik, maka seluruh perilaku manusia akan baik. Namun jika hati rusak, maka seluruh perilaku pun ikut rusak,” ujarnya.

Selain hati, Gus Fahmi juga mengingatkan pentingnya menjaga lisan. Menurutnya, keselamatan seseorang sering kali bergantung pada kemampuannya menahan ucapan.

“Karena itu, umat Islam dianjurkan berkata baik atau lebih baik diam jika tidak mampu menjaga perkataan,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan perbedaan antara hal yang membatalkan puasa dengan hal yang dapat menghilangkan pahala puasa. Makan, minum, atau merokok memang membatalkan puasa secara hukum fikih. Namun ucapan buruk, hinaan, atau ghibah bisa menggerus pahala puasa, meskipun secara hukum puasanya tetap sah.

“Banyak orang berpuasa, tetapi yang didapat hanya lapar dan dahaga,” katanya mengutip hadis Nabi sebagai peringatan bagi umat Islam.

Di akhir tausiahnya, Gus Fahmi mengingatkan bahwa luka akibat ucapan sering kali lebih dalam daripada luka fisik. Kata-kata yang terlanjur keluar sulit ditarik kembali, apalagi jika telah melukai hati orang lain.

Karena itu, Ramadan seharusnya menjadi ruang latihan untuk membersihkan hati dari prasangka buruk dan menahan lisan dari perkataan yang menyakiti.

“Puasa sejatinya bukan hanya menahan apa yang masuk ke dalam mulut, tetapi juga menjaga apa yang keluar darinya. Di situlah letak kemuliaan puasa yang sesungguhnya,” pungkasnya. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry