Ahmad Muadz, peserta PD-PKPNU.

JOMBANG | duta.co – Di tengah ruang kelas sederhana SMK YPM 14 Sumobito, seorang lelaki tua duduk bersila. Sorot matanya jernih, namun tubuhnya sudah tak setegap dulu. Di hadapannya, instruktur PD-PKPNU berbicara tentang sejarah Nahdlatul Ulama, Ahlussunah Waljamaah (Aswaja), dan pentingnya kaderisasi. Lelaki itu menyimak dalam diam, mencatat dengan tangan gemetar seolah ingin menanam semua ilmu ke dalam hatinya yang tak pernah menua.

Namanya Ahmad Muadz, usia 81 tahun. Bagi sebagian orang, usia itu mungkin waktu untuk beristirahat, duduk di beranda bersama cucu. Tapi bagi Muadz, itulah saatnya memperdalam pengabdian.

“Selama masih bisa mengaji, saya akan terus belajar. NU ini jalan hidup saya,” ucapnya lirih, hampir seperti doa. Disela sela jam istirahat. Jumat (25/7).

Muadz tak sendiri. Duduk tak jauh dari kursinya, ada putranya Adib Budaya, M.Pd., Ketua Pergunu Sumobito. Sebuah simbol pengabdian yang diwariskan dari bapak kepada anak, dari guru kepada murid.

Warisan yang Hidup dalam Diri

Lahir pada tahun 1944 di Sumobito, Ahmad Muadz tumbuh bersama derap sejarah negeri ini. Ia melewati masa-masa sulit: masa Jepang, kemerdekaan, reformasi. Tapi satu yang selalu ia jaga: semangat untuk bermanfaat.

“Hidup ini bukan untuk diri sendiri. Kita harus menjadi manfaat, walau hanya dengan doa atau seteguk air yang kita bagi,” katanya.

Sejak 1995, ia memimpin LP Ma’arif NU Sumobito. Tahun 2004 menjadi sekretaris MUI kecamatan. Tahun 2020 dilantik sebagai ketua. Ia juga pernah menjabat Rois Syuriyah MWCNU tahun 2014. Tapi bagi Muadz, semua itu bukan gelar melainkan ladang amal.

Lebih lanjut, Ia bercerita, setiap sore, di teras rumahnya, ia masih rajin menerima anak-anak masjid. Mengajari ngaji, kadang hanya mendengarkan curhat mereka tentang sekolah, pekerjaan, atau cinta. Ia menyimak dengan sabar tak banyak komentar, hanya sesekali menutup mata dan menyebut nama Allah dengan lirih.

Suasana ruangan pendidikan.

Mengikuti PD-PKPNU di Usia Senja

Ketika MWCNU Sumobito membuka pelatihan PD-PKPNU, banyak yang terkejut saat melihat namanya masuk daftar peserta. Beberapa menanyakan, “Masih kuat, Pak?” Tapi Muadz hanya tersenyum.

“Yang penting bukan kuatnya badan. Tapi kuatnya niat,” katanya.

Selama tiga hari, ia berusaha ikut hadir penuh. Dan siap mengikuti PD-PKPNU dari pagi hingga malam, menyimak setiap materi, menuliskan catatan kecil, bahkan ikut diskusi. Tidak satu pun akan ia tinggalkan.

“Saya ingin nanti bisa menyampaikan materi ini ke remaja masjid. Jangan sampai mereka kehilangan arah,” ujarnya, sambil membetulkan sarungnya yang sedikit turun dari pinggang.

Kesetiaan Tanpa Panggung

Ahmad Muadz bukan ustaz terkenal. Bukan kiai kondang yang kerap diundang ceramah ke sana-kemari. Tapi justru di situlah letak kemuliaannya. Ia berkhidmat dalam sunyi. Setia dalam diam. Mengabdi bukan demi panggung atau nama, tapi demi cinta kepada NU—jalan hidup yang ia yakini sebagai warisan ruhani para ulama.

Di usia senjanya, Muadz tidak memilih istirahat. Ia memilih berjalan pelan tapi pasti, menjaga bara kecil dalam dirinya tetap menyala. Karena bagi lelaki tua itu, selama masih bisa mengaji, masih bisa belajar, maka jalan pengabdian tak akan pernah usai. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry