
Oleh Mukhlas Syarkun*
ANWAR Ibrahim atau sering disebut Perdana Menteri ke-10 (PMX) Malaysia, saat dilantik menjadi PM, negeri ini dilanda krisi yang sangat kompleks. Ekonomi merosot, kondisi sosial politik rawan, bahkan citranya di dunia internasional sangat buruk. Ini akibat skandal korupsi elitnya.
Butuh sentuhan profesional. Melalui keuletan Anwar Ibrahim, negeri ini berlahan melakukan perbaikan dan mampu memulihkan keadaan ekonomi secara bertahap. Malaysia mulai pulih, citra positif d idunia internasional pun mulai terlihat, bahkan mendapat penghargaan sebagai tokoh ke-11 dari 500 pemimpin muslim yang paling berpengaruh di dunia Islam. Bukan pekerjaan gampang.
Tetapi, belakangan ini PMX menghadapi tekanan hebat dari oposisi yang selalu mencoba untuk menjatuhkan, dan bahkan kini rekan koalisinya ikut memberikan tekanan dengan cara mencetuskan isu rasisme dan opini yang berbau fitnah.
Tak hanya dari dalam, tekanan juga datang dari negara adi daya ASÂ (Amerika Serikat). Di mana sebagian parlemen minta hubungan dengan Malaysia ditinjau ulang. Tekanan ini disebabkan sikap Anwar Ibrahim yang tegas menolak penjajahan Israel atas Palestina dan tak memberi izin bagi warga Israel yang mau masuk Malaysia
Oleh karena itu, kebijakan ini menimbulkan spekulasi (tindakan menduga-duga) bahwa tekanan kepada PMX bagian dari konspirasi dan kolaborasi (elit Malaysia dan USA) untuk menjatuhkan dia dari kekuasaannya. Jika itu terjadi, maka stabilitas dan kondusivitas rantau ASEAN akan terganggu.
Oleh karena itu, rakyat Malaysia harus mawas diri, jangan membiarkan Anwar Ibrahim sebagai Perdana Menteri menghadapi tekanan sendirian. Rakyat harus berada di belakang PMX untuk menjaga kedaulatan, maruah bangsa dan negara.
Sebab, kejatuhan PMX jelas akan memicu krisis politik dan tentu krisis ekonomi yang berkepanjangan bagi warga Malaysia. Mencemaskan bukan!!! (*)




































