Dr Suparto Wijoyo

Oleh: Suparto Wijoyo

SUASANA Idul Adha 1441 H memang spesial. Sejak mula adanya idul qurban adalah kekhususan. Sejak kemarin ramai deberitakan, bukan hanya mengenai sapi penggede yang berbobot berat dan berbadan besar, tetapi juga polisi melakukan penangkapan “orang besar” hingga tidak mau mengembat ujang negara. Besar kasusnya besar pula popularitas dirinya. Djoko Tjandra alias Joker tertangkap. Begitu yang diungkap dan ramai diberitakan, meski sejatinya hal yang lumrah. Lumrah karena di institusi yang sama pernah pula buron dan pemburunya berada dalam pesawat yang sama. Bahkan dicurigai sambil ngopi bareng untuk menata surat jalan, ngurus paspor dan ini itu yang akan dibarengi dengan ini itu lainnya. Begitu Cak Mispon yang tidak silau dengan kinerja aparat sambil menyodorkan rekaman ke saya lagu lama “kau yang mulai kau yang mengakhiri”. Semua adalah sandiwara sambil membacakan pula ayat suci yang menuangkan firman tentang dunia ini penuh sandiwara atau lagu klasik “dunia panggung sandiwara”. Jadi yang sandiwara itu bukan peristiwa hukumnya melainkan “isi dunia ini” pada dinamikanya.

Saya sendiri tidak hendak meresponnya sebab hal itu sudah menjadi rahasia umum pada saat sebuah organ terpapar ambruk martabatnya selama beberapa tahun terakhir. Gayanya melebihi parpol dalam berpolitik dalam mengamankan penguasa atas nama amanat negara. Tapi Cak Mispon tetap tertarik karena semua kita butuh kehadirannya dan tidak boleh diteruskan untuk berlagak politik melulu. Kekuasaan boleh silih berganti setiap lima tahun sekali, tetapi alat negara tetaplah ada selama negara ini berdiri kokoh. Sambil mendengarkan khutbah Idul Adha, Cak Mispon mau pula kugiring untuk mengenang pengorbanan manusia yang paling spesifik. Kok yo pas mau negur Cak Mispon, Redaksi Duta mengingatkan untuk saatnya menulis kolom Tajalli.

Ingatlah sosok ini. Adalah Ibrahim Ibn Aazar. Beliau telah dilahirkan di Kota Ur, Irak, 2166 SM (Sebelum Masehi) dan Ismail lahir di Kota Hebron, Palestina, 2080 SM. Ini adalah dua figur yang sangat fenomenal dalam mengkonstruksi perilaku publiknya dari kapasitas pribadi agung nan mulia. Gerakan perlawanan kepada rezim sosial yang tidak mengenal tauhid dilancarkan sejak usia Ibrahim AS 14 tahun hingga pada jejak waktu 16 tahun mengalami proses peradilan dengan vonis yang gamblang dalam sejarahnya. Beliau dibakar pada 2150 dengan selamat karena “api itu diperintahkan oleh-Nya untuk menjaganya”. Spektakuler dan ini sangat mukjizati dalam skala apapun karena Ibrahim AS adalah pemanggul iman ketaatan sehingga jauh dari laku bohong, apalagi berdusta dengan menghadirkan kebijakan palsu-palsu segala.

Untuk itulah seluruh ajarannya tertuntun oleh Suara Agung-Nya guna menjadi tradisi keagamaan dalam Islam yang sangat hakikiyah pada tataran ajaran. Monoteisme Islam mengemban misi peradaban dengan ritual Haji dan Berkorban dalam suasana Idul Adha yang didemonstrasikan secara terang di misi kenabian Kanjeng Rasulullah Muhammad SAW. Praksis “berlari kecil” seorang ibu yang bernama Siti Hajar dari Sofa ke Marwah berkelindang dengan hadirnya mukjizat Sumur Zam-zam yang dalam narasi pewahyuan “dikebas-digali-dipancarkan airnya” oleh Jibril. Fakta keajaiban Zam-zam sangat historik sampai akhir zaman dan ini adalah sumber air surga yang tiada dapat dibandingkan dalam kosmologi ekosistem biasa.

Ibadah Haji adalah realitas keagamaan yang sangat menakjubkan dengan sendi-sendi prosedural yang sangat tertata dan ini hanya dapat dirasakan secara total oleh meraka yang “memenuhi paggilan-Nya”. Dalam rumpun akhlak kemanusiaan dan jenjang peribadatan, apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS serta pelanjut ajarannya yang paling sahih, yaitu Nabi Muhammad SAW amat menggetarkan. Sebuah kenyataan tentang keberlangsungan  ajaran tauhid mengingat seluruh Nabi adalah pembawa risalah Islam. Demikianlah beribu-ribu lembar kitab dapat dirujuk mengenai referensi ajaran Illahiyah yang sangat Islami, pembawa keselamatan dengan pengorbanan yang tertundukkan atas nama ketaatan.

Hal ini berarti bahwa ketaatan kepada-Nya merupakan fundasi utama pembangunan manusia agar mencapai derajat tertinggi dalam menjalankan makna kehidupannya. Taat itulah yang direfleksikan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam prosesi “penyembelihan diri”. Ini adalah prosesi “penyembelihan ego, penyembelihan keakuan, penyembelihan sopo siro sopo ingsun”, penyembelihan rasa sok kuoso, adigang adigung adiguna. Pada puncaknya adalah “peleburan eksistensi egoistik menjadi pengakuan tunggal yang dimanifestasikan melalui ketaatan paling suprematif”. Itulah arti pengorbanan terhebat yang pernah terjadi yang hanya sanggup dipikul oleh dua sosok agung yang bernama Ibrahim AS dan Ismail AS.

Pengorbanan yang tidak berbatas itulah yang kemudian memendarkan karakter empati, peduli, sanggup merasakan derita siapapun sebagai sesama manusia, sesama hamba, sesama makhluk Tuhan, alias paham penderitaan rakyat. Apalagi seseorang itu adalah sesosok pemimpin. Tidak pantas apabila pemimpin itu membohongi dengan laku berat sebelah, melindungi pendukungnya yang jelas melakukan pengubahan makna dasar Pancasila, tapi dia yang mengira bahwa kepemimpinanmu hanyalah urusan telenovela yang sangat dramatis. Melalui konsepsi nalar bahwa panggung kekuasaan hanyalah soal citra diri dari aktor yang memerankan skenario sebagai petugas dia, maka wajarlah bahwa tampilnya selaksa main film dengan memperkenankan atribut-atribut tertinggi kekuasaan untuk dilanjutkan “keluarga besarmu” yang tidak ada otoritas negara atasnya.  Penderitaan rakyat saat ini sudah sangat berat dan engkau tetap saja kelihatan tidak mengerti atas situasi ini, karena engkau tidak pernah mengorbankan egomu, mengorbankan dirimu untuk memahami arti penting “rasa batin umat yang terkoyak”.

*Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry