
SURABAYA | duta.co – Orang bilang kopi asli itu pahit sebelum ditambah dengan gula, krimer dan topping lainnya. Namun bagi Muhammad Syafiq Zusmi (35) owner Kofind Coffee Co. dalam pahitnya secangkir kopi punya banyak cerita suka duka perjalanan menemukan jati diri. Juga kisah suka petani kopi dari pusat kopi di Indonesia yang berhasil ditemuinya guna mendapatkan kopi terbaik.
Dalam satu perbincangan dengan penulis di Kofind Coffee Co., (Syafiq) panggilan akrabnya mengaku kecintaannya terhadap kopi sudah muncul sejak masih muda. Perjalanan mulai serius saat kuliah di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Surabaya, Syafiq mengikuti pemeran dan jualan kopi di kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) lima belas tahun lalu.
Lulus dan menyandang sarjana Teknik Sipil dari UPN tahun 2014 lalu, Syafiq melamar kerja kantoran di perusahaan konstruksi sesuai jurusan kuliah yang dipilih. Meski demikian kecintaannya terhadap kopi tidak surut, tetap belajar tentang kopi langsung dari asosiasi kopi yakni Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Jatim yang pusatnya di Kota Surabaya.
Selama kurang lebih 3 tahunan sembari bekerja, semangat untuk mempelajari dan mengenal kopi berkualitas dari seluruh Indonesia bukannya surut malah menyala. Sembari bekerja tetap berjualan kopi meski belum menggunakan brand Kofind Coffee Co. yang dipakai sejak 2017 sampai saat ini.
Guna mencari kopi terbaik langsung dari petani, Syafiq mengaku rela mendatangi mereka langsung di lokasi tanam di sejumlah daerah di Indonesia dan berhasil menjalin hubungan dengan kelompok petani kopi di seluruh Indonesia. Bekal inilah menjadi bekal Syafiq serius menggeluti kopi dan bisnis perkopian dan memutuskan keluar dari pekerjaan kantoran dengan mendirikan brand Kofind Coffee Co. tahun 2017.
“Berbekal keyakinan, pengalaman tentang perkopian yang terus dipelajarinya dan bondo nekat (Bonek), mantap tinggalkan kerja kantoran pilih fokus usaha kopi. Jualan Kopi kok makin lama makin menantang dengan cuan besar, akhirnya keterusan,” tegas Syafiq optimistis.
Syafiq dengan visi ke depan memilih brand Kofind yang punya arti Kopi From Indonesia. Target Kofind tidak hanya menjadikan olahan kopi Kofind di pasar dalam negeri melainkan juga manca negara.
“Kofind itu singkatan Kopi From Indonesia. Karena kita tiap bulan ganti kopi dari berbagai wilayah di indonesia dan luar negeri namun tetap roastingnya di indonesia. Dan harapan kalau ekspor ke luar negeri speling brand Kofind mudah dikenali.”
Bagi Syafiq Kofind Coffee Co. lahir dari kecintaan terhadap kopi dan keinginan menghadirkan pengalaman ngopi yang berbeda. Kami bukan sekadar roastery biasa, melainkan artisan specialty coffee roastery yang berkomitmen menjaga kualitas dan keaslian rasa dalam setiap biji kopi.
“Pusat kami di Surabaya, kami menghadirkan kualitas kopi terbaik melalui proses roasting yang presisi dengan pendekatan handcrafted. Menjaga karakter alami dan kompleksitas rasa dari setiap origin kopi dari Indonesia maupun mancanegara. Setiap biji kopi dikurasi dengan cermat, berfokus pada kejernihan rasa, keseimbangan, dan kemanisan, untuk menciptakan pengalaman kopi yang refined dan tak terlupakan.”
Kofind Etalase Kopi Nusantara Untuk Sejahterakan Petani
Keyakinan Syafiq berhenti kerja kantoran dan fokus membesarkan Kofind karena punya relasi langsung ke petani kopi di sejumlah daerah di Indonesia. Sudah hampir semua pusat kopi di Indonesia dikunjungi dengan ribuan petani langsung ataupun dalam poktan (kelompok petani) kopi.
Menurut Syafiq Indonesia salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia dengan karakteristik rasa unik di setiap wilayahnya. Pusat produksi kopi di Indonesia tersebar dari ujung barat hingga ujung timur, yang secara umum dibagi berdasarkan jenis kopi yang mendominasi.
“Pulau Sumatra tulang punggung industri kopi Indonesia jenis Robusta maupun Arabika. Sumatra Selatan, provinsi penghasil kopi terbesar di Indonesia secara volume, dengan pusat perkebunan di Lahat, Pagaralam, dan Muara Enim. Wilayah ini sangat terkenal dengan kopi Robusta yang pekat,” jelas Syafiq.
Sumatra Utara terkenal kopi Arabika klasiknya seperti Kopi Mandailing (di Mandailing Natal) dan Kopi Lintong (di Humbang Hasundutan). Dan Bengkulu juga masuk dalam jajaran 5 besar penghasil kopi (mayoritas Robusta).
Sedangkan Lampung menjadi lumbung utama Robusta Indonesia. Daerah seperti Lampung Barat dan Tanggamus memproduksi kopi Robusta berkualitas tinggi yang menjadi komoditas ekspor utama melalui Pelabuhan Panjang.
“Aceh (Dataran Tinggi Gayo), Pusat kopi Arabika premium yang mendunia. Meliputi wilayah Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Dataran tinggi Toraja (seperti Tana Toraja dan Enrekang) salah satu pusat kopi Arabika paling ikonik di dunia.”
Sementara untuk Jawa Timur sentra utama di Jawa, khususnya di kawasan Ijen-Raung (Bondowoso dan Banyuwangi). Jawa Barat, terkenal dengan wilayah pegunungan Priangan (Preanger) seperti Gunung Malabar, Kamojang, dan Puntang yang menghasilkan kopi Arabika.
Pusat kopi Arabika di Bali yang unik karena ditanam di lahan vulkanik bersama dengan pohon-pohon jeruk. Sementara Nusa Tenggara Timur (Flores Bajawa), berpusat di dataran tinggi Ngada, Flores. Kopi Arabika Bajawa sangat terkenal dengan aroma bunga (floral).
“Dari pusat kopi di Indonesia, hanya Papua yang belum dikunjunginya namun bisa mendapatkannya lewat online dari relasi yang didapatkanya. Pulau Papua di Wamena (Lembah Baliem) & Moanemani menjadi pusat kopi organik di timur Indonesia. Kopi Papua tumbuh di ketinggian secara alami tanpa pupuk kimia, menghasilkan rasa sangat halus, body padat, serta aroma cokelat dan buah kuat. Hanya ke Papua inilah yang belum kesampaian mengunjungi,” katanya.
Syafiq menambahkan di Kofind tersedia puluhan jenis kopi dari berbagai pusat produksi kopi di Indonesia dan dunia. Dimana kopi-kopi tersebut secara reguler dikirim ke Kofind dalam bentuk utuh untuk diroasting dan kemudian jadi produk.
“Ini buah dari hasil blusukan keliling ke pelosok Indonesia cari kopi dari petani langsung sekitar tahun 2014 sampai sekarang. Dari kunjungan tersebut selain bawa kopi juga menjalin hubungan petani ataupun kelompok tani. Dari rutinitas tersebut punya data based serta produk kopi dari pelosok pusat kopi di seleuruh Indonesia. Kalau dihitung bisa ribuan petani yang secara reguler mensuplai kopi ke Kofind,” ujar Syafiq.
Kini jaringan Kofind sudah hampir di seluruh Indonesia, juga event kopi hampir tiap tahun ada menjadi kesempatan menambah relasi tanpa harus berkunjung ke petani di lokasi setempat. Selain berbagi pengalaman soal penanganan kopi juga menambah koneksi yang selama ini belum dipunyai Kofind.
“Ke lokasi masih tetap dilakukan meski tidak sering sampai saat ini. Misalnya pas ke Aceh atau Jawa Barat tetap mencari lokasi kopi baru yang belum dipunyai dan ingin di ambil sebagai tambahan portofolio Kofind termasuk Kopi Papua.”
Biaya Kuliah S2 Untuk Beli Roaster Kopi

Di tengah usahanya mengembangkan Kofind lebih besar lagi, Syafiq berniat melanjutkan kuliah magister dan diterima di Universitas Airlangga (Unair) jurusan managemen. Dengan modal Rp 50 juta yang disiapkan hasil kerja kantoran dan jualan kopi selama ini. Tapi niat kuliah S2 batal dan budgetnya dialihkannya beli mesin roaster dan perlengkapan Kofind.
Syafiq tidak menyesal dengan keputusan tidak jadi kuliah, justru makin semangat membesarkan Kofind sebagai pusat roaster sekaligus etalase kopi dunia. Kofind tidak hanya mengolah puluhan kopi asal Indonesia, juga dari luar negeri. Seperti dari Singapura, Columbia dan Afrika yang didatangkan guna memberi pilihan pengunjung Kofind.
“Ra sido wes kuliah e S2, gawe bondo besarno Kofind (tidak jadi kuliah S2, buat modal besarkan Kofind,” tegas Syafiq.
