
MOJOKERTO | duta.co – Dosen Universitas Airlangga (Unair) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Skema Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2025 terus memperluas kontribusinya dalam pemberdayaan masyarakat.
Program ini menargetkan penguatan daya saing UMKM berbasis tradisi, khususnya pengrajin gerabah di Desa Mlaten, Kabupaten Mojokerto.
Kegiatan bertajuk “Pendampingan Bisnis Pengrajin Gerabah Tradisional Berbasis Teknologi Tepat Guna di Desa Mlaten Kabupaten Mojokerto” dipimpin oleh Dr Dien Mardhiyah dari Unair selaku ketua tim, dengan anggota Prof Tika Widiastuti dan Prof Imron Mawardi (Unair)serta Dr Adithya Sudiarno (ITS).
Sebelum melaksanakan pelatihan, tim Unair dan ITS terlebih dahulu melakukan survei lapangan melalui wawancara mendalam dan observasi langsung terhadap proses produksi di Desa Mlaten. Dari hasil survei tersebut teridentifikasi bahwa para pengrajin membutuhkan dukungan pada tiga aspek utama, yakni pemasaran digital untuk memperluas akses pasar, penyusunan standar operasional prosedur (SOP) dan manajemen usaha guna meningkatkan profesionalisme, serta penerapan teknologi tepat guna berupa alat pencetak dan pewarna gerabah agar proses produksi lebih efisien sekaligus menghasilkan variasi produk yang lebih beragam.
“Temuan inilah yang kemudian menjadi dasar penyusunan kurikulum pelatihan dan pendampingan, sehingga program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan nyata para pengrajin,” kata Dien Mardhiyah.
Pelatihan pertama yang dilaksanakan pada 15 Juni 2025 berfokus pada penguatan pemasaran digital bagi para pengrajin gerabah di Desa Mlaten. Dalam kegiatan ini, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya memanfaatkan media digital sebagai sarana utama promosi dan penjualan produk.
Para pengrajin diajak untuk mengenali potensi media sosial dan marketplace sebagai kanal pemasaran yang mampu meningkatkan visibilitas serta daya saing produk mereka. Materi yang diberikan menekankan bahwa kehadiran di platform digital bukan sekadar tren, tetapi merupakan strategi penting agar produk gerabah lebih mudah diakses, dikenali, dan diminati konsumen di pasar yang semakin kompetitif.
Bagi sebagian besar pengrajin, sesi ini menjadi pengalaman baru yang membuka wawasan sekaligus menjadi titik awal untuk mengembangkan usaha dengan pendekatan yang lebih profesional, adaptif, dan berbasis teknologi.
Pendampingan berikutnya difokuskan pada foto produk dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung pengembangan usaha para pengrajin gerabah di Desa Mlaten. Dalam kegiatan ini, pengrajin dibimbing secara langsung untuk memotret produk dengan teknik sederhana menggunakan pencahayaan alami, sudut pengambilan gambar yang tepat, serta pengaturan latar belakang yang menarik agar hasil foto lebih profesional dan layak dipasarkan secara digital.
Selain praktik fotografi, tim juga memperkenalkan pemanfaatan AI, khususnya ChatGPT, sebagai alat bantu kreatif yang dapat digunakan untuk menyusun deskripsi produk, ide konten promosi, hingga strategi pemasaran sesuai target pasar. Para pengrajin didorong untuk memanfaatkan teknologi ini layaknya asisten pribadi dalam mengembangkan bisnis, mulai dari membuat caption media sosial, merancang katalog sederhana, hingga mengeksplorasi ide kampanye pemasaran baru.
Melalui pendampingan ini, pengrajin tidak hanya memperoleh keterampilan teknis fotografi produk, tetapi juga diberdayakan agar mampu beradaptasi secara mandiri dan inovatif dengan perkembangan teknologi digital dalam mendukung keberlanjutan usaha mereka.
Untuk meningkatkan profesionalisme dan kesiapan usaha, para pengrajin gerabah di Desa Mlaten mendapatkan pelatihan terkait penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) serta praktik manajemen bisnis yang baik. Kegiatan yang dilaksanakan pada 02 Agustus 2025 ini menekankan pentingnya keteraturan dalam proses produksi, pelayanan, dan pencatatan usaha sebagai fondasi pengembangan bisnis yang berkelanjutan. Materi pelatihan mencakup penyusunan alur kerja yang jelas, pengelolaan persediaan, hingga penataan arus kas dan modal kerja secara sistematis. Dengan adanya SOP, para pengrajin diharapkan mampu menjalankan usaha secara lebih profesional, konsisten, dan siap memenuhi berbagai persyaratan ketika mengakses peluang kerjasama maupun pendanaan dari lembaga keuangan.
Selain pelatihan dan pendampingan, tim pengabdian masyarakat juga mengundang seorang pengusaha siomay yang telah berhasil mempertahankan usahanya secara turun-temurun sebagai contoh nyata bagi para pengrajin. Kehadiran narasumber ini memberikan inspirasi bahwa keberhasilan usaha keluarga tidak hanya bergantung pada produk yang dijual, tetapi juga pada komitmen menjaga kesinambungan, adaptasi terhadap perkembangan zaman, serta kemampuan mengelola usaha secara profesional. Melalui kisah tersebut, para pengrajin didorong untuk melihat bahwa meneruskan usaha keluarga, seperti kerajinan gerabah di Desa Mlaten, merupakan pilihan strategis yang mampu memberikan stabilitas ekonomi, identitas lokal yang kuat, dan peluang pengembangan yang lebih luas di masa depan.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan profesionalisme usaha, para pengrajin gerabah Desa Mlaten dibekali pemahaman mengenai pentingnya disiplin dalam pencatatan keuangan. Salah satu poin utama yang ditekankan adalah pemisahan antara keuangan pribadi dan keuangan usaha, yang selama ini sering menjadi kendala utama bagi pelaku UMKM. Untuk mendukung praktik tersebut, tim pengabdian menghadirkan pendampingan bersama perusahaan teknologi keuangan Kasir Pintar, yang memperkenalkan aplikasi pencatatan digital sederhana namun efektif. Melalui aplikasi ini, pengrajin dapat mencatat arus kas, persediaan, hingga laporan transaksi secara lebih mudah, cepat, dan akurat. Langkah ini diharapkan tidak hanya memudahkan pengelolaan keuangan sehari-hari, tetapi juga membangun kebiasaan tertib administrasi yang menjadi fondasi profesionalisme usaha, sekaligus mempersiapkan pengrajin agar lebih siap ketika mengakses pendanaan formal dari lembaga keuangan.
Sesi pelatihan ketiga ini masih akan dilakukan dan akan difokuskan pada pengenalan serta penggunaan teknologi tepat guna untuk mendukung efisiensi dan kreativitas produksi gerabah. Tim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) akan menghadirkan inovasi berupa alat pencetak dan pewarna gerabah yang dirancang untuk mempercepat proses produksi sekaligus memberikan variasi desain yang lebih beragam.
Dalam kegiatan tersebut, para pengrajin akan mendapatkan pendampingan langsung mengenai cara mengoperasikan alat, teknik pewarnaan, hingga pemeliharaan agar alat dapat digunakan secara optimal dan berkelanjutan. Sesi ini diharapkan mampu membuka wawasan baru bagi pengrajin tentang pentingnya pemanfaatan teknologi dalam usaha, sekaligus menjadi langkah nyata dalam meningkatkan daya saing produk gerabah Mlaten di pasar yang lebih luas. ril




































