Ketua PC IPNU dan PC IPPNU Jombang terpilih.

JOMBANG | duta.co – Langit masih gelap, hujan turun deras sejak dini hari. Namun, di tengah rintik yang seolah menguji keteguhan, kader-kader pelajar Nahdlatul Ulama tetap bertahan. Forum berjalan tegang, penuh perhitungan dan harapan. Hingga akhirnya, Senin (16/2/2026) pukul 06.30 WIB, palu sidang diketuk. Dari forum Konferensi Cabang (Konfercab) itu, lahirlah dua nahkoda baru M. Husein Al Kahfi dan Anni Fatuzulcha (Fafa), yang kini memikul amanah memimpin PC IPNU dan PC IPPNU Jombang.

Hujan deras yang mengguyur sejak pukul 04.50 WIB seakan menjadi saksi bisu ketegangan sekaligus semangat kader dalam forum tertinggi organisasi pelajar NU di tingkat cabang tersebut.

Rintik yang tak kunjung reda tidak menyurutkan jalannya sidang. Justru di tengah suasana itu, proses demokrasi organisasi berlangsung dengan penuh kesungguhan. Forum secara sah menetapkan M. Husein Al Kahfi sebagai Ketua PC IPNU Kabupaten Jombang masa khidmat 2026–2028.

Sementara Anni Fatuzulcha, yang akrab disapa Fafa, terpilih sebagai Ketua PC IPPNU Kabupaten Jombang untuk masa khidmat yang sama.

Proses pemilihan Ketua IPNU berlangsung cukup alot. Persaingan sengit terjadi antara Husein dan M. Agung Puliono, setelah forum tidak mencapai kesepakatan secara aklamasi sehingga dilanjutkan melalui pemungutan suara.

Dari total 254 suara, sebanyak 160 suara sah diraih Husein. Sementara Agung memperoleh 90 suara. Terdapat tiga suara tidak sah dalam pemilihan tersebut.

Di tubuh IPPNU, dinamika serupa juga terjadi. Fafa berhasil unggul dengan raihan 137 suara sah, mengalahkan kandidat lainnya, Rahma, yang memperoleh 105 suara. Dari total 248 suara, terdapat enam suara tidak sah.

Ketua terpilih PC IPNU Jombang, Husein, mengusung grand design bertajuk Inklusif Kolaboratif Berdaya. Ia menegaskan arah kepemimpinannya akan difokuskan pada penguatan kaderisasi, tata kelola organisasi, serta program kerja yang terukur dan berkelanjutan.

Menurutnya, organisasi harus menjadi ruang yang terbuka bagi seluruh kader tanpa sekat, sekaligus mampu membangun sistem kaderisasi yang terstruktur dan berjenjang.

“Kita ingin IPNU menjadi rumah besar yang nyaman, tempat kader belajar, berproses, dan berkontribusi nyata untuk pelajar dan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh kader untuk mengakhiri kontestasi dan kembali bersatu membangun organisasi.

“Kontestasi sudah selesai. Saatnya kolaborasi. Mari kita kuatkan barisan untuk IPNU Jombang yang lebih progresif dan berdampak,” tegasnya.

Sementara itu, Fafa mengusung tagline IPPNU BERMAKNA (Berdaya, Mandiri, dan Berguna) sebagai arah gerak kepemimpinannya. Ia menekankan pentingnya regenerasi strategis, penguatan kompetensi kader, serta adaptasi organisasi terhadap perkembangan zaman.

Program prioritas yang ia canangkan meliputi optimalisasi aset organisasi, revitalisasi kaderisasi berbasis kompetensi dengan tetap berlandaskan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah, digitalisasi data kader secara transparan, serta penguatan sinergi lintas sektor.

“IPPNU harus hadir dengan karya yang nyata, menjadi ruang aman sekaligus ruang tumbuh bagi kader putri untuk berkembang dan berdaya,” ujarnya.

Kini, palu sidang telah diketuk. Kontestasi telah usai. Yang tersisa bukan lagi angka-angka kemenangan, melainkan amanah besar yang menunggu pembuktian.

Hujan pagi itu bukan sekadar peristiwa alam. Ia seperti penanda, bahwa kepemimpinan lahir dari ketekunan, kesabaran, dan keberanian melewati ujian. IPNU dan IPPNU Jombang kini memasuki babak baru babak tentang kerja nyata, bukan sekadar janji.

Di pundak Husein dan Fafa, harapan ribuan kader pelajar NU dititipkan. Mereka bukan hanya dipilih untuk memimpin, tetapi juga untuk memastikan organisasi ini tetap hidup, relevan, dan memberi arah.

Karena pada akhirnya, sejarah organisasi tidak ditentukan oleh siapa yang terpilih, tetapi oleh apa yang mereka kerjakan setelah terpilih. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry