Catatan  Isfandiari MD

MUSABAB punya ‘bibit’ motoris,  imajinasi berpendar saat masuk zona Bahrul Ulum Jombang.  Terbayang KH. Abdul Wahab Chasbullah bermotor, BSA Goldstar atau Harley-Davidson 45 cu, sipil-militer-atau varian lain. Riding position gagah, seputaran pesantren, betot gas, full throttle dalam aktivitas mengajar. Atau mungkin datang KH Abdullah Ubaid bikers tulen  berkunjung bermanuver  dari jalan raya menuju pesantren, fast corner saat ‘rebah’ dengan skill mumpuni di tikungan. Walau sejenak, imajinasi itu cukup mengharukan. Apalagi ada di tengah-tengah kerumunan ramai, trafik padat, dominasi pemotor dalam perhelatan epik yang ditunggu-tunggu semua nahdiyin.

Cerita  peserta rapat dan romlah (rombongan lilahita’ala) sama-sama menarik.  Keduanya interaksi. Misal temu Pak Udin Tangerang dan KH Zulfa Mustofa zona registrasi. Biar di tempat sama, kepentingannya beda. Kyai Zulfa regist kepastian kehadiran sedang Pak Udin bingung bukan undangan resmi alias terdampar di tempat itu. Sebuah keberuntungan, profesinya sebagai  pemijat membuat masuk jajaran VIP saat KH. Zulfa mengajaknya jadi bagian rombongan.  Ia langsung menenteng koper sumringah, masuk kategori insan yang sangat diakomodir  tuan rumah.  Atau cak Tarno, penjual buku beken di kalangan akademisi, mahasiswa S1 sampai S3 yang   jumpa KH. Thontowi Djauhari Musaddad- Ajengan Toto atau akrab disama Ajengan  Bendo, kyai langka dengan zikir ekologisnya. Pertemuan ‘beda’ habitat ini hasilkan  diskusi intens penuh manfaat. Beruntung yang ada disekitar mereka, jadi pendengar kebagian ilmu nan mahal. Suasana adem juga ada terasakan saat terpotret  tengah malam, giat KH. Hasib Wahab Chasbullah, putra Mbah Wahab, tuan rumah, pimpinan Ponpes Bahrul Ulum. Beliau cergas meninjau, memberi arahan pada panitia lokal, selalu terlihat segar, ramah menyapa semua orang.

Kisah apes Dheyna ‘Olan’ Hasiholan, senior Ansor asal Medan terjadi di siang (30/8). Sandalnya dilempar demostran yang protes kebijakan Muktamar.Walau kesal dia komentar,” Wajar luapkan aspirasi dan teriak-teriak. Memang ada aksi dorong antara pendemo dan panitia keamanan juga banser, tapi berlangsung singkat dan akhirnya kondusif.” Sequel lanjutannya seru, sekitar waktu shalat ashar banser tak cuma berbaris tapi juga ber yel-yel dan  tari serempak kompak dan gagah.”Kita satu komando bukan pasukan liar! Jaga ketertiban areal Muktamar, jangan ada yang coba-coba ganggu dan buat tamu-tamu nyaman,“ arahan  H. Addin Jauharudin S.Pd.I.,M.Pd panglima tertinggi Banser, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda  Ansor. Cara pandang boleh beda, akademisi Hadi Saputra menilai perkara serius sejak Muktamar Cipasung 1994, tak puas Perkum Nomor 3 2025 dan masa ‘iddah’ -jeda politik yang dinilai diskriminatif (30/8), sebuah friksi tajam dan memprihatinkan.

Di sisi lain, aktivitas tergambar di berbagai sudut lokasi ziarah makam, KH. Wahab Chasbullah, KH, KH Abdul Fattah Hasyim, Kh. Ustman atau KH. Abdussalam. Santri berzikir, beberapa berdiskusi. Hadir alumni  pesantren, senior Ansor, PMII, Lesbumi, Fatayat yang sudah jadi Muslimat  atau malah kaum sekuler. Datang dari dari Sumatra mentok  sampai Papua. Jika beruntung, salam akrab sebentar,   kopi atau cemilan di hendel rekan yag baru saja kenal, bonus disapa Gus atau malah Kyai. Beberapa lagi sumringah, ditawari nasi gratis  berikut lauk pauk oleh masyarakat sekitar. Memang begitulah! Warga ikhlas sumbang apa yang mereka punya: beras, sayuran, domba bahkan sapi pada panitia agar muktamar berjalan sukses.”Mereka memberikannya demi cinta,” haru Saifulah Yusuf, ketua panitia Muktamar. Ini sesuai diajarkan muasis, Rois Akbar, KH. Hasyim Asy’ri: Nu yang penuh cinta, kasih sayang, persahabatan serta keterhubungan jiwa dan raga. Selaras tema Muktamar: Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk kemaslahatan Bangsa.

Durasi Muktamar (27-31/8) padat-lengkap. Di Al Wahabiyyah 1 dan Al Lathifiyyah 2 Bahrul Ulum seolah  digelar pameran kesenian pesan agar syi’ar efektif disampaikan lewat estetika dan kepekaan rasa. Pertemuan penggiat Turots lewat Mubes (29/8). Meramu ekosistem pecinta warisan agar  tersistem dalam perawatan dan keteladanan. “Turots bukan benda mati, hidup saat dibaca, diajarkan, dikritisi. Meminjam paparan Martin van Bruinessen -Kitab Kunijg Pesantren dan Tarekat  (Mizan 1995), kitab pesantren dan tradisi keilmuan Islam Indonesia itu erat hubungannya,” komentar ajengan Fahmi Arif El Muniry, khodim pesantren Laku Luhur Al Mahabbah, Demak.

Siang sebelum terjadi sidang Komisi Rekomendasi, digelar (28/8),  digelar bedah buku  Fikih Disabilitas Mental Psikosial kolab  IPNU, IPPNU, Komisioner  (KND-Komisi Nasional Disabilitas,  Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) juga Pusat Rehabilitasi YAKKUM. Nara sumber tokoh penting, cendikiawan muda NU,  Dr. KH Hilmy Muhammad, MA (Khatib Syuriah PBNU), Nyai Hj.Izza Farhatin Ilmi (tim penulis), Nyai Fatimah Asri Mutmainah, Komisioner  (KND-Komisi Nasional Disabilitas) dan  Abi S. Nugroho  (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia -Lakpesdam-NU).“Kami mendorong agar isu disabilitas mental psikososial menjadi salah satu rekomendasi di Muktamar Nu ke-35,” harap Nyai Fatimah Asri Mutmainah, Komisioner  (KND-Komisi Nasional Disabilitas).

Di sidang Sidang Pleno III terjadi kesepakatan. Ada 73 persen muktamirin sepakat hentikan skema pemilihan langsung (one man one vote), 401 suara nyaman dengan perubahan mekanisme dan hanya  150 suara yang ajeg cara lama. Berarti, mandat sepenuhnya diserahkan dewan AHWA, langkah progresif perbaiki tata kelola kelembagaan eliminir gaduh.  Tema Manjaga Marwah, direalisasikan sesuai tradisi pesantren dan supremasi moral kiai sepuh.  Tanfidziah tak elok melenggang sendiri, mereka terbimbing rohani Kyai Syuriah dalam sistem tata kelola organisasi.

Di akhir-akhir perhelatan,  kita haturkan rasa terimakasih pada KH, Yahya Cholil Staquf, ketum  yang lalu. Saat dipimpinnya, NU concern  di soal peradaban. Memang tak mudah dipahami arus bawah yang masih hadapi situasi nyata, daily activity beban ekonomi, mahalnya biaya pendidikan termasuk pesantren elit.  Ada pula perhatian pada potensi santri saat bersaing di pasar bebas. Soal kesehatan, jurang  yang masih lebar antara elit NU  dan nahdiyin di bawah. Belum lagi oknum yang memasrahkan dirinya mencari hidup di NU, bukannya menghidupi NU. Legacynya soal  Roadmap 2050 harta berharga agar NU tak terlampau asyik mengunyah sejarah gemilang masa lampau tapi bayangan bagaimana NU kedepan. Dibahas soal  fikih peradaban, humanitarian Islam berikut dunia digital yang agresif dengan Digdaya NU-nya.

Di senin itu, KH. Abdul Hakim Mahfudz, akrab disama Gus Kikin   ada di gerbong terdepan ketua umum Tanfidziah   PBNU (2026-2031). Kredibilitas beliau tak disangsikan lagi.  Beliau canggah dari jalur ibu, pendiri Nahdlatul Ulama KH. Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari. Sepeninggalan KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah-2020) Gus Kikin melanjutkan kepemimpinan, pengasuh utama di Tebuireng berjaring luas, miliki 15 cabang di seantero Negri. Komandonya bersama Rois Am KH. Miftachul Akhyar adalah re-aktualisasi naskah Qanun Asasi NU, landasan berpikir Mbah Hasyim Asy’ari, konstitusi etis jamiyyah.   Ini menjadi otonomi moral agar Nu terlepas dari jebakan intervensi politik praktis. Dengan berani menandatangani Kontrak Jam’iyyah dan Pakta Integritas di hadapan muktamirin saat terpilih.

Saat beratus bus, kendaraan pribadi atau motoran bersiap pulang, mereka juga respect  pada tuan rumah, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang  terkhusus KH. DR. Drs. Hasib Wahab Chasbullah. Walau waktu mepet, persiapan dan detail penerimaan layak diapresiasi. Fasilitas peserta mumpuni, instruksi pada warga lokal dipatuhi, semua menjadi tuan rumah yang baik.

Semoga pahala dilimpahkan Allah yang maka pemurah dan kaya. Aamiin.(*)

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry