
“Sebenarnya urusan konflik PBNU itu tergantung sikap dari Gus Yahya. Kalau dia mau menekan kesongongannya dan mau sedikit rendah hati, manut pada Rais Aam, selesai masalahnya.”
Oleh Zulkarnain, SE, MSc, MAg*
PRIHATIN, sebagai nahdliyin atau bahkan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di bawah, kita sangat prihatian menyaksikan konflik di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang tak kunjung tuntas.
Meski sejumlah upaya (pertemuan) sudah digelar dengan target Islah, toh sampai sekarang konflik itu belum jugai selesai. Belakangan ribut soal posisi Sekjend Gus Ipul (Saifullah Yusuf), karena KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) tidak mengakuinya. Sementara Gus Ipul terang-terangan menyebut Ketua Umum PBNU masih Gus Yahya.
Mengutip metrotvnews.com, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyatakan tidak pernah secara eksplisit menyebut bahwa Saifullah Yusuf (Gus Ipul) kembali menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBNU.
Lalu, seperti dikutip suara.com, Jumat (2/1/26) Gus Yahya menegaskan, Rapat Konsultasi Lirboyo yang menjadi landasan islah hanya menghasilkan dua keputusan utama, yaitu: Pertama, menyegerakan pelaksanaan Muktamar. Kedua, menegaskan bahwa Gus Yahya sebagai Ketua Umum bersama Rais Aam bertanggung jawab untuk menyelenggarakan Muktamar tersebut.
Posisi Sekretaris Jenderal maupun Katib Aam sama sekali tidak dibahas dan tidak diputuskan dalam rapat tersebut.
Jadinya makin ruwet! Sebenarnya urusan konflik PBNU itu tergantung sikap dari Gus Yahya. Kalau dia mau menekan kesongongannya dan mau sedikit rendah hati dengan manut pada Rais Aam, selesai masalahnya.
Karena Rais Aam Kiai Mif (KH Miftachul Akhyar red.) sudah berbesar hati memaafkan dan berkenan menerima kembali Gus Yahya dengan syarat dia mengikuti mekanisme dan keputusan organisasi PBNU.
Nah, mestinya, pertama, Gus Yahya mematuhi hasil Rapat Pleno sampai diadakan Rapat Pleno berikutnya. Kedua, GY harus deklarasi secara terbuka untuk ikut dan patuh pada keputusan Rapat Pleno dan Rais Aam.
Ketiga, segera Gus Yahya sowan kepada Wakil Rais Aam, Kiai Anwar Iskandar dan Kiai Afifudin Muhajir. Keempat, hendaknya GY menyampaikan agendanya secara terbuka, dengan begitu dapat diketahui semua pihak, sehingga pada rapat pleno berikutnya sudah tidak ada saling curiga. Islah benar-benar bisa diwujudkan melalui rapat pleno.
Jadi? Simpel sebenarnya. Kapan rapat pleno berikutnya, ya bisa dibuat sesegera mungkin. Persoalannya, sekarang ini, GY justru terkesan berjalan sendiri, menunjukkan kesombongannya. Itu songong dan bisa dianggap mencla mencle. Kebanyakan tingkah dan gaya, justru membuat blunder untuk dirinya sendiri dan merusak jalan islah. Bukankah begitu? Wallam’alam bish-shawab.





































