
JOMBANG | duta.co – Siapa yang tidak kenal dengan sosok KH. Abdul Wahab Chasbullah? Pria yang lahir pada 31 Maret 1888 dan meninggal dunia 29 Desember 1971, merupakan Pahlawan Nasional Indonesia dan motor penggerak pendiri Nahdatul Ulama (NU).
Hari ini, Jumat (9/5/25), bertepatan dengan haul ke-54 tahun KH. Wahab, duta.co mencoba mengulas sisi perjuangan dalam berorganisasi dan kehidupan sehari-hari di mata putra dan putrinya. Di mana Mbah Wahab, di mata Bu Nyai Mundjidah Wahab, merupakan sosok yang disiplin ilmu serta mengedepankan adab baik dalam kehidupan sehari-harinya maupun dalam menjalankan roda organisasi.
Sembari memandang lukisan Mbah Wahab, mantan Bupati Jombang ini mencoba mengingat memori yang dialaminya bersama sang Ayah dalam mengarungi kehidupan.
“Kopyah Hitam,” celetus Mbah Buk, panggilan akrab cucunya buat Bu Mundjidah. Ia pun menceritakan, ada ciri khas tersendiri dalam diri Mbah Wahab yang menjadi pembeda saat berorganisasi atau untuk keluarga.
Jika berada di rumah, Mbah Wahab selalu menggunakan Kopyah berwarna putih, namun saat hendak melakukan aktivitasnya dalam berorganisasi atau bertugas kenegaraan, beliau selalu menggunakan Kopyah berwarna hitam.
Tidak hanya itu, tutur Mbah Buk. Beliau selalu menunjukkan kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau tidak menunjukkan jika beliau sosok Kiai besar atau pejabat. “Saya masih ingat saat berpergian kopyah warna hitam selalu ada di mobil dan saat berhenti mau makan, beliau bilang, (Endi Kopyah warung) mana Kopya warung,” ceritanya.
Dengan menarik nafas pajang, Mbah Buk kembali menceritakan saat Mbah Wahab ingin mendirikan NU.
Berawal dari akan dirobohkan makam Nabi Muhammad, serta para jemaah haji dan umroh harus menggunakan madzhab wahabi, yang membuat Mbah Wahab beserta para Kiai membentuk Komite Hijaz untuk menemui raja Arab, dan pada akhirnya berhasil menggagalkan rencana Raja Arab tersebut.
Sebelum mendirikan Nahdlatul Ulama (NU), beliau lebih dulu melakukan tirakat di makam Sunan Ampel surabaya. “Waktu itu Mbah Wahab menulis surat dan bilang jika surat ini ilang, maka tidak mendapat ijin. Namun, jika masih ada, berarti mendapat ijin dari Sunan Ampel,” cerita Mbah Buk, sembari mengingatkan jika selama berjuang sampai berdirinya NU, Mbah Wahab selalu menggunakan biaya pribadi. Saat itu, KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais’ Akbar wafat, kemudian para pengurus menunjuk Mbah Wahab sebagai pengganti.
Sebelum mengiyakan, Mbah Wahab melakukan isthikoroh terlebih dulu dan pada akhirnya mau menggantikan Mbah Hasyim. Namun, Mbah Wahab meminta untuk menghormati Mbah Hasyim. Beliau meminta supaya nama Rais’ Akbar diganti menjadi Rais ‘Aam hingga sekarang karena menjaga nama besar gurunya. “Ini lah saya pegang dari Mbah Wahab selain menggunakan ilmu, juga menjaga adab dalam berorganisasi,” pungkasnya. (din)





































