“Selain Cerita yang Tercecer, Ternyata Korlap “KPK NU” juga Dapat Tamu Misterius di Kediaman Kiai.”
Catatan Purwanto M. Ali

ADA cerita yang lahir dari ruang rapat. Ada yang bocor dari meja makan. Ada pula yang berembus dari warung kopi—tempat rahasia kadang beredar lebih cepat daripada kopi sempat dingin.

Cerita yang satu ini agak berbeda. Ia bermula di depan Gedung Merah Putih KPK, singgah di Ciganjur, lalu berakhir di sebuah tempat yang barangkali tak pernah diperhitungkan dalam peta politik nasional: kamar sopir.

Seorang teman dekat sang korlap mengisahkannya kepada saya sambil tertawa terpingkal-pingkal. Cerita itu, katanya, ia dengar langsung dari sang korlap.

Saya ikut tertawa.

Sebab di balik kisah jenaka ini terselip cerita yang konon besar. Menyangkut orang besar, jabatan besar, dan mungkin urusan besar. Begitu besarnya sampai identitas dua orang dalam cerita ini akhirnya hanya dijelaskan dengan dua kata: “Rahasia negara!”

Kalau sudah negara yang dibawa-bawa, saya memilih menyeruput kopi.

DARI GEDUNG MERAH PUTIH KE CIGANJUR

Jumat sore itu, sang korlap baru selesai memimpin demonstrasi di depan Gedung Merah Putih KPK.

Sejak pagi ia sudah menempuh perjalanan berjam-jam dari sebuah kabupaten di Pantura Jawa Barat menuju Jakarta. Sampai ibu kota, langsung memimpin aksi.

Namanya juga korlap.

Peserta boleh kehabisan air minum. Orator boleh kehabisan suara. Korlap tidak boleh kehabisan komando.

Tetapi setelah demonstrasi selesai, muncul persoalan yang jauh lebih konkret daripada segala tuntutan aksi: ongkos pulang.

Idealisme memang bisa menggerakkan massa. Sayangnya, belum ada bus Pantura yang menerima pembayaran dengan idealisme. Maka sang korlap menelepon seorang Kiai besar itu.

Tapi, bukan untuk melaporkan hasil demonstrasi atau membawa kabar rahasia. Keperluannya jauh lebih sederhana: minta tambahan sangu untuk pulang kampung.

Kiai memintanya datang ke kediaman beliau di Ciganjur, Jakarta Selatan. Berangkatlah sang korlap.

Mungkin ia membayangkan urusannya sederhana: sowan, menerima sangu, mencium tangan Kiai, lalu pulang. Ternyata malam mempunyai agenda lain.

“SAMPEAN NGAPAIN KE SINI?”

Ketika tiba di halaman kediaman Kiai, seorang staf segera menghampirinya. “Sampean ngapain ke sini?”

“Saya diperintah Kiai menemui beliau sebelum pulang ke kampung.”

Wajah sang staf mendadak serius. “Sampean nggak boleh berada di halaman. Sebentar lagi ada tamu penting yang mau sowan ke Kiai!”

Sang korlap belum sempat bertanya siapa tamu penting itu. Ia keburu dibawa menuju sebuah kamar.

Bukan ruang tamu. Bukan kamar tamu. Bukan ruang VIP. Kamar sopir. Ia masuk. Ceklek! Pintu dikunci dari luar. Sial!

Nasib manusia memang sulit ditebak. Siang hari ia memimpin massa. Malam hari ia bahkan tak bisa memimpin dirinya sendiri keluar kamar.

REVOLUSI DIKALAHKAN RASA KANTUK

Apa yang dilakukan sang korlap? Ternyata tidak banyak. Tubuhnya sudah terlalu lelah setelah perjalanan panjang dan berjam-jam memimpin demonstrasi.

Lagi pula pilihannya terbatas. Mau keluar, pintu terkunci. Mau ikut menemui tamu, tidak diundang. Mau demonstrasi di dalam kamar, massanya cuma satu orang.

Kalau dipaksakan, ia harus menjadi korlap, orator, peserta sekaligus seksi keamanan. Maka keputusan diambil secara aklamasi: tidur.

Malam terus berjalan di luar kamar. Entah siapa datang, entah apa yang dibicarakan. Sang korlap tidak tahu. Ia sedang menjalankan agenda tunggal: mendengkur dengan tertib dan konstitusional.

PAGI DATANG, SANGU PUN DATANG

Pagi hari pintu dibuka. Sang korlap kembali merdeka. Ia diberi sarapan, kemudian bertemu Kiai. Sesuai janji, tambahan sangu untuk pulang pun diberikan. Seharusnya urusan selesai.

Tetapi ada satu perkara yang tidak bisa diselesaikan dengan uang perjalanan: rasa penasaran.

Mengapa semalam ia harus dimasukkan ke kamar sopir? Siapa tamu yang begitu penting sampai dirinya perlu disingkirkan dari halaman? Mulailah investigasi kecil-kecilan.

Tentu ia tidak bertanya kepada staf yang menguncinya semalam. Sang korlap masih punya naluri keselamatan. Ia memilih bertanya kepada seorang abdi dalem.

“Semalam ada dua pejabat tinggi negara datang menemui Kiai,” kata sang abdi dalem.

“Siapa?”

“Seorang menteri dan seorang wakil menteri.”

Kantuk sang korlap mungkin langsung hilang. “Menteri dan wakil menteri?”

“Iya.”

“Siapa mereka?”

Sang abdi dalem terdiam sejenak. Mungkin melihat kanan-kiri. Mungkin memastikan kamar sopir sedang kosong.

Lalu keluarlah jawaban yang membuat cerita ini mencapai puncaknya: “Itu rahasia negara!”

Waduh.

Sang korlap cuma bertanya nama. Ternyata sudah masuk wilayah kenegaraan.

RAHASIA NEGARA DI BALIK PINTU

Sampai di bagian ini, teman saya tertawa lagi.

Saya pun demikian. Sebab ironinya hampir sempurna. Siang hari sang korlap memimpin demonstrasi di depan KPK. Malam hari ia datang ke rumah Kiai hanya untuk meminta tambahan ongkos pulang. Tetapi sebelum sangu didapat, ia justru bermalam di kamar sopir yang dikunci dari luar.

Sementara, menurut cerita yang kemudian ia dengar, malam itu datang seorang menteri dan seorang wakil menteri.

Siapa mereka?

Itulah bagian yang tidak diketahuinya. Dan memang tak perlu dikarang-karang.

Cerita yang belum terverifikasi biarlah tetap menjadi cerita. Nama orang tak perlu ditebak, maksud pertemuan tak perlu direka. Sebuah pertemuan juga tidak dengan sendirinya membuktikan urusan tertentu.

Justru di situlah kejenakaannya.

Sang korlap berada sangat dekat dengan sebuah peristiwa, tetapi menjadi orang yang paling tidak tahu tentang peristiwa itu. Jaraknya mungkin hanya beberapa meter.

Namun dalam hidup—dan barangkali juga dalam politik—jarak antara tahu dan tidak tahu kadang tidak membutuhkan kilometer.

Cukup satu pintu dan sebuah kunci. Pagi itu pintu akhirnya dibuka. Ia mendapat sarapan. Mendapat sangu. Lalu pulang ke Pantura membawa oleh-oleh yang lebih awet daripada uang perjalanan: rasa penasaran.

Sangu bisa habis di jalan. Sarapan selesai sebelum siang. Tetapi sebuah misteri bisa menempuh perjalanan jauh lebih panjang. Dan mungkin di situlah bagian paling puitis dari cerita ini:

Siang hari ia berdiri di depan KPK, meminta sebuah perkara dibuka. Malam hari, justru sebuah pintu dikunci di hadapannya.

Jadi, siapa sebenarnya menteri dan wakil menteri yang konon datang malam itu?

Jangan tanya sang korlap. Saat rahasia itu lewat begitu dekat dengannya—ia sedang tidur di kamar sopir.

Adapun nama kedua tamu itu? Kata sang abdi dalem: “Rahasia negara!” 😄

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry