Gus Irfan (kiri) dan Sholeh Basyari (kanan). FT/IST

SURABAYA | duta.co – Video pendek Menteri Haji dan Umrah RI, KH Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan tentang Nahdlatul Ulama (NU) dinilai sebagai kode keras Pondok Pesantren Tebuireng. Apalagi dalam video tersebut Gus Irfan dengan jelas menyebut dirinya sangat malu, kecewa bahkan marah melihat dinamika yang berkembang di tubuh NU jelas Muktamar ke-35, Agustus 2026 mendatang.

“Saya melihat ada tiga pesan penting yang tengah disampaikan Gus Irfan sebagai dzurriyah Mbah Hasyim, pengasuh PP Tebuireng, Jombang. Pertama, bahwa, pemerintah (dalam hal ini Presiden Prabowo) sangat tegas tidak ingin cawe-cawe soal muktamar. Beliau (Prabowo red.) ingin yang terbaik bagi nahdliyin ke depan,” jelas Dr Moh Sholeh Basyari, pengamat politik santri yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif di lembaga CSIIS (Center for Strategic on Islamic and International Studies) kepada duta.co, Jumat (3/7/26).

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) ini, di samping pemerintah tegas tidak ikut campur, Gus Irfan juga memberikan tanda-tanda ‘kalau NU ribut terus’, maka, dzurriyah almaghfurlah KH Hasyim Hasyim Asy’ari — sebagai muassis (pendiri) NU — siap mengambil alih. “Saya melihat kesiapan Gus Kikin (KH Hakim Mahfudz – Ketua PWNU Jawa Timur) untuk mengambil alih kepemimpian NU. Beliau dikenal sebagai sosok yang teduh, tidak suka gaduh,” tegasnya.

Kedua, lanjutnya, Presiden Prabowo Subianto tahu betul tentang NU, termasuk kontribusinya kepada tegaknya NKRI (Negara Kesantuan Republik Indonesia). “Tetapi, Presiden juga tahu betul tentang dinamika NU setahun belakangan. Maka, jalan terbaiknya adalah tidak perlu cawe-cawe, lebih mementingkan yang terbaik untuk NU. Bagaimana pun soliditas NU sangat dibutuhkan demi NKRI,” tambahnya.

Ketiga, Presiden Prabowo, lewat Gus Irfan, ingin mengingatkan kepada semua pihak untuk tidak ikutan mengotori NU. Keberadaan Nahdlatul Ulama di mata pemerintah Indonesia, sangatlah penting. Tidak ada ormas keagamaan sebesar NU. “Di sini, ada ‘jalan lempang’ bagi Bani Hasyim untuk menata PBNU. “Tidak bisa dinafikan, dalam video itu Gus Irfan menyertakan sosok Gus Kikin sebagai figur yang teduh, ini bisa menjadi pertimbangan pengurus NU. Kalau PBNU sekarang tidak siap damai, maka, masih ada amunisi ‘pamungkas’ dari Bani Hasyim. (Gus Kikin red) ini membuat nahdliyin tenang,” terangnya.

Gus Irfan Pun Malu

Dalam video itu, tampak Gus Irfan mempertanyakan kondisi yang menurutnya berbeda dengan nilai-nilai yang diwariskan para pendiri NU. Saat itu, ia mengaku baru saja menghadiri promosi doktor yang membahas (muqoddimah) Qonun Asasi NU dan ia menilai nilai-nilai tersebut perlu kembali segera dijadikan pedoman.

“Saya ini sebagai bagian dari keluarga besar Nahdliyin, ya, bisa dikatakan saya sebagai keluarga dari pendiri, sangat malu. Sangat malu, sangat kecewa, bahkan dalam tanda petik, ‘sangat marah’ dengan apa yang terjadi di sini. Mudah-mudahan mereka ini sadarlah,” ungkapnya dalam video itu.

Menurut Gus Irfan, NU merupakan amanah yang harus dijaga, bukan organisasi yang dijadikan ajang perebutan kekuasaan. Dalam pernyataannya, Gus Irfan berharap Muktamar 2026 dapat berlangsung teduh, menjunjung nilai keikhlasan para ulama, serta mengembalikan NU pada semangat yang diwariskan para pendirinya.

“Saya berharap bahwa Muktamar nanti bisa menjadi Muktamar yang sejuk. Muktamar yang menggambarkan bahwa itulah Nahdlatul Ulama, itulah NU, itulah ulama. Kami tidak ingin Muktamar NU menjadi Muktamar seperti Muktamarnya partai politik, di mana saling berebut, saling menolak, saling menjegal. Itu bukan, bukan Muktamarnya Nahdlatul Ulama,” ujar Gus Irfan.

Menurut dia, para petinggi NU seharusnya bercermin kepada para kiai pendahulu yang justru saling menolak ketika diminta menjadi pengurus karena menganggap jabatan sebagai amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan di dunia maupun akhirat. “Kita minta para petinggi-petinggi NU berkaca pada para pendahulu-pendahulu kita, kiai-kiai terdahulu, di mana mereka semuanya saling menolak untuk dipilih menjadi pengurus, karena mereka merasa bahwa itu tanggung jawab yang berat, tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan dunia maupun akhirat,” ucapnya. (mky,net)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry