Dari kiri, KH Salahuddin Wahid, Kiai Said dan Gus A'am Wahib. (FT/IST)

SURABAYA | duta.co – Cuplikan pidato Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kiai SAS) berdurasi 23 detik dari Tv-9, terus beredar dan mendapat banyak tanggapan nahdliyin.

Termasuk dari KH Salahudin Wahid (Gus Solah), Pengasuh PP Tebuireng, Jombang, yang notabene cucu pendiri NU  KH Hasyim Asy’ari dan H Agus Solachul A’am Wahib cucu KH Wahab Chasbullah.

Kalimat Kiai SAS yang memicu tanggapan banyak orang itu, disampaikan di Harlah ke-73 Muslimat NU di GBK, Jakarta, Minggu (27/1/2019). Kata Kiai Said, NU harus berperan dalam banyak bidang.

“Peran apa? Terus, tanya terus, peran apa? Syuhudan diniyan, peran agama. Harus kita pegang. Imam masjid, khotib-khotib, KUA-KUA, Pak Menteri Agama, harus dari NU. Kalau dipegang selain NU salah semua,” ujar Kiai SAS disambut tepuk tangan muslimat NU yang hadir.

Kepada TvOne, Gus Solah mengatakan, bisa saja Kiai Said salah omong. Apalagi soal pernyataan Kiai SAS kontroversial, itu sudah biasa. Tidak perlu diributkan. “Waktu kita bisa habis untuk hal-hal yang tidak perlu,” jelas Gus Solah kepada TvOne, Senin (28/1/2019).

Menurut putra KH Wahid Hasyim ini, warga NU memang harus aktif, termasuk menjadi imam dan khotib. Karena ada khotbah-khotbah (Jumah) di masjid-masjid BUMN, perkantoran yang disinyalir isinya menyalahkan orang lain, suara-suara kebencian, politisasi agama.

“Tetapi untuk masjid yang didirikan warga, terserah warganya. Kita tidak boleh berebut jadi imam. Fastabiqul khoirot itu harus dilakukan dengan baik. Mestinya pernyataan itu ditujukan kepada aktivis (internal) NU. Salah ngomong, saya kira,” tegas Gus Solah sambil menenkankan bahwa soal KUA, itu bukan domain NU, tetapi Kemenag.

Hal yang sama disampaikan H Agus Solachul A’am Wahib cucu pendiri NU, KH Wahab Chasbullah. Menurut Gus A’am Wahib, tidak sepantasnya Ketua Umum PBNU mengatakan seperti itu.

“Menyebut selain NU salah semua, ini sangat tidak elok, arogan dan sombong. Kami justru malu dengan kalimat tersebut. Perbedaan NU dengan yang lain, hanyalah masalah khilafiyah, perbedaan dalam cabang syariat (furu‘iyah), bukan prinsip dasar. Sehingga tidak tepat mengatakan selain NU salah semua, ini bisa memicu ketegangan,” tegasnya.

Masih menurut Gus A’am, arogansi Kiai SAS ini tidak sekali dua kali. Masih dalam pidato di Harlah ke-73 Muslimat NU di GBK, Jakarta, Kiai Said juga bicara soal politik. Intinya (Jokowi–Kiai Makruf) harus menang.

“Kalau Anda cermati isi pidatonya, ini semua politik. NU sudah menjadi alat politik, menjadi petugas partai. Mestinya jajaran Mustasyar (Dewan Penasehat) PBNU mengingatkannya. Kondisi ini sangat memprihatinkan, ironisnya semua diam,” tegasnya. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.