Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bank Indonesia (BI) dan Komisi XI DPR RI mengadakan Edukasi Keuangan bagi Pelaku UMKM dan Ibu Rumah Tangga Pejuang Ekonomi Keluarga di Kantor OJK Provinsi Jawa Timur, Surabaya, pada Jumat (30/8/2024). (dok/duta.co)

SURABAYA | duta.co – Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Ibu Rumah Tangga menjadi tonggak keberhasilan bila sukses mengelola keuangan. UMKM menjadi tonggak ekonomi dalam negeri sementara Ibu Rumah Tangga menjadi kunci keberhasilan dalam sebuah rumah tangga. Dua segmen inilah yang menjadi sasaran edukasi kolaborasi tiga institusi.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bank Indonesia (BI) dan Komisi XI DPR RI mengadakan Edukasi Keuangan bagi Pelaku UMKM dan Ibu Rumah Tangga Pejuang Ekonomi Keluarga di Kantor OJK Provinsi Jawa Timur, Surabaya, pada Jumat (30/8/2024).

Acara ini menghadirkan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi & Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi; Anggota Komisi X DPR RI, Indah Kurnia; dan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti sebagai pembicara sekitar 200 pelaku UMKM dan Ibu Rumah Tangga.

Destry Damayanti dari Bank Indonesia menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap penipuan sistem pembayaran seperti phising dan penipuan digital lainnya.

“Sekali klik, informasi bisa masuk ke sistem (handphone) dan mengakses data yang ada di dalamnya,” jelas Destry.

Ia menegaskan bahwa lembaga jasa keuangan harus selalu menjaga keamanan cyber serta memberikan edukasi kepada konsumen.

Destry juga mencatat bahwa akses teknologi digital di kalangan perempuan lebih tinggi dibandingkan pria, dengan sekitar 135 juta perempuan yang memiliki akses. Bank Indonesia menargetkan literasi keuangan bagi perempuan di atas usia 18 tahun dan anak muda usia produktif, yang merupakan sekitar 70 persen dari total penduduk. Penipuan berbasis produk jasa keuangan digital menjadi perhatian utama.

“OJK, Bank Indonesia, dan DPR bekerjasama dalam Gerakan Edukasi Bersama Perlindungan Konsumen (GEBER PK) untuk mengatasi masalah ini secara nasional,” ujar Destry.

Program PEKA juga diperkenalkan untuk meningkatkan kesadaran ibu rumah tangga terhadap transaksi keuangan dan mendorong mereka untuk melaporkan jika terjadi masalah.

Sementara Friderica Widyasari Dewi dari OJK menambahkan bahwa perempuan harus waspada terhadap aktivitas keuangan ilegal seperti judi online dan arisan bodong. OJK bersama BPS mencatat bahwa literasi keuangan saat ini mencapai 65 persen dan inklusi keuangan 75 persen. Ia berharap program ini dapat meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.

“Akan terus ditingkatkan literasi dan inklusi keuangan. Tujuannya agar pelaku UMKM dan ibu-ibu tidak mudah dibohongi dengan banyaknya penipuan yang terjadi saat ini,” jelasnya.

Friderica juga mendorong ibu-ibu rumah tangga untuk memeriksa legalitas produk jasa keuangan dan berhati-hati dalam mengelola keuangan, terutama dalam menggunakan layanan PayLater yang dapat mempengaruhi catatan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

“Banyak ibu yang terjebak dalam penggunaan produk keuangan tanpa memahami sepenuhnya risiko dan syaratnya. Hal ini dapat berujung pada masalah yang lebih serius,” ujarnya.

Dengan kompleksitas produk keuangan dan kemajuan teknologi yang terus berkembang, pemahaman dan kesiapan menjadi sangat penting untuk memastikan keberhasilan ekonomi keluarga

Anggota Komisi XI DPR RI, Indah Kurnia, menekankan peran penting perempuan sebagai pejuang ekonomi keluarga dan pentingnya kecerdasan dalam mengelola keuangan untuk menghindari penipuan. Ia juga menyebutkan bahwa pemahaman literasi keuangan di kalangan perempuan, terutama pelaku UMKM, sudah menunjukkan kemajuan signifikan.

“Saat ini ibu rumah tangga yang punya usaha keren, bisa membantu perekonomian keluarga. pastinya manajemen keuangan harus bisa dikendalikan sehingga berjalan keduanya,” jelasnya.

Dr. Muhammad Afta Buddin Rizaluzzaman, Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, menyampaikan dukungan pemerintah terhadap pemberdayaan perempuan melalui UMKM, yang berkontribusi 54 persen terhadap perekonomian Jatim. Pemerintah juga membangun berbagai program untuk mendukung pengusaha kecil dan UMKM agar terus berkembang.

“Pemprov Jatim sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada OJK atas inisiatif ini. Peran perempuan saat ini tidak hanya sebagai ibu rumah tangga, namun juga harus menjadi penopang ekonomi keluarga.

“Peranan perempuan dalam UMKM di Jawa Timur sangat signifikan, sekitar 54% dari total UMKM di Jatim. Dengan bonus demografi yang kita miliki, perempuan mempunyai kesempatan untuk mewujudkan Indonesia emas 2045,” ujar Aftabuddin.

Ia menambahkan, edukasi keuangan ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pelaku UMKM dan ibu rumah tangga dalam mengelola keuangan, sehingga dapat menjalankan usaha dengan lebih efisien dan efektif.

Salah satu pelaku UMKM peserta kegiatan, Anita (35), mengaku sangat terbantu dengan materi yang diberikan. “Saya belajar banyak tentang cara mengelola keuangan usaha dengan benar. Saya juga mendapat masukan tentang bagaimana memasarkan produk secara online,” katanya.

Sementara itu, seorang ibu rumah tangga bernama Dewi (40) mengaku terinspirasi untuk memulai usaha setelah mengikuti kegiatan ini. “Saya awalnya ragu untuk memulai usaha, tapi setelah mendapat edukasi ini, saya jadi termotivasi untuk mencoba membuka usaha,” ujarnya. Imm

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry