Persiapan peserta untuk menerbangkan drone-nya agar bisa mengambil gambar yang maksimal. DUTA/ridhoi

SURABAYA | duta.co – Komunitas pecinta drone semakin berkembang. Semakin banyak orang yang menggunakan alat ini untuk kebutuhan hobby maupun untuk menunjang profesi.

Namun pemerintah mengeluarkan banyak aturan tentang penggunaan drone ini. Karena jika dioperasionalkan dengan tidak pada tempatnya dan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, akan merugikan dan membahayakan banyak pihak.

Aturan yang dikeluarkan pemerintah di antaranya tidak mengoperasionalkan drone di lokasi obyek vital nasional misalnya bandara, tidak di properti milik pribadi serta maksimal ketinggian 150 meter.

Faizal Riza dari Air Nav Juanda mengatakan pengetahuan-pengetahuan dasr semacam itu perlu diketahui para pecinta drone sebelum memulai memainkan alat-alat itu.

”Komunitas-komunitas drone juga sudah mulai menyosialisasikan aturan dasar itu ke anggotanya. Agar mereka paham,” ujar Faizal di sela workshop Lensa Academy Surabaya, di Geldboom Jalan Ir Soekarno, Minggu (14/7).

Ganang Aditama, Pembina Asosiasi Pilot Drone Indonesia (APDI) Surabaya mengungkapkan saat ini sebelum bergabung dengan komunitas, sosialisasi aturan dasar penggunaan drone itu sudah diberikan.

Karena, kata Ganang hal itu penting diketahui agar tidak terjadi masalah ke depannya. “Walau itu untuk mereka yang hobby atau yang dijadikan profesi. Karena aturan dasar itu harus tetap ditaati,” ungkapnya.

Karena pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan-kebijakan tentang itu, maka Ganang berharap pemerintah juga bisa memberikan lisensi kepada drone pilot ini. Apalagi bagi mereka yang sudah profesional mengoperasionalkan, terutama yang berkaitan dengan profesi.

“Harus segera dikeluarkan lisensi bagi mereka yang sudah lulus tes misalnya. Sistemnya sama kayak membuat SIM A, B atau C. Ada teorinya dan ada juga praktiknya,” jelasnya.

Tidak hanya sosialisasi berkaitan dengan kebijakan, masalah-masalah teknik diakui Ganang, juga disebarluaskan. Apalagi saat ini, drone bukan hanya sekadar untuk merekam gambar dari ketinggian tapi sudah pada tahap balapan atau drone race.

Contohnya yang dilakukan Lensa Academy (LA) Surabaya. LA Surabaya mengajak para komunitas-komunitas drone di Kota Pahlawan ini untuk mengikuti workshop sehari bertema Beyond Fly & Shoot.

Selain Ganang Aditama dan Faizal Riza, ada juga pembicara yang khusus membahas masalah drone race yakni Irwan Baidowi atau yang lebih dikenal; dengan sebutan One Glove.

Tidak hanya mengikuti workshop, para pecinta drone ini juga diajak untuk melakukan aksi di Pagoda Pantai Ria Kenjeran Surabaya. Para peserta bisa mengambil gambar dari udara selama 10 menit masing-masing tim.

Hasil gambar itu, bisa diedit untuk kemudian dikirimkan ke panitia untuk dilombakan. Mereka yang terpilih akan mengikuti kontes final di Jakarta. Untuk kemudian akan dilombakan dari finalis 10 kota lainnya di Indonesia.

Mereka yang menang akan diajak untuk mengikuti Lensa Project Capture Vietnam akhir tahun ini.

Komunitas drone meminta pemerintah segera mengeluarkan lisensi. DUTA/ridhoi

Albert Tampemawa, perwakilan Lensa Academy mengatakan di tahun ini memang fokus untuk memberikan workshop di 10 kota di Indonesia. Ada empat hal fokus workshop yakni drone, vlog, videografer dan fotografer.

Yang mana nantinya di babak final di Jakarta dipilih masing-masing dari empat perwakilan masing-masing bidang itu.

Di masing-masing kota, temanya berbeda. “Kebetulan di Surabaya ini drone. Karena dari hasil riset kami, kami melihat penggemar drone di Surabaya sangat banyak. Dan komunitasnya di sini sangat aktif,” tukasnya.

Nantinya empat orang yang mewakili masing-masing bidang usai mendapatkan pengalaman di Vietnam, akan dibuatkan pameran bersama sebagai sebuah proyek kolaborasi. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry