BERJEMUR : Rutinitas harian Rachmad K.Dwi Susilo berjemur untuk mendapatkan asupan vitamin D sekaligus menyegarkan badan. (dok/duta.co)

Catatan dan Pengalaman Rachmad K. Dwi Susilo, Dosen Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.

Pertengahan Juli lalu saya sekeluarga terpapar virus Covid 19, dan dengan kuasa Gusti Allah SWT kami sembuh dan dengan bangga saya sebut sebagai alumni  covid-19 predikat cumlaude. Siang itu 8 Juli 2021 saya ke IGD di Persada Hospital, dan dinyatakan positif setelah beberapa hari sebelumnya demam dan meriang. Peristiwa ini membuat saya stress dan tertekan karena saat itu begitu banyak berita duka bersebaran di  grup-grup WA, juga kabar kematian dari pengeras suara di kampung yang tidak henti menyiarkan kabar duka. Selain itu, suara ambulan meraung-raung hampir tiap hari sayup-sayup terdengar dari rumah saya.

Saya sungguh tidak menyangka bisa terpapar virus ini,  mengingat pekerjaan saya di kampus kebanyakan dikerjakan secara  daring. Saya juga termasuk orang yang rajin memakai masker dan cuci tangan.  Tapi, Minggu pagi itu, 4 Juli 2021, tiba-tiba badan meriang. Panas tidak turun-turun dan seharian hanya bisa rebahan.  Saya menduga ini hanya flu biasa, cukup diatasi hanya minum paracetamol.

Tetapi, selama lima hari demam tidak bisa juga turun. Tidak tahan dengan kondisi ini saya menerima saran istri dan anak untuk segera tes  PCR di Rumah Sakit. Setelah diambil sampel di Ruang IGD dan menunggu sekitar 20 menit, pengumuman keluar. Mak nyes tidak karuan,   saat dokter menyatakan saya positif Covid-19 . Kondisi  yang sejatinya lama  saya khawatirkan, akhirnya benar-benar menimpa saya. Apalagi saya menyadari, punya penyakit bawaan (komorbid) diabetes, makin kalutlah pikiran ini.

Saya membayangkan bahwa hari-hari ke depan  pasti akan tidak menyenangkan. Kabar media bahwa rumah sakit penuh, menyiutkan nyali. Awalnya saya bermaksud isolasi mandiri di rumah. Tetapi, membayangkan komorbid, pada hari itu juga, saya dan istri berburu obat dan rumah sakit. Seperti bisa ditebak, semua rumah sakit dijawab penuh. Bahkan beberapa resep obat dari dokter banyak yang kosong di apotek. Apalagi saat yang bersamaan, anak dan istri saya juga positif Covid-19, tapi alhamdulillah, hanya cukup isolasi mandiri di rumah.

Usaha mencari rumah sakit menjadi drama tersendiri. Berbekal searching di google, istri terus berusaha mencarikan rumah sakit. Hingga akhirnya terhubung ke info tentang Rumah Sakit Lapangan Idjen Boulevard (RSL Idjen) dan semua proses informasi pendaftaran dilakukan lewat WA. Ahamdulillah, tanpa menunggu lama (karena tetangga saya antre empat hari untuk mendapat ruangan di RSL Idjen), Jumat  9 Juli 2021, RSL Idjen menerima saya. Saya tinggal di kamar yang dihuni lima pasien. Makanan tersedia full, tetapi semua tidak bisa saya nikmati mengingat saya diabet, sedangkan makanan yang disediakan tidak pro diabet. Jadi selama saya di RSL Idjen, istri saya mengantar nasi merah setiap hari. Selain itu, di rumah sakit ini semua aktivitas pasien dilakukan secara mandiri. Seperti tensi tekanan darah, menuliskan keluhan di buku, ukur saturasi oksigen dll.

Satu hal yang membuat saya tidak habis pikir dan akhirnya belakangan saya baru menyadari, bahwa RSL Idjen ini ternyata memang tempat isolasi pasien positif Covid-19 dengan gejala ringan dan tanpa gejala. Karena setiap hari hampir semua pasien melakukan kegiatan normal layaknya orang sehat. Seperti bekerja di depan laptop, menonton TV, senam, olah raga dan kegiatan orang normal sehat lainnya. Bedanya mereka di karantina di RSL Idjen. Dan mereka kok tidak lemas dan batuk-batuk seperti saya?  Saya agak merasa konyol melihat kondisi ini.

Sementara kondisi saya dari hari ke hari tidak kunjung membaik. Lalu hari ketiga saya mengisi laporan harian dan tanpa berfikir panjang saya tulis “pusing”. Tidak disangka, dokter sigap menanggapi, kemudian saya diperiksa total. Hasilnya, saturasi, tensi dan gula darah bermasalah. Barulah dokter tahu, saya pasien bergejala berat. Sedangkan RSL Idjen bukan rumah sakit untuk menangani pasien bergejala ‘serius’ seperti saya.

Akhirnya, saat itu juga tim dokter mengupayakan kepindahan saya ke RS lain yang punya alat-alat penunjang permanen. Itu pun dengan catatan, kalau ada rumah sakit yang bisa menerima karena dimana-mana memang penuh.  Hingga akhirnya, saya berhasil mendapatkan RS di UMM (Universitas Muhammadiyah Malang). Kepindahan saya ini sejatinya tidak hanya karena rekomendasi dokter, tetapi berkat upaya kolega-kolega dan tim Satgas Covid-19 UMM yang mengondisikan RS UMM siap menerima saya.

Masuk Rumah Sakit UMM

12 Juli 2021 malam saya pindah  ke RS UMM ditemani seorang perawat menggunakan ambulan yang dilengkapi infus dan alat bantu pernafasan. Begitu sampai di IGD RS UMM, seingat saya langsung disuntik dan langsung tertidur sampai pagi. Sekalipun masih positif, rasa-rasanya tidur ini yang paling berkualitas. Bangun pagi dengan badan lebih segar lalu dipindah ke Ruang Isolasi Amanda.

Di ruang inilah, saya mendapat perawatan intensif. Jam 05.00 pagi dicek gula darah dan tensi. Kemudian, jam 07.00 sarapan pagi dan setelah itu disuntik dan minum sekitar enam jenis obat-obatan. Setelah makan siang dokter datang dan menanyakan keadaan. Suntikan kedua dilakukan jam 15.00. Menjelang maghrib, saya meminum obat-obatan dan jam 00.00 malam menjelang tidur, mendapat suntikan yang ketiga.

Minum begitu banyak, menyimpan rasa kekhawatiran tersendiri di benak saya. Yakni apakah akan ada efek samping ? Apalagi jika mengetahui info bahwa pasien komorbid Covid-19, rata-rata meninggal, makin gelisah hati saya. Cek saturasi, gula darah dan tensi rutin di RS pengalaman yang menyedihkan.  Pada saat mengetahui angka tensi tekanan darah selalu di atas 200 dan gula darah juga di atas 200 pikiran langsung stress. Bayangan virus Covid-19 bekerja sama dengan gula darah menggerogoti tubuh, dan berujung kematian selalu membayangi saya. Alat bantu pernafasan dan infus yang harus selalu terpasang. Ketika tidak kuat dengan alat pernafasan, saya sering menyopot. Dan begitu perawat melihat, saya diomelin dan tidak ada pilihan kecuali dipakai lagi.

Hati saya sedikit terhibur, saat banyak kolega, mahasiswa, alumni dan kawan-kawan kuliah mendoakan untuk kesembuhan saya. Beberapa teman yang telah mengetahui saya memiliki penyakit bawaan mencemaskan dan berkirim WA. Jika beberapa hari saya tidak menjawab WA mereka, mereka cemas, dan ketika tiba-tiba  saya menjawab WA, dia terkejut, gembira dan mengucap syukur berkali-kali. Pikiran buruknya mengira penyakit saya semakin parah.

Pengalaman dirawat di rumah sakit benar-benar mendebarkan. Sesekali di hening malam, terdengar suara perawat yang berlarian ke kamar pasien pas di depan ruang rawat kami. Kemudian, terdengar keluarga pasien yang menangis. Mendengar ini, pikiran negatif saya menjadi-jadi, ada apakah gerangan yang di sana? Penyakit pasien yang semakin parah? atau ada pasien yang meninggal?

Saya tidak memiliki gambaran kapan sembuh, kecuali menerima dan menjalani rutinitas dan selalu berdoa pada Allah SWT.  Allahlah, Tuhan seru sekalian alam dan sebaik-baik pembuat skenario. Namun, dalam perawatan hari ke 12, pagi itu seorang perawat mengambil sampel untuk tes PCR. Hasil PCR akan diberitahukan satu hari setelah pengambilan sampel. Menunggu hasil PCS meninggalkan kesan tersendiri. Bayangan tidak mengenakkan,  jika hasil tes masih positif. Berapa lama lagi akan berbaring di RS? Sekali lagi resiko komorbid benar-benar menguatirkan saya.

Alhamdulillah, 25 Juli  perawat mengirim pesan melalui wa yang menyatakan bahwa  hasil tes PCR negatif. Lega sekali rasanya virus ganas ini sudah pergi. Lega berikutnya, 26 Juli  saya diperbolehkan pulang. Awalnya, dokter sempat menyarankan agar  saya dirawat sebagai pasien non Covid-19. Tetapi, tidak di sangka malahan saya diperbolehkan pulang.

Sebenarnya, keputusan untuk perawatan di rumah  tidak sepenuhnya saya sambut dengan suka cita. Karena saat itu saturasi oksigen belum stabil, angka gula darah dan tensi masih tinggi. Belum lagi, satu hari setelah negatif, tiba-tiba kaki kiri mulai kaku dan bengkak, sangat sakit apabila digerakkan, akibatnya saya tidak boleh banyak bergerak.

Pulang dari Rumah Sakit

Pulang ke rumah tidak otomatis saya langsung sehat dan bugar. Masih ada penyakit bawaan yaitu diabetes dan tensi tinggi yang harus diatasi. 26 Juli 2021, saya bersiap-siap pulang. Istri menjemput saya dan pukul 11.00 dengan kursi roda, saya keluar dari ruang Isolasi Amanda dengan diantar seorang perawat. Saya benar-benar tahu siang malam, betapa berat pekerjaan perawat ini. Maka, sebelum saya masuk mobil, saya katakan pada perawat tadi. “Mas, engkau akan masuk surga”. Perawat tersenyum sambil mengucapkan “aamiiin”.  Kalimat ini terucap dengan air mata haru yang perlahan menetes.

Dengan kondisi batuk-batuk, badan lemas, gula darah dan tensi belum sepenuhnya terkontrol saya pulang dengan dibekali obat-obatan, diantaranya: spirolakton 25 mg, vasartan 80 mg, ostigard, become C, solvinex, velacom plus dan obat suntik insulin novorapaid dan levemir. Senang bertemu anak istri yang sudah berpisah selama 13 hari. Senang pula tidak harus menghadapi suntikan perawat lagi yang kadang-kadang saya teriak kesakitan. Tetapi sedihnya,  masih ada  kekhawatiran jika komorbid tidak bisa diatasi. Untuk itu, mengontrol gula darah dan tensi tinggi menjadi agenda penyembuhan di rumah. Untuk memonitornya, kami membeli alat pengukur tensi dan pengecek gula darah sesaat. Setiap hari istri selalu mengecek kondisi gula darah dan tensi tersebut. Selain itu setiap pagi, saya harus berjemur di depan rumah dan senam kecil-kecilan di tempat tidur.

Pergelangan jari-jari di kaki kiri bengkak dan sangat sakit digerakkan. Kami berkonsultasi dengan dokter RS UMM melalu layanan video call. Pandangan dokter, sakit di kaki merupakan efek kaki lama tidak bergerak. Untuk menyembuhkan, cukup minum air putih sebanyak-banyaknya. Sekalipun anjuran itu sudah diikuti, kian hari kaki ini  tidak membaik. Bahkan, pada malam hari, kaki selalu nyeri. Sakit sekali sampai semalam  saya tidak tidur.

Istri berusaha mencari informasi ke teman-temannya yang berprofesi dokter. Selain itu, istri membuat tulisan di facebook mengisahkan penyakit saya dan ternyata, ada salah seorang   berkomentar bahwa sebaiknya pasien pasca Covid-19 melakukan pengecekan kekentalan darah sebab dikuatirkan bengkak di kaki menandakan D-dimer tinggi. Waduh, sekali lagi, kondisi pasca Covid-19 masih membutuhkan penanganan serius. Berbagai informasi dari kawan dan media menyatakan, D-dimer juga penyakit pasca Covid-19 yang membahayakan. Tidak sedikit pasien yang menemui ajal.

Untuk mengobati kecemasan ini, kami mengecek D-dimer ke laboratorium.  Ternyata angka 2,18 ug/ml dengan kisaran normal 0,0 sampai 1,35. Kami berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam. Dokter menyatakan bahwa kaki bengkak tidak terkait D-dimer, ia merupakan  efek dari penyakit diabetes, maka disembuhkan dengan minum mekobalamin dan gabapentin. Terkait D-dimer  dokter tidak menguatirkan angka D-dimer kami, maka saya tidak ambil pusing angka ini.

Tiba-tiba sore itu. Kolega saya,  dosen Sosiologi UNESA,  menanyakan kesehatan saya.  Begitu tahu saya beritahu  hasil lab D-dimer, ia benar-benar kuatir. Ia meminta saya berdiskusi dengan saudaranya yang barusan kena D-dimer tinggi di Jakarta. Kami pun berdiskusi dengan saudara tersebut dan saya masih menganggap enteng D-dimer ini.  Berkali-kali, kolega dosen tersebut tilpon dan dengan nada terkesan memaksa, meminta saya minum obat yang bernama xarelto.

Demi mendapat opini lain, konsultasi dengan dokter-dokter lain kami lakukan secara informal. Semua dokter menyatakan bahwa angka D-dimer saya tinggi. Karena itu, harus minum Xarelto.. Akhirnya, saya minum Xarelto 15 mg untuk 10 hari. Setelah xarelto habis, uji laboratorium lagi, ternyata angka D-dimer menunjukkan angka belum aman yaitu 1.15 mg/L dengan rujukan ideal di bawah 0,5.  Kami konsultasi dokter yang kesekian kalinya. Dokter menyimpulkan D-dimer saya belum aman, maka ia menambah dosis xarelto sebesar  20 mg untuk 20 hari. Tentunya, obat penurun tekanan darah, obat gula darah dan obat asam urat tetap dikonsumsi rutin.

Kali ini dokter mempertimbangkan penyakit-penyakit pasca Covid-19 yang lain. Kondisi jantung menjadi perhatian dokter. Dugaan sementara,  saya mengindap coroner. Maka selain diberikan xarelto, obat asam urat, obat penstabil gula darah, penurun  tensi, saya juga meminum obat-obatan terkait jantung.

Konsultasi dokter setelah obat habis merupakan langkah rutin berikutnya. Dan, dokter menyarankan pengecekan gula darah, asam urat dan tentunya, jantung agar dilakukan di laboratorium. Alhamdulillah, hasil tes laboratorium menyatakan D-dimer, kondisi gula, tensi dan asam urat teratasi. Setelah kondisi kian membaik, saya mulai terbiasa olah raga jalan kaki setiap pagi.

Sekalipun demikian, dokter membutuhkan hasil rontgen jantung, maka malam itu, 14 September 2021,  di RS Lavalette, jantung saya dirontgen dan alhamdulillah, sebagian besar kondisi normal atau tidak mengkhawatirkan.  Subhanallah, saya bersyukur, berbagai penyakit berhasil diatasi. Kekuatiran atas komplikasi penyakit komorbid baik selama Covid-19 dan atau pasca negatif Covid-19 pupus sudah. Saya benar-benar berterima kasih pada Allah SWT  atas kesempatan hidup  yang “kedua” ini. Sungguh kuasa Allah SWT di atas komorbid.

Kebahagiaanku bisa dilukiskan ketika pagi itu terjadi pertemuan yang tidak sengaja di depan penjual kue basah di Jalan Saxophone.  Prof Jabal Tarik Ibrahim, Guru Besar Sosiologi Pedesaan UMM,  menyapaku “Selamat ya lulus (Covid)”. Pertama saya tidak paham pada pertanyaan tersebut, lulus maksudnya apa? Setelah sadar, saya tersenyum sambil menjawab singkat ” Tuhan masih memberi waktu, Prof “.

Dalam perasaan tentram, tiba-tiba saya teringat  lirik lagu “Masih Ada Waktu” yang dinyayikan Ebiet G.Ade. Kita mesti bersyukur//Bahwa kita masih diberi waktu//Entah sampai kapan//Tak ada yang bakal dapat menghitung//……Sampai kapankah gerangan//Waktu yang masih tersisa //Semuanya menggeleng//Semuanya terdiam//Semuanya menjawab tak mengerti//Yang terbaik hanyalah// Segeralah bersujud mumpung kita masih diberi waktu . (*)

Express Your Reaction
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry