
“Inilah jihad kita hari ini: bukan memerangi saudara sendiri karena berbeda pandangan, tetapi membongkar skenario besar yang membuat kita terus tercerai. Karena (jelas) saat umat Islam bersatu, Zionisme pasti kehilangan panggungnya.”
Oleh: Abdur Rahman El Syarif*
KONFRONTASI (perang) terbaru antara Israel dan Iran kembali menghidupkan bara lama yang membelah dunia Islam: Sunni vs Syi’ah. Mestinya ini bisa menjadi cermin besar untuk umat Islam.
Di saat rudal diluncurkan dan propaganda saling dibenturkan, kita lupa satu fakta sederhana namun krusial: yang diuntungkan dari perpecahan ini bukan umat Islam, tapi Zionisme internasional.
Sudah terlalu lama kita terseret dalam konflik internal yang dibungkus dalam istilah ‘aqidah’, ‘kesesatan’, atau ‘bid’ah’, padahal di balik semua itu tersembunyi rekayasa geopolitik besar yang tak pernah menginginkan Islam bersatu. Isu Sunni–Syi’ah tak lebih dari luka yang sengaja dipelihara, oleh mereka yang ingin memecah, melemahkan, dan menjajah.
Kita sering lupa, perbedaan Sunni-Syi’ah awalnya bukan soal agama, tapi soal politik kepemimpinan pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW. Dan ketika perbedaan itu kemudian dijadikan dalih untuk mengkafirkan, membenci, bahkan membunuh, maka di sanalah akal sehat dan ruh Islam telah dikhianati.
Banyak kalangan elite, akademisi, bahkan da’i, justru berlomba-lomba menunjukkan perbedaan, seakan menjadi penjaga ortodoksi yang tidak boleh diusik. Sementara itu, Palestina terus dijajah, Masjidil Aqsha terus ternoda, dan kekuatan umat tersandera dalam debat tak berujung.
Pertanyaannya: sampai kapan umat ini mau dibodohi oleh skenario “divide et impera”? Apakah kita tidak menyadari bahwa Israel hanya bisa berdiri dan berjaya karena dunia Islam terlalu sibuk dengan musuh-musuh semu yang diciptakan sendiri?
Kini saatnya kita berhenti menari di atas panggung yang dibuat oleh Zionisme. Sudah saatnya kita mengganti narasi permusuhan dengan narasi rekonsiliasi, bukan untuk menghapus perbedaan, tapi untuk mengelola perbedaan dengan akhlak, ilmu, dan tujuan bersama: pembebasan umat.
Dan Indonesia, dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki kewajiban moral dan strategis untuk memainkan peran ini. Kita bisa menjadi juru damai mazhab, penjaga ukhuwah, dan penggerak solidaritas global.
Inilah jihad kita hari ini: bukan memerangi saudara sendiri karena berbeda pandangan, tetapi membongkar skenario besar yang membuat kita terus tercerai. Karena (jelas) saat umat Islam bersatu, Zionisme pasti kehilangan panggungnya. (*)
*) Abdur Rahman El Syarif adalah Pengamat Geopolitik Islam & Kajian Dunia Islam Kontemporer