Grace Natalie
JAKARTA | duta.co – Konflik antar parpol pendukung capres petahana Joko Widodo alias Jokowi semakin sengit. Para politikus PDI Perjuangan meradang telah dipojokkan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang seakan mengajari partainya tentang toleransi dan pluralisme. PSI menuduh partai nasionalis seperti PDIP intoleransi dan mendukung perda syariah.
Dalam pidatonya di Kota Medan, Senin (11/3), Ketua Umum PSI, Grace Natalie, mengkritik sikap PDI Perjuangan dan Golkar yang terlibat aktif dalam pengesahan 443 Perda Syariah di Indonesia. Grace juga menyindir partai-partai nasionalis yang mendiskriminasi kaum minoritas di Indonesia. Grace berani mengklaim, hanya PSI yang berani mengecam dan bersikap atas deretan kasus diskriminasi minoritas yang terjadi di Indonesia. Tentu saja elite PDIP dan Golkar berang.
Satu di antara politikus PDIP yang berang atas tuduhan Grace itu adalah Masinton Pasaribu. Anggota Komisi III DPR RI itu meminta PSI sebagai partai baru tidak mengajari PDIP tentang hal-hal yang ideologis.
“Kami sudah diuji waktu dan sejarah soal ideologi. Jadi odong-odong jangan ajari truk juggernaut berlari,” ucap Masinton Pasaribu di Resto Ajag Ijig, Jakarta, Kamis (14/3/2019).
Menurut Masinton, partainya sudah melewati berbagai macam badai sejarah dalam mempertahankan ideologi Pancasila. Karena itu, PSI tidak usah menggurui PDIP.
“Kalau untuk keberpihakan secara ideologi, dia (PSI) enggak ada apa-apanya kalau dalam konteks memperjuangkan nasionalisme, memperjuangkan pluralisme, dan kebhinekaan,” tegasnya.
Masinton mengaku, awalnya enggan mengomentari pidato Grace. Namun, dia memutuskan angkat bicara demi menjaga marwah partainya yang sudah disinggung oleh partai baru.
“Mengomentari yang odong-odong begini menurut saya sih enggak pas juga. Jadi, ya namanya juga (PSI) lagi mencari sensasi,” tambah Masinton.
Ia pun yakin, sikap PSI terhadap sesama anggota koalisi pendukung Jokowi-Maruf Amin itu tak akan mempengaruhi soliditas tim. Bahkan dia menganggap PSI tak lebih dari pelengkap saja.
“Enggak pernah kami anggap. Jadi, enggak ganggu apa-apa. Ya, cheerleaders (penggembira) saja,” ucap Masinton dengan enteng.
Selama ini kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sering melontarkan pernyataan-pernyataan yang kontroversi di tengah publik. Yang paling baru pidato politik Ketua Umum PSI Grace Natalie di Medan yang kembali menyinggung soal partai-partai pendukung diskriminasi. Golkar dan PPP ikut marah digoyang PSI.
Menurut pengamat politik LIPI Siti Zuhro, PSI jangan terlalu banyak mengumbar kontroversi yang sebenarnya hanya sebuah bluffing atau pepesan kosong.
“PSI ini bluffing-nya kelebihan menurut saya. Sehingga kalau minta perhatian caranya itu tidak dengan melakukan manuver yang justru kontroversi,” ungkap Siti saat ditemui di Resto Ajag Ijig, Jakarta, Kamis (14/3).
Sambung pengamat politik senior ini, praktis pernyataan ketum PSI itu menjadi batu sandungan buat partai-partai lain di koalisi Jokowi-Maruf. Ujung-ujungnya mengganggu Jokowi dalam menghadapi Pilpres 2019.
“Tentu ini akan memberikan impresi sendiri ya. Sebagai partai baru, dia hadir, lalu dia melakukan manuver politik yang tidak jamak menurut saya,” ucapnya.
Sumber di DPR malah menyebut, bila Jokowi tidak bisa mengendalikan PSI, pasti dia akan jeblok. Elektabilitasnya akan menurun. “Mengatur partai koalisi saja tidak becus, apalagi mengatur negara. Begitu kira-kira persepsi masyarakat bila konflik antar-parpol pendukung Jokowi ini dibiarkan berlarut-larut sampai Pilpres,” kata sumber tersebut Jumat dini hari.
(rmol/wis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.