
JOMBANG | duta.co — Ada kisah yang terus terngiang di benak H. Abdurrozaq Sholeh, atau akrab disapa Gus Rozaq, ketika dipercaya menjadi Ketua Panitia Lokal (Panlok) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang.
Kisah itu bukan tentang megahnya panggung Muktamar. Bukan pula tentang ribuan peserta yang datang dari berbagai penjuru Indonesia. Melainkan tentang gelang dan kalung yang pernah dijual KH Abdul Wahab Chasbullah demi perjuangan NU.
Kisah tersebut menjadi energi bagi Gus Rozaq untuk menjalankan amanah sebagai Ketua Panlok. Ia ingin menanamkan kembali semangat para Muassis NU berjuang dengan ilmu, tenaga, pikiran, bahkan harta untuk kepentingan umat.
“Saya masih ingat betul saat Bu Nyai Mahfudhoh (putri Mbah Wahab) bercerita bagaimana Mbah Wahab Chasbullah menjual gelang, kalung demi Muktamar berjalan. Semangat para Muassis inilah yang saya tanamkan ke diri saya sendiri dan panitia lokal untuk semangat berkhidmat,” beber Gus Rozaq kepada duta.co, saat ditemui di kediamannya di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Sabtu (5/9).
Bagi Gus Rozaq, kisah itu memiliki pesan yang sangat dalam. Perjuangan NU sejak awal tidak dibangun dengan kenyamanan, tetapi dengan pengorbanan.
Karena itu, ketika dirinya dipercaya memimpin Panlok Muktamar NU ke-35, ia merasa tidak memiliki alasan untuk bekerja setengah hati.
Muktamar Bukan Kerja Satu Orang
Suksesnya pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, menurut Gus Rozaq, tidak bisa dilekatkan kepada satu orang. Ada ulama, pengasuh pesantren, kader NU, panitia, relawan, masyarakat, serta banyak pihak lain yang bekerja di balik layar.
“Alhamdulillah semua bisa berjalan lancar dan sukses. Ini tidak lepas dari semua pihak, mulai dari kader NU di Kota Santri, baik yang berada di struktur maupun tidak. Semua bergerak dengan semangat perjuangan para Muassis yang telah mendirikan organisasi NU,” katanya.
Karena itu, ia memilih menyebut keberhasilan Muktamar sebagai keberhasilan bersama. Panlok hanya salah satu bagian dari rangkaian besar yang bekerja memastikan hajatan organisasi tersebut berlangsung dengan baik.
Dari Tambakberas, Lirboyo hingga Makkah
Gus Rozaq lahir pada 13 Oktober Tahun 1977 M. Ia merupakan putra ke-11 dari KH M. Sholeh Hamid. Sejak kecil, kehidupannya tidak jauh dari tradisi pesantren.
Pendidikan awal ditempuh di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan keilmuannya ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
Selama kurang lebih 11 tahun, sejak 1991 hingga 2002, Gus Rozaq menimba ilmu di Lirboyo. Di sana ia tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga mengenal tradisi organisasi dan musyawarah.
Gus Rozaq bahkan dipercaya menjadi Ketua Lajnah Bahtsul Masaail pon- pes lirboyo tahun 2002 M. Pengalaman itu menjadi bekal penting. Ia belajar bahwa persoalan besar harus dihadapi dengan ilmu, kesabaran, argumentasi dan musyawarah.
Selepas dari Lirboyo, perjalanan keilmuannya berlanjut ke Makkah. Pada 2002 hingga 2007, ia belajar kepada Syeh Muhammad Ismail Zain. Pengalaman panjang di Tambakberas, Lirboyo dan Makkah kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidupnya dalam menjalankan