PONTIANAK | duta.co – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama mengutarakan pentingnya mengarustutamakan Moderasi Beragama sebagai upaya strategis dalam Penguatan Ideologi dalamKehidupan Beragama.

Hal ini diungkapkan dalam acara Dialog Kebangsaan Pembumian Pancasila yang diselenggarakan oleh bidang ideologi wawasan kebangsaan dan karakter bangsa Kesbangpol Provinsi Kalimantan Barat, Rabu 18/5 pagi bertempat di Hotel Golden Tulip Pontianak.

Kegiatan ini diinisiasi bidang ideologi wawasan kebangsaan dan karakter bangsa Kesbangpol Prov Kalbar, Agus Satrio Leksono

Hadir dalam kegiatan Tersebut Hermanus, Kepala Kesbangpol Kalbar, Prof. Dr. Chairil Efendy., MS ketua FKDM Kalbar serta Rihat N. S., SE, M. Si Ketua FPK Kalbar.

Menurutnya Moderasi bergama merupakan Cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama – yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan umum – berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.

Moderasi Beragama dalam kehidupan masyarakat Indonesia dapat terlihat dari tingginya empat indikator utama berikut:

Pertama, Komitmen kebangsaan dimana masyarakat memiliki komitmen serta penerimaan terhadap prinsip-prinsip berbangsa yang tertuang dalam konstitusi: UUD 1945 dan regulasi di bawahnya

Kedua, Toleransi yakni menghormati perbedaan dan memberi ruang orang lain untuk berkeyakinan, mengekspresikan keyakinannya, dan menyampaikan pendapat. Menghargai kesetaraan dan sedia bekerjasama.

Ketiga, Anti kekerasan yakni menolak tindakan seseorang atau kelompok tertentu yang menggunakan cara-cara kekerasan, baik secara fisik maupun verbal, dalam mengusung perubahan yang diinginkan.

Keempat, Penerimaan terhadap tradisi yakni memiliki sifat dan sikap ramah dalam penerimaan tradisi dan budaya lokal dalam perilaku keagamaannya, sejauh tidak bertentangan dengan pokok ajaran agama.

Ia juga menyampaikan bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa menjadi titik temu di tengah-tengah masyarakat yang berbeda etnis dan agama.

“Pancasila sebagai kristalisasi nilai-nilai agama khususnya Islam dan sekaligus sebagai jalan tengah (washatiyah), karena menolak ekstrimisme, kapitalisme, sosialisme dalam ekonomi, termasuk politik.” Ujarnya yang juga merupakan Direktur Pascasarjana IAIN Pontianak ini.

Senada dengan itu, Hermanus selaku Kepala Kesbangpol menyampaikan bahwa memahami ancasila dibangun dari kemajemukan masyarakat Indonesia. Kemajemukan satu sisi positif namun satu sisi jika tidak dikelola dengan baik berpotensi memunculkan potensi perpisahan.

Ia mengajak generasi muda perlu terus menambah pemahaman akan nilai-nilai Pancasila yang terdiri dari nilai ketuhanan,kemanusuaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan sosial.

Demikian pula hal senada disampaikan oleh Prof. Dr. Chairil Efendy., MS ketua FKDM Kalbar, Menurutnya, generasi muda harus mampu hidup dengan perubahan, namun bertanggung jawab dan berkeadaban. Pacasila sebagai ideologi nasionalistik berada di ujung tanduk. Maka generasi muda wajib merawat, menggelorakan ideologi Pancasila sbg way of life.

Rihat Nasir selaku Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Kalbar menyatakan bahwa Kekuatan bangsa Indonesia hari ini ada ditangan pemuda, Oleh akrena itu, para pemuda harus mampu menunjukan wajah bangsa serta mampu menghadapai tantangan utamanya radikalisme dan separatisme karena disinilah letak peran pemuda sebagai penjaga ideologi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (rls)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry