Konsep Baru Manusuk Sima Meriahkan Hari Jadi Kota Kediri 1140

539
HARI JADI : Manusuk Sima digelar di Taman Tirtoyoso (Nanang Priyo/duta.co)

KEDIRI|duta.co, Bangga atas budaya lokal atas budaya barat dikuatirkan dilupakan generasi muda, Pemerintah Kota Kediri mengangkat kisah Raden Panji Asmorobangun tepat diusianya ke-1140. Sejumlah peninggalan sejarah membuktikan keberadaan legenda yang kini telah mendunia.

Hal ini dibuktikan adanya tiga mata air berada di Kota Kediri yang tak pernah kering. Pun Prasasti Kwak, Tari Cucuk Lampah, Tombak Pataka, payung, para putri pengiring (danyang, red) hingga keberadaan prajurit yang gagah berani.

Kisah sejarah inilah yang dikemas dengan apik dan merupakan kolaborasi sejumlah seniman hingga muncul konsep baru saat gelaran Manusuk Sima di Taman Tirtoyoso Kota Kediri, Sabtu (27/07/2019). Hadir dalam acara ini, Wali Kota Kediri, Abdullah Abu Bakar, Forpimda, perwakilan seniman dan pelajar se-Kota Kediri.

Merajut Harmoni Menoreh Prestasi

HARI JADI : Manusuk Sima digelar di Taman Tirtoyoso (Nanang Priyo/duta.co)

Harapan besar disampaikan Mas Abu, sapaan akrab Wali Kota Kediri, mengajak seluruh warganya untuk terus menorehkan prestasi sesuai tema Hari Jadi ke-1140. “Banyak kegiatan kami persembahkan untuk terus menorehkan prestasi. Mari tetap menjaga keharmonisan dan saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang mensukseskan acara ini,” ucapnya.

Terkait mata air, Sumber Lo berada di kaki Gunung Klotok, dimana airnya tidak pernah kering merupakan baglan tak terpisahkan dari Situs Goa Selo Bale dan Gua Selomangleng.Airnya sangat disucikan, karena dipergunakan untuk ritual sebelum melaksanakan peribadatan. Selain dipergunakan untuk memberi kehidupan warga setempat dan menjaga kesuburan tanah persawahan.

Kemudian mata air, Sumber Dadapan berada di Sebelah Timur Kota Kediri yang penuh dengan legenda Kerajaan Kediri di masa lampau. Pada lokasi tersbut, ditemukan petilasan Mbok Rondo Dadapan. Dalam kisah Raden Panji merupakan ibu angkatnya yang menyamar sebagai Ande-Ande Lumut.

Terakhir mata air Sumber Kuwak, dianggap tertua berada di depan Kantor Kecamatan Kota berada di dalam Taman Tirtayasa. Airnya berlimpah dan selalu dijadikan lokasi awal prosesi peringatan hari jadi dengan digelarnya Manusuk Sima.

Berdasarkan Prasasti Kwak yang berangka Tahun 801 Saka (879 M), maka kelahiran Kota Kediri jika dihitung menurut angka tahun prasasti, saat ini berumur 1140 tahun,” ungkap Nur Muhyar, Kepala Disbudparpora yang juga Ketua Umum Hari Jadi.

Kemasan Baru Manusuk Sima

HARI JADI : Manusuk Sima digelar di Taman Tirtoyoso (Nanang Priyo/duta.co)

Turut membantu prosesi acara sakral dan dikemas sangat menarik, tokoh seniman kelas nasional asil Kota Kediri, Guntur Tri Kuncoro. Dia melihat telah terjadi regenerasi cukup baik di Kota Kediri. “Bagaimana menggemas acara budaya, selain pertunjukan seni dikolaborasikan dengan promosi wisata serta memberikan edukasi kepada generasi muda,” ungkapnya.

Namun yang menjadikan salut Mas Guntur, sapaan akrabnya, kini anak-anak muda mampu mengemas dengan apik pertunjukan budaya. “Selain menjaga keaslian dan tidak merubah materi, mereka mampu menyajikan lebih baik. Seperti pertunjukan Manusuk Sima yang baru saja kita saksikan bersama,” ungkapnya. (nng)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry