SURABAYA | duta.co – Provinsi Jawa Timur dinilai tak memiliki legacy (warisan) selama 10 tahun kepemimpinan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Dan itu disampaikan oleh Gus Ipul sendiri. Pernyataan Gus Ipul ini diluruskan pengamat.

“Legacy merupakan pengakuan atas sesuatu hal. Kalau ada yang bilang Jatim tak punya legacy, yo salah itu. Itu keliru. Jatim punya banyak Legacy,” ujar Pengamat Politik Universitas Airlangga(Unair) Surabaya, Suko Widodo, Jumat (4/12).

Menurutnya, legacy yang dimiliki sebuah kepemimpinan tidak harus berupa bangunan monumental. Di Jatim telah memiliki legacy besar dengan meraih penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha.

Penghargaan adalah sebuah tanda penghargaan yang diberikan kepada Provinsi/Daerah Tingkat I dan Kabupaten/Kotamadya/Daerah Tingkat II yang menunjukkan hasil karya tertinggi pelaksanaan Pembangunan Lima Tahun dalam rangka meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat.

Selain itu, lanjut Suko, keterbukaan informasi publik, pelayanan publik yang bagus, provinsi layak anak dan provinsi koperasi menjadi sebuah legacy bagi kepemimpinan di Jatim. Apalagi tidak semua daerah bisa meraih penghargaan tertinggi ini.

“Parasamya itu legacy tertinggi dalam tata pembangunan. Jadi legacy itu justru yang membuat bukan kita, tetapi orang lain yang melegalkan. Kalau dirinya sendiri yang melegalkan, ya itu lucu,” tegas pengajar Komunikasi Politik ini.

Tambahnya, masih banyak legacy lain yakni penghargaan dari kementerian dan lembaga swasta.

“Legacy itu ditetapkan pihak lain, kalau proklamasi itu pernyataan diri. Jangan disamakan dengan itu. Itu namanya narsis,”ungkapnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyatakan selama sepuluh tahun ia bersama Gubernur Jawa Timur, Soekarwo (Pakde Karwo) memimpin Jawa Timur, belum bisa mempersembahkan legacy pertanda keberhasilan yang nyata.

Sebenarnya, selama menjabat wakil gubernur, Gus Ipul pernah mengusulkan pembangunan pusat kajian Islam yang bertempat di Madura serta pembangunan pusat kebudayaan dan olahraga di Gresik. Namun hingga saat ini usulan ini tidak pernah terealisasi.

Gus Ipul lantas menyontohkan bagaimana Alex Noerdin yang mampu menghadirkan Jakabaring; serta Fadel Muhammad yang mampu membangun banyak legacy di Gorontalo dan juga Joko Widodo maupun Basuki Tjahaja Purnama selama memimpin di Jakarta.

Padahal, menurut Suko, Legacy seharus datang dari (pengakuan) orang lain, bukan dibuat sendiri. Kalau dibuat sendiri, itu namanya narsis. (zal)