Benar saja dengan tekat kuat, Syafiq mulai memposisikan Kofind sebagai pusat roaster kopi sekaligus tempat kumpul pecinta kopi sekaligus mencicipi di kedai satu-satunya di Kota Surabaya di Jl. Kebonsari Tengah No.103, Kebonsari, Surabaya.
Pelan namun pasti Kofind kini jadi rujukan roasting sekaligus minum kopi nusantara dan luar negeri sekaligus. Untuk kualitas, Kofind sangat ketat menjaga kopi yang diolah dan dipasarkan dengan standar tinggi.
Bagi Syafiq kopi itu setiap daerah punya karakter beda dengan perlakuan yang harus teliti. Contohnya panen kopi Gayo tahun lalu bisa beda dengan tahun ini karena iklim juga karena saat petik belum matang.
“Kofind secara reguler tiap bulan merilis produk kopi yang siap jual dan seduh paling tidak enam kopi nusantara dan satu luar negeri,” tegas Syafiq.
Syafiq menambahkan untuk menjaga citra Kofind hampir tiap minggu riset kopi kiriman para petani dari nusantara. Meski sudah jadi pemasok reguler, Kofind tetap perlu meriset kembali sebelum dipajang dan dinikmati pecinta kopi.
“Sampel di roasting dulu enaknya di ulik sampai komposisi yang pas enaknya seperti apa. Untuk mendapatkan kopi kulitas presisi sekarang sudah canggih pakai aplikasi, lebih mudah dan presisi,” ujarnya.
Untuk kiriman petani kopi nusantara Syafiq membatasi 20-50 kg sekali kirim. Pembatasan kiriman menjaga kualitas dan menghindari penumpukan stok. Sehingga kopi yang ada di Kofind terus baru dari masing-masing daerah.
“Ada dua jenis kopi yang dijual dan bisa dinikmati di Kofind yakni filter coffee dan espresso coffee. Bagi pecinta kopi cocok yang jenis filter coffee, sementara espresso coffee jualannya lebih kencang dipakai banyak coffe shop dengan aneka campuran seperti susu dan krimer. Biasanya untuk produk espresso ambilnya bisa langsung berkilo-kilo sesuai kebutuhan.”
Syafiq mengakui banyaknya beroperasi coffe shop di kota Surabaya dan daerah mulai skala kecil dan besar menjadi pasar bagi Kofind. Selama ini selain orang datang membawa kopi untuk di roasting, Kofind juga mensuplai kopi yang sudah diolah ready untuk coffe shop.
Nikmati Kopi Nusantara dan Dunia Cukup di Kofind
Lokasi Kofind di Jl. Kebonsari Tengah No.103, Kebonsari Surabaya tidak besar dengan menempati ruangan kisaran 5×10 meter. Namun Kofind tetap mendapat tempat bagi pecinta kopi dengan sajian kopi berkualitas yang bisa dipilih.
Setiap pengunjung yang masuk langgsung melihat etalase beragam kopi dalam display. Setelah itu pengunjung bisa memilih deretan kopi yang ada di display ataupun di meja. Dalam sebulan Kofind memilih paling tidak 6 kopi lokal plus 1-2 kopi luar negeri yang bisa dipilih.
Setelah itu barista Kofind menjelaskan asal mula kopi, cara prosesnya dan kelebihan masing-masing kopi. Pengunjung bisa memilih kopi yang diinginkan, melihat penggilingan kopi manual, proses menuangkan air panas ke cup dan siap disajikan.
Ari Firman Barista Kofind mengatakan perlunya menjelaskan sebelum nyruput perlu dikenalkan kopi apa yang diminumnya. Harapannya, sambil minum membayangkan sedang berada di kebun atau kota asal kopi tanpa harus datang ke lokasi asal kopi.
“Banyak yang penasaran dengan rasa kopi nusantara. Selama ini mungkin kalaupun minum kopi dari daerah tertentu tidak dijelaskan kelebihan dan masing-masing punya rasa dan aroma yang berbeda. Disinilah keunikan yang ingin dirasakan penikmat kopi,” jelas Ari.
Ari menjelaskan Kopi Toraja sangat digemari di pasar internasional, terutama Jepang dan Eropa, karena memiliki rasa yang kaya, keasaman rendah, dengan sentuhan rasa kacang atau cokelat.
“Sementara kopi Ijen-Raung (Bondowoso dan Banyuwangi) terkenal dengan kopi Arabika bercita rasa cenderung citrus (seperti jeruk). Daerah Dampit (Malang) juga sangat terkenal dengan Robustanya.”
Jabar menghasilkan kopi Arabika dengan rasa yang cenderung manis buah (fruity) dan clean. Sementara kopi Arabika di Bali menghasilkan kopi dengan rasa asam segar khas buah jeruk. Kopi Arabika Bajawa sangat terkenal dengan aroma bunga (floral), tingkat kekentalan medium, dan aftertaste manis seperti cokelat atau karamel.
Kopi bagi Rio (35) dan Michael (28) adalah mood boster. Keduanya bisa dikatakan pecinta kopi berat, karena Rio mengaku bisa minum 10 gelas kopi, sementara Micahel lebih parah pernah sehari minum 20 gelas. Keduanya mengunjungi Kofind mau roasting kopi yang dibawa untuk keperluan pribadi dan coffe shop yang dimiliki sekaligus menikmati kopi.
Rio mengaku menyukai kopi setelah melihat ayahnya yang selama ini sering kena asam lambung justru kembali normal dengan minum kopi asli tanpa campuran. Dari situ Rio mengaku mencoba minum kopi original bukan kopi ala gen z yang banyak campurannya.
“Kopi bikin badan semangat dan bikin mood meningkat. Hanya saja saking senangnya sama kopi, kadang over sehari bisa lebih minum kopi yang ideal sehari 5 gelas. Dan Kofind tempat yang pas untuk roasting dan minum kopi nusantara dan global malahan. Duduk sambil membayangkan minum kopi dari Ethiopia, Columbia dan Singapura lebih irit, selain kopi nusantara yang ada,” ujar Rio.
Sementara Michael yang bisa meracik kopi ala barista lebih maniak karena dalam sehari pernah minum 20 gelas. Dan karena over minum, pernaha ngedrop sehingga disarankan dokter minum kopi secukupnya.
“Sakit bikin harus membatasi minum kopi. Kopi bagus untuk kesehatan, mood boster dan jatung kalau minumnya wajar maksimal 5 gelas. Seringkali saya malah kebablasan saking senangnya dengan kopi. Hanya dengan mencium aroma kopi bisa lansung tertarik buat dan meracik kopi sendiri ataupun datang ke coffe shop termasuk Kofind.”
Kini setelah kejadian kesehatannya, Michael harus membatasi minum kopi maksimal sehari 10 gelas. Dan kenapa menyukai datang ke Kofind lengkap djenis kopinya sekaligus bisa melihat prosesi roasting dan menikmati seduhan kopi.
“Kofind salah satu tempat kumpulnya pecinta kopi. Dari Kofind juga bisa belajar komposisi saat roasting dan mencari racikan yang pas dari kopi jenis tertentu,” jelas Micahel.
Penjualan Online 70 Persen, JNE jadi Prioritas

Minum kopi kini bisa dengan mudah memilih dari daerah tertentu bahkan dari luar negeri. Hanya dengan klik via HP bisa mendapatkan kopi sesuai keinginan. Didukung jasa logistik yang cepat, hitungan hari sudah bisa menikmati kopi di rumah.
Kofind gerak cepat memenuhi kebutuhan pecinta kopi di Indonesia dan manca negara dengan hadir di semua marketplace dan media sosial sejak enam tahun lalu saat covid mulai melanda Indonesia. Dampaknya luar biasa, penjualan dari market place dan promosi di medsos melonjak signifikan.
Syafiq mengaku dari total produksi Kofind kisaran 500-1000 kg per bulan penjualan online mendominasi 70 persen. Penjualan online pun ada dua jenis, yang lewat marketplace dan medsos. Untuk pengiriman lewat market place sudah ditentukan jasa logistiknya sesuai pilihan pembeli.
“Untuk pembelian langsung, prioritas pertama pasti JNE. Harga lebih bersaing, cepat sampai dan jaringan sampai daerah terpencil. Satu kelemahannya, orderan di atas jam 14.00 diambilnya masuk pengiriman besok, padahal makin cepat diambil dan sampai kepada pelanggan,” jelas Syafiq.
Diakui Syafiq banyak pembeli kopi Kofind dari manca negara sering terkendala pada masalah pengiriman. Selain perlu dokumen lebih komplit, perusahaan jasa logistik lokal termasuk JNE masih kalau bersaing dengan logistik global.
“JNE punya lini JNE International Express, namun untuk keperluan kirim paket seperti kopi perlu dokumen lebih detil dana rinci. Sementara logistik global lebih pengalaman dan harga lebih kompetitif,” jelas Syafiq yang mengaku pernah mengecewakan pembeli dari Qatar dan Brunei karena tidak bisa mengirim kopi Kofind terkendala dokumen.
Saran Syafiq kepada JNE layanan pengiriman dengan tujuan ke luar negeri harus lebih dipercepat dan dipermudah. Potensi kopi dan produk Indonesia di pasar luar negeri besar, dengan layanan yang cepat, mudah pastinya bakal dilirik UMKM Indonesia yang punya produk untuk pasar global.
“Kendala lain pengiriman kopi ke Indonesia Timur mahal, lebih murah ke negara Asean. Pengalaman Kofind kirim ke Singapura per kilo Rp 60 ribu, ke NTT dan Papua justru kisaran Rp 90 ribu per kg. Kalau bisa JNE punya tarif kusus buat Indonesia Timur, makin banyak pecinta kopi disana yang menikmati kopi nusantara dan dunia dari Kofind.” Tegas Syafiq.
JNE Angkat Kekuatan Cerita Lokal Indonesia
JNE tidak hanya sebagai perusahaan logistik yang terus berkembang dan melakukan inovasi. JNE juga berupaya menghadirkan ruang-ruang kreativitas agar komunitas dan generasi muda dapat tumbuh, berkompetisi, sekaligus menampilkan karya terbaiknya.
SVP Marketing Group Head JNE, Eri Palgunadi menekankan pentingnya menghargai kreativitas yang lahir dari keberagaman budaya dan lokalitas di setiap daerah Indonesia. Setiap wilayah memiliki cerita dan karakter yang berbeda. Tantangannya saat ini adalah bagaimana merangkum seluruh kekayaan lokal tersebut menjadi kekuatan bersama bagi Indonesia.
“Setiap daerah punya lokalitas masing-masing. Dari Aceh, Jawa sampai Papua, semuanya punya cerita. Tantangannya adalah bagaimana semua cerita itu bisa menjadi kekuatan bersama yang membentuk Indonesia,” ujarnya disela roadshow “Think Creative” Vol 6 JNE Content Competition 2026 di Unair 19 Mei 2026.
Eri menjelaskan, semangat tersebut sejalan dengan filosofi bisnis JNE yang selama ini dikenal melalui tagline Connecting Happiness. Ia menilai, pertumbuhan JNE tidak terlepas dari dukungan ekosistem dan komunitas yang terus berkembang bersama perusahaan.
“Komunitas itu kalau mau tumbuh harus punya ruang untuk berkreasi dan berkompetisi. Workshop ini menjadi salah satu cara kami merangkul ekosistem kreatif tersebut,” katanya.
Tak hanya di luar perusahaan, budaya apresiasi terhadap kreativitas juga diterapkan di lingkungan internal JNE. Eri menyebut, sebagian besar karyawan JNE berasal dari generasi muda yang memiliki potensi dan kreativitas besar.
Dengan jumlah karyawan yang mencapai hampir 50 ribu orang di seluruh Indonesia, JNE berupaya membangun hubungan kerja yang tidak sekadar formal, melainkan sebagai mitra dan bagian dari keluarga besar perusahaan.
“Kami menghargai setiap orang bukan hanya sebagai aset, tetapi partner kerja. Sampai hari ini kami bersyukur bisnis logistik masih terus tumbuh dan menjadi bagian dari perubahan besar di masyarakat,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, industri logistik nasional masih menunjukkan tren pertumbuhan positif, seiring meningkatnya sektor ritel dan lahirnya banyak pelaku usaha baru. Pertumbuhan bisnis logistik JNE bahkan disebut masih berada di kisaran 10 hingga 20 persen setiap tahun.
Fenomena berkembangnya wirausaha berbasis digital juga menjadi faktor pendorong utama. Saat ini, menurut Eri, sekitar 60 hingga 70 persen pelaku usaha memanfaatkan kanal digital seperti media sosial, marketplace, hingga aplikasi pesan instan untuk menjalankan bisnisnya.
“Sekarang orang jualan lewat media sosial, marketplace, bahkan WhatsApp. Semua itu tumbuh besar. Produk-produk lokal juga jadi lebih mudah dikenal masyarakat luas,” katanya.
Ia mencontohkan, produk seperti kopi lokal dari Madura yang dulu sulit dikenal masyarakat luas, kini dapat menjangkau pasar lebih besar berkat dukungan teknologi digital dan logistik. Banyak produk lokal berkualitas dari sejumlah daerah di Indonesia kini bisa menjangkau pasar dalam dan luar negeri.
Melalui kegiatan ini, JNE berharap semakin banyak generasi muda yang berani menuangkan ide kreatif menjadi karya yang memiliki nilai cerita, sekaligus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan kewirausahaan di Indonesia. (imam ghozali)





































