MENCARI NAFKAH: Para single mother yang sukses mencari nafkah dengan memanfaatkan teknologi. (duta.co/dok)

SURABAYA | duta.co –  Hari Perempuan Internasiona, Grab senang berperan menciptakan kemandirian perempuan dan para Ibu Tunggal. Grab mampu mempersatukan dan memberdayakan jutaan perempuan, baik mitra pengemudi, agen GrabKios, mitra-merchant GrabFood maupun para karyawan perempuan Grab.

Asian Development Bank (ADB) memperkirakan perempuan Asia rerata memiliki peluang 70% lebih kecil dibandingkan laki-laki bergabung dengan angkatan kerja. Kesenjangan gender ini tetap ada meskipun pertumbuhan ekonomi stabil, peluang mendapatkan pendidikan sudah meningkat, serta adanya keinginan untuk memperoleh pekerjaan dari sebagian besar perempuan pada usia produktif.

Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi menyatakan, “Grab melayani lebih 500 kota di Indonesia, berkomitmen mendorong lebih banyak keragaman angkatan kerja di Indonesia dan terus menciptakan inklusivitas.  Termasuk menciptakan lebih banyak kesempatan ekonomi perempuan.”

Untuk bisa mencapai komitmen ini, Grab melihat pentingnya fondasi kebijakan perusahaan yang kokoh dipayungi kemitraan strategis dengan lembaga terpercaya. Di Indonesia, Grab bermitra dengan tiga lembaga menghadirkan teknologi inklusif dan aman, yakni dengan Komnas Perempuan menciptakan tata kelola perusahaan yang baik bagi penumpang dan mitra perempuan, Forum Pengada Layanan untuk pemulihan korban kekerasan serta program peningkatan kapasitas dan pemberdayaan ekonomi bagi perempuan penyintas kekerasan dan Pundi Perempuan untuk mengajak pelanggan memberikan donasi bagi lembaga pengada layanan bagi korban kekerasan.

Kisah Ibu Tunggal Berdikari Lewat Teknologi

Kristina. Ibu Tunggal asal Medan ini mampu mendobrak stigma perempuan tidak bisa mandiri. Warung yang ia dirikan sejak 1997 silam menjadi sumber pendapatan baginya dan tiga orang anaknya. Awalnya, mengaku cukup kewalahan menjalankan warungnya seorang diri karena harus membagi waktu untuk mengurus anak dan belanja berbagai kebutuhan warungnya.

“Sejak memanfaatkan teknologi GrabKios, sekarang bisa lebih hemat dan bebas mengatur kebutuhan toko setiap kali belanja. Tidak perlu sewa becak bermotor setiap mau belanja. Ongkosnya bisa ditabung. Semua bisa dikontrol lewat handphone saya. Pembeli semakin ramai karena kini saya bisa menawarkan layanan seperti pembayaran tagihan PLN, BPJS, PDAM, juga pembelian pulsa dan paket data,” ungkapnya.

Samahalnya dengan Dewi. Setelah kehilangan pekerjaan sebagai tim administrasi cadangan, Ibu Tunggal asal Surabaya tidak putus asa. Bermodal STNK, SIM, KK dan SKCK, Dewi mulai menjadi mitra pengemudi GrabBike 2 tahun lalu. Dewi membuat jadwal untuk dirinya sendiri, selama hari Senin sampai Jumat, ia bekerja menjadi mitra pengemudi, sedangkan di hari Sabtu ia ambil libur yang biasanya dihabiskan dengan sang anak, sedangkan di hari Minggu, ia digunakan untuk berjualan.

“Dari awal memang sudah berencana kalau ada sisa uang penghasilan nge-Grab dijadikan modal usaha. Saya berpikir, usia seseorang semakin tua. Saya tidak selamanya jadi driver karena tenaga pasti menurun.  Saya senang di usia 31 tahun saya dipertemukan dengan Grab. Saya bisa mencari nafkah untuk anak dan keluarga saya. Pilihan yang tepat untuk saya yang seorang single parent,” pungkasnya.

Senada Lestari Hendrawati. Memasuki usia ke-38, mengakui kian sulit mencari pekerjaan. Namun, Ibu Tunggal asal Bandung ini membuktikan kegigihan pasti berbuah manis.

“Saya sempat berpikir, apa cari kerja ke Jakarta, tapi nanti anak-anak sama siapa? Akhirnya saya pilih menjadi mitra pengemudi GrabCar di Mei 2017. Pendapatan juga ternyata lebih banyak di online. Dibilang lelah, ya lelah, tapi sebatas kaki saja. Kalau hati tidak. Kalau saya lelah, cuma satu pikirannya, kerja buat anak. Kalau tidak narik, makan dan minumnya darimana,” ujar Ibu dengan empat anak ini.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry