Sampah plastik menjadi permasalahan dunia. Karena plastik sangat sulit untuk terurai secara alami. foto ; ist

SURABAYA|duta.co – Kantong plastik menjadi masalah serius yang hingga kini. Penyebabnya sampah dan kantong plasting sangat sulit teruai secara alami. Sementara  Pengelolaan sampah di Indonesia saat ini banyak menggunakan model landfill, dengan menampung sampah seluruhnya ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Langkah ini sudah sesuai dengan peraturan perundangan di Indonesia, yaitu UU No.18 Tahun 2008. Namun, dalam UU itu juga disebutkan bahwa sampah yang dibawa ke TPA haruslah sampah yang mudah terurai.

Karenanya Koalisi Pemantau Plastik Ramah Lingkungan Indonesia (KPPL-I) Nasional mendorong pemerintah dan masyarakat untuk menggunakan kantong plastik yang mudah terurai.

“Saat ini solusi pengurangan plastik ada berbagai macam, salah satunya mengganti plastik biasa atau konvensional dengan plastik yang mudah terurai. Alternatif ini dibutuhkan, karena sampai sekarang plastik yang dibuang di TPA butuh ratusan tahun untuk terurai,” kata Ketua KPPLI Puput TD Putra, Senin (13/1/2020).

Sedangkan, Praktisi sekaligus penemu teknologi Oxo Bio Degradable di Indonesia, Sugianto Tandio mengatakan, Teknologi menjadi salah satu pilihan dalam pengolahan sampah. Terdapat dua pilihan yakni teknologi landfill atau TPA, serta pemakaian incinerator.

“Di daerah yang mampu secara ekonomi, keberadaan incinerator sangat tepat karena jadi solusi cepat. Sedangkan daerah yang belum mampu, landfill ini masih sangat dibutuhkan. Mau TPA atau incinerator itu kan teknologi, dua-duanya bagus,” kata Sugianto. Karenanya penggunaan plastik mudah terurai sangat penting.

Di dunia saat ini terdapat 3 teknologi plastik yang mudah terurai. Pertama compostable plastic, bio-based plastic, serta Oxo Bio Degradable Adictif. Ketiganya merupakan pilihan yang dapat dipakai sebagai upaya mengganti dan mengurangi keberadaan plastik yang tidak mudah terurai di alam.

“Ketiganya ini bisa terurai di TPA karena sudah terbukti. Jadi teknologi sudah ada, tinggal mau pakai yang mana. Yang Oxo Bio Degradable Adictif ini tidak perlu 1.000 tahun untuk terurai, tapi cukup 2 sampai 5 tahun, dan harganya 0-20 persen diatas plastik biasa,” terang Sugianto.

Ia setuju dengan pelarangan menggunakan plastik sekali pakai yang butuh ratusan, bahkan seribu tahun untuk terurai. Namun, pemerintah perlu mencarikan solusi sebagai penggantinya.

“Setelah plastik dilarang harus ada solusi penggantinya. Nah, plastik yang mudah terurai ini bisa jadi alternatif solusi, meski sekarang ini juga masih banyak perdebatan,” ujar Sugianto.

Penanganan masalah sampah yang selama ini dikenal adalah dengan 3R, yaitu reduce, reuse, dan recycle. Model penanganan sampah dengan 3R ini telah berjalan sekitar 40-50 tahun, namun hingga kini masih belum mampu menyelesaikan persoalan sampah.

Sugianto berpendapat bahwa perlu tambahan R yang lain agar penanganan sampah dapat berjalan secara komprehensif. R keempat disebut return to earth sebagai, atau 4R penanganan sampah. Return to earth yakni mengembalikan plastik ke bumi sebagai asalnya, atau restore yaitu mengembalikan plastik pada asalnya sebagai minyak bumi. zal

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry