
Oleh Bey Arifin*
NAHDLATUL Ulama selama ini dikenal sebagai organisasi Islam terbesar yang memiliki akar sosial paling kuat di tengah masyarakat. Kekuatan itu bukan semata lahir dari elite struktural di tingkat pusat, melainkan tumbuh dari denyut kehidupan ranting dan anak ranting di desa-desa. Di sanalah tradisi Aswaja dijaga, pengajian dihidupkan, budaya gotong royong dirawat, dan nilai-nilai keislaman diwariskan lintas generasi.
Karena itu, krisis kaderisasi pengurus NU di tingkat ranting sejatinya bukan persoalan kecil. Ini adalah problem serius yang dapat mengancam kekuatan grassroot jam’iyah di masa depan. Banyak ranting NU hari ini masih berjalan secara administratif, tetapi mulai kehilangan energi regenerasi. Kepengurusan sering kali didominasi tokoh-tokoh senior tanpa proses estafet kepemimpinan yang matang kepada generasi muda.
Akibatnya, organisasi tetap terlihat hidup secara simbolik, tetapi melemah dalam daya gerak dan militansi kader. Kegiatan berjalan rutin, namun tidak diiringi lahirnya kader-kader baru yang memiliki visi perjuangan, loyalitas organisasi, serta kemampuan menjawab tantangan zaman.
Padahal, ranting merupakan jantung perjuangan NU. Dari rantinglah lahir kekuatan sosial, budaya, pendidikan, dan dakwah yang selama puluhan tahun menjadi benteng Islam moderat di Indonesia. Jika ranting melemah, maka struktur di atasnya lambat laun hanya akan menjadi bangunan organisasi tanpa ruh pengabdian.
Dipengaruhi Banyak Faktor
Pertama, lemahnya sistem pembinaan kader muda di tingkat bawah. Banyak generasi muda NU aktif di media sosial, tetapi tidak terhubung secara ideologis dengan manhaj Aswaja An-Nahdliyah dan tradisi organisasi.
Kedua, sebagian pengurus belum mampu menghadirkan pola dakwah dan ruang organisasi yang sesuai dengan karakter generasi digital. Akibatnya, anak muda merasa NU hanya menjadi ruang formalitas, bukan ruang aktualisasi dan kreativitas.
Ketiga, arus pragmatisme sosial juga ikut memengaruhi budaya organisasi. Semangat khidmah dan pengabdian perlahan tergeser oleh orientasi kepentingan jangka pendek. Tidak sedikit generasi muda yang akhirnya menjauh dari organisasi karena melihat minimnya pembinaan, keteladanan, dan penghargaan terhadap kaderisasi.
Di tengah kondisi tersebut, tantangan ideologi digital bergerak semakin agresif. Media sosial kini menjadi arena perebutan pengaruh keagamaan. Ketika ranting NU lemah dalam kaderisasi dan literasi digital, ruang-ruang itu justru diisi kelompok yang menyebarkan paham keagamaan instan, tekstual, bahkan anti tradisi.Jika situasi ini dibiarkan, maka generasi muda NU berpotensi tercerabut dari akar manhaj dan identitas ke-NU-annya sendiri.
Karena itu, kaderisasi ranting tidak boleh dipahami sekadar pembentukan pengurus formal lima tahunan. Kaderisasi harus dimaknai sebagai proses menanamkan ruh perjuangan, adab, militansi, intelektualitas, dan kecintaan terhadap jam’iyah secara berkelanjutan.
Pengurus ranting NU tidak cukup hanya mampu menjalankan administrasi organisasi, tetapi juga harus hadir sebagai penggerak umat, penjaga tradisi, pendidik masyarakat, dan benteng moderasi Islam.
Dalam konteks ini, pesantren memiliki posisi strategis. Santri dan alumni pesantren harus kembali memperkuat basis ranting sebagai pusat pengabdian sosial-keagamaan masyarakat. Sebab sejarah membuktikan, NU menjadi besar bukan karena kekuatan elite semata, melainkan karena ketulusan para kiai kampung, guru ngaji, penggerak majelis taklim, dan jamaah akar rumput yang istiqamah menjaga umat dari generasi ke generasi.
Momentum Muktamar NU 2026 seharusnya menjadi titik refleksi besar untuk membangun kembali agenda kaderisasi grassroot secara serius dan sistematis. NU tidak cukup hanya kuat dalam panggung politik, media, dan wacana intelektual, tetapi juga harus tetap kokoh di tingkat ranting sebagai rumah besar umat.
Sebab pada akhirnya, masa depan NU tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin di pusat, melainkan oleh seberapa kuat ranting-rantingnya mampu melahirkan kader yang militan, berilmu, berakhlak, dan siap menjaga ruh perjuangan jam’iyah di tengah perubahan zaman.(*)
Foto berkab.go.id


































