
LAMONGAN |duta.co – Budidaya ikan kerapu di Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, mulai mendapat sentuhan teknologi digital. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendorong penerapan Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu petambak meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid melihat langsung penerapan teknologi tersebut saat menghadiri panen raya ikan kerapu di Kampung Kerapu, Desa Labuhan, Selasa (3/11/2026).
Menurut Meutya, transformasi digital tidak semestinya hanya dinikmati masyarakat perkotaan. Potensi ekonomi di daerah juga harus mendapatkan manfaat dari perkembangan teknologi.
“Digitalisasi bukan barang yang menjadi hak kota-kota besar saja. Kekuatan ekonomi yang berada di daerah-daerah, termasuk Lamongan, juga harus mendapatkan manfaatnya,” ujar Meutya.
Program digitalisasi yang telah berjalan selama lima bulan sejak Mei 2026 itu menunjukkan hasil awal. Penerapan IoT dan AI di tambak kerapu Lamongan mampu meningkatkan tingkat kelangsungan hidup ikan atau survival rate hingga 16 persen.
Peningkatan tersebut berpotensi mendongkrak pendapatan petambak lebih dari 24 persen.
Meutya mengatakan, pemanfaatan teknologi di sektor perikanan juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Terlebih sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih memberikan kontribusi sekitar 12,61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Komdigi memberikan pendampingan secara gratis kepada petambak selama delapan bulan. Pemerintah juga mempertimbangkan tambahan pendampingan empat bulan sehingga total menjadi satu tahun.
“Pendampingan diberikan secara gratis selama delapan bulan sebagai tahap awal. Kami pertimbangkan penambahan masa pendampingan selama empat bulan, sehingga total menjadi satu tahun agar pemanfaatan teknologi ini makin optimal,” katanya.
Kampung Kerapu Labuhan memiliki luas lebih dari 300 hektare. Kawasan budidaya tersebut dikembangkan sejak 2023 dan dikukuhkan melalui SK Bupati Lamongan pada 2025.
Potensi ekonominya cukup besar. Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menyebut, sepanjang 2025 produksi kerapu di kawasan tersebut mencapai 1.800 ton dengan nilai perputaran ekonomi sekitar Rp174 miliar.
Pasarnya bahkan telah menembus Hong Kong. Untuk ikan kerapu kualitas ekspor, harga jual saat ini mencapai sekitar Rp130.000 per kilogram.
Pemkab Lamongan bersama Ditjen Ekosistem Digital Komdigi juga memberikan dukungan perangkat teknologi berupa 100 perangkat IoT dan lima sensor untuk memantau kondisi air serta kadar oksigen tambak.
Teknologi tersebut memungkinkan petambak memantau kondisi tambaknya dari rumah melalui perangkat digital.
“Dengan sentuhan ibu jari, petambak sudah bisa memantau kondisi tambaknya dari rumah. Ini tentu memberikan kemudahan sekaligus meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan budidaya,” kata Yuhronur.
Bupati berharap pemanfaatan teknologi tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan. Selain meningkatkan produktivitas, digitalisasi diharapkan mampu menarik minat generasi muda dan kalangan milenial untuk menekuni usaha perikanan budidaya.
“Dengan teknologi, pengelolaan tambak menjadi lebih mudah dan efisien. Harapannya Kampung Kerapu semakin berkembang dan menjadi peluang usaha bagi generasi muda,” pungkasnya. (dam)






































