
“Pada Muktamar ke-35 Agustus nanti, sayap politisi, terutama Yusuf Chudlori dan Jazilul Fawaid, adalah kartu kembar yang ditebar Cak Imin. Cak Imin juga memainkan kartu kembar dari sayap ulama: Abdussalam Shohib dan Marzuki Mustamar.”

Oleh M Sholeh Basyari
PBNU tengah menyiapkan Muktamar ke-35 Agustus tahun ini. Hal ihwal utama terkait muktamar adalah pemilihan ketua Umum PBNU. Hingga hari ini, sejumlah tokoh ancang-ancang macung sebagai nahkoda baru kaum nahdliyin. Mereka antara lain, Nusron Wahid (NW), Yusuf Chudori (MYC), Abdussalam Shohib (AS), Marzuki Mustamar (MM), Saifullah Yusuf (Sy), Yahya Cholil Tsaquf (YCT), dan Jazilul Fawaid (JF).
Nama-nama tersebut, secara representatif mewakili unsur politisi dan ulama. Sayap politisi terwakili oleh sosok: NW, MYCi, JF dan SY (?)). Selebihnya; MM, YCT, dan AS, mewakili unsur ulama. Menariknya hingga muktamar ke-35 mendatang, kita gagal mendapatkan data tentang Ketum PBNU yang ber-background akademisi murni.
Ketum incumbent YCT, tidak bergelar sarjana meski mendapat gelar doktor kehormatan (honoris causa). Kiai Said Aqil Siradj, Guru Besar UIN Jakarta, meski akademisi, tetapi publik mengenalnya sebagai kiai (Buya). Kiai Hasyim Muzadi sebelum mendapat gelar doktor kehormatan UIN Surabaya, sebelumnya “hanyalah” dosen tidak tetap UIN Malang. Gus Dur “lebih-lebih” lagi; tidak bergelar akademik apapun, kecuali setelah menjabat presiden.
Kriteria Ideal
Kriteria ideal dalam kontek kandidasi Ketum PBNU, dengan merujuk latar belakang akademik Ketum PBNU yang ada, lebih mengarah pada “kiai aktivis”. Kiai aktivis yakni jenis kiai dengan background keilmuan pesantren yang kuat dan ditopang oleh pergaulan sosial politik yang luas.
Kriteria ideal merujuk Weber adalah tipe ideal. Tipe ideal menggambarkan tentang realitas yang ada, kasunyatan. Tipe ini, tipe sehari-hari yang terjadi dan mudah ditemui. Tipe ini bukan idealitas dan identitas bikinan, yang dicari-cari atau apalagi mengada-ada, ngoyoworo.
Dengan konstruksi weberian seperti itu, kiai aktivis adalah plihan ideal Ketum PBNU muktamar di era milenium kedua ini. Pilihan ini sekaligus melegitimasi kondisi sosiokultural warga nahdliyyin yang mayoritas bekerja di sektor informal. petani, nelayan, butuh, kaum urban, TKI, unemployment atau pekerja paruh waktu.
Merujuk teori dan kondisi sosiokultural yang sama, calon Ketum PBNU tidak perlu under pressure manakala tidak memiliki gelar sarjana atau gelar akademik. Lebih-lebih jangan sampai, memaksa diri menggunakan gelar yang tidak semestinya. Misalnya menggunakan gelar Drs di tahun yang gelar tersebut telah tidak berlaku dan telah disesuaikan dengan nomenklatur lain, seperti SS, SAg, atau SPd.
Politisi Versus Ulama
Pada muktamar-muktamar sebelumnya, secara head to head rivalitas kiai-politisi jarang terjadi. Catatan tiga muktamar terakhir: Lampung (2021), Jombang (2015) serta Makassar (2010), secara backgrounatif, muktamar Makassar paling dramatis.
Sayap kiai, politisi bahkan intelektual, mendapatkan tiket untuk macung sebagai kandidat ketua umum. Said Aqil Siradj, Slamet Effendy Yusuf dan Ulil Abshar Abdalla bertarung sengit dengan pendukung militan.
Sementara pada muktamar Jombang (2015), sayap kiai tetap menjagokan incumbent Kai Said Aqil. Kandidat lain adalah Wakil Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) As’ad Said Ali dan Sholahudin Wahid. Pada muktamar ini, ketiganya memiliki cita rasa kekiaian yang kental meski beragam indentitas profesionalnya.
Pada Muktamar Lampung, intervensi penguasa nyaris sebanding dengan muktamar ke-29 di Cipasung, Tasikmalaya. Kala itu, misi untuk memenggal incumbent terjadi secara brutal. Peristiwa Cipasung terutama terkait penggantian secara paksa ketua umum, di-copy paste secara apa adanya pada muktamar di Bumi Ruwa Jurai ini.
Sementara, jelang muktamar ke-35 Agustus nanti, sayap politisi, terutama Yusuf Chudlori dan Jazilul Fawaid, adalah kartu kembar yang ditebar Cak Imin. Cak Imin juga memainkan kartu kembar dari sayap ulama: Abdussalam Shohib dan Marzuki Mustamar.
Dengan peta seperti ini, di mana Saifullah Yusuf dan Nusron Wahid? Gus Ipul hingga detik ini bertumpu pada para veteran: M Nuh dan Khofifah serta Genk Jatim.
Terakhir, posisi Nusron Wahid. NW dengan komposisi dah potensi pribadinya, besar kemungkinan sebagai kuda hitam. Potensi pribadi NW potensial didukung Golkar.
Penutup
Gus Dur telah mencontohkan tipe dan kriteria ideal ketua umum PBNU. Sejumlah pikiran Gus Dur juga relevan hingga sekarang. Pada akhirnya, kiai aktivis-lah yang ideal sebagai ketua umum PBNU di milenium kedua.(*)





































