Keterangan foto muslimobsession.com

“Hampir semua aktivis sepakat, bahwa, arah reformasi yang dimulai 21 Mei 1998, kini berusia 22 tahun, sudah terlalu jauh menyimpang dari cita-cita awal.”

Oleh Mokhammad Kaiyis*

MENARIK! Anton Permana dari Tanhana Dharma Mangrwa Institute, menyuguhkan kisah menarik melalui video pendek berdurasi 6:12 menit. Sampai Jumat (22/5/2020), video ini masih ‘kluyuran’ di grup-grup WhatsApp.

Adalah dialog singkat. Terjadi di atas kereta api. Seorang profesor asal Perancis dengan pria tua yang, sesekali menendang buntalan karung bawaannya. Kebetulan, sang profesor, duduk persis di samping pak tua itu.

Awalnya, dia tak begitu peduli dengan pria tersebut. Tetapi, begitu melihat ada yang ganjil di mana pria itu — setiap lima atau sepuluh menit — selalu menendang-nendang buntalan karungnya. Lalu, menggoyang-goyangnya sampai berulang kali. Ini membuat profesor terheran.

Spontan ia bertanya. “Kalau saya boleh bertanya Tuan, benda apa yang Anda bawa di dalam karung itu?” demikian tanya profesor.

Pria tua itu menjawab dengan senang, itung-itung salam persahabatan dalam perjalanan. “Ohh ini adalah tikus, Tuan. Ini saya ambil dari ladang gandum saya,” jawabnya bangga.

Tikus satu karung? Profesor penasaran. “Untuk apa tikus sebanyak itu, jauh-jauh Anda bawa untuk siapa?” tanyanya lagi.

“Ini tikus sudah diorder. Buat laboratorium, sebuah penelitian pemerintah. Saya mau mengantarkannya langsung. Dan ini sudah biasa saya lakukan dalam beberapa tahun ini,” jawabnya lugas.

Sampai di sini, tidak masalah. Bagi profesor, tikus, menjadi bahan penelitian, adalah lumrah.

Tapi, yang membuat dia bengong adalah cara pak tua ini saat membawa barang tersebut. “Kenapa Anda selalu menendang tikus-tikus itu, dan sesekali menggoyang-goyang karungnya?” tanyanya penasaran.

Apa jawab pria tua itu? “Ooooh kalau itu, sudah tradisi kami sejak dulu. Saya menendang dan menggoyang-goyangnya, agar tikus-tikus itu selalu sibuk dan ribut antarsesama dalam karung,” tambahnya.

“Karena, kalau tenang-tenang saja, tanpa diganggu, tikus-tikus itu bisa menggigit dan mengoyak benang (goni) karung ini. Dengan gigi dan kukunya yang tajam, maka, karung bisa jebol,” tegasnya menjelaskan.

Maka, Pak Tua itu masih melanjutkan, saya selalu goyang dan tendang terus, agar tikus-tikus di dalam karung ini, ribut sendiri. “Kalau tidak dibikin ribut, dengan mudah mengoyak karung ini,” pungkasnya.

Kisah ini membuat profesor tercengang. Untuk melumpuhkan kekuatan, cukup membuat sibuk bertengkar. “Begitulah kira-kira yang terjadi (saat ini) terhadap umat Islam khususnya, dan bangsa Indonesia umumnya,” demikian Anton Permana mengambil kesimpulan.

Sibuk Saling Menyalahkan

Ya! Hampir setiap hari, kita disuguhi prilaku dan berita yang memancing emosi antarsesama. Baik sesama umat Islam maupun sesama bangsa Indonesia. Emosi semakin tinggi, ketika problem umat (bangsa) semakin karut marut. Belakangan, problem itu bercampur-aduk dengan mengganasnya virus baru, Covid-19.

Ambruknya sendi-sendi ekonomi, seakan ‘menyempurnakan’ problem bangsa selama ini. Tatanan sosial politik, hukum, budaya menjadi tak karuan. Rakyat mudah emosi, pejabat juga demikian. Hari-hari ini, lebih banyak diisi kisah gontok-gontokan.

Kebijakan ‘setengah hati’ dalam menghadapi Covid-19, seakan ‘menyudahi’ kekompakan, melupakan semangat kegotong-royongan. Tidak berlebihan, jika Anton Permana menyamakan problem ini dengan ‘Kisah Tikus dalam Karung’.

Kisah pertengkaran itu, semakin diperjelas melalui konflik aparat versus rakyat, sebagaimana dalam video pendek ‘adu fisik’ antara seorang ulama (yang seharusnya diikuti) dengan petugas penjaga kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang mestinya ditaati.

Tidak penting mencari siapa salah, siapa benar. Karena keduanya dalam kondisi tertekan. Rakyat sedang tertekan. Bukan saja karena ambruknya ekonomi, tetapi, buruknya politik dan rapuhnya penegakan hukum, juga menjadi catatan.

Selain itu, kebijakan pemerintah soal PSBB, juga terkesan setengah hati.  Ini jelas membuat ketidakpastian semakin panjang. Kebijakan yang gamang, ujungnya memperlemah tingkat ketaatan.

Belum lagi fakta di depan mata, bahwa, angka kasus Covid-19 semakin mengerikan. Sementara, pelanggaran demi pelanggaran, terus terjadi. Lelah, sudah, kita menyaksikan semua itu.

Mengapa kita tak kunjung paham? Bukankah problem bangsa ini kian menggunung? Hampir semua aktivis sepakat, bahwa, arah reformasi yang dimulai 21 Mei 1998, kini berusia 22 tahun, sudah terlalu jauh menyimpang dari cita-cita awal.

Penyimpangan demi penyimpangan terus terjadi, dan itu bukan natural atau kejadian bisa-biasa saja. Kita bisa simak betapa remuk asas bernegara kita. Undang-undang Dasar 1945 sudah ‘dimutilasi’ sedemikian rupa.

Hari ini, ada seorang dokter (Zulkifli S Ekomei) menggugat pemalsuan UUD 1945 ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Sudah seabrek bukti-bukti jahat yang ‘mengendap’ dalam modus amandemen UUD 1945. Anehnya, sampai hari ini, tidak ada satu pun pejabat negara yang, tergerak ‘menyambut’ gugatan tersebut. Padahal, inilah biang kerok seluruh masalah bangsa.

Mengapa? Karena ada cukong yang bermain dalam amandemen UUD 1945 itu, lalu, disusul lahirnya undang-undang  baru secara maraton. Lebih tragis lagi, sekarang, diam-diam DPR RI ‘berserah diri’, mengesahkan Perppu No 1 Tahun 2020 sebagai UU. Ini bukan saja mengebiri hak kontrol wakil rakyat, tetapi, secara kasat mata, membuat mereka yang menggugat ke Mahkamah Konstitusi menjadi kedodoran.

Hari ini, sebagai rakyat, kita benar-benar lelah. Setiap saat rakyat dihadapkan dengan perang pernyataan. Semakin sulit rasanya menggedor ‘telinga’ pemeritah, karena sekarang ada barikade jutaan buzzer.

Jadi? Benar, kata Anton Permana, bangsa ini persis ‘Kisah Tikus dalam Karung’ Pak Tua. Setiap lima atau sepuluh menit, ditendang dan digoyong, agar berantem sesama anak bangsa.  Sampai kapan? Waallahu’alam. (*)

Mokhammad Kaiyis adalah wartawan HU Duta Masyarakat dan duta.co.
Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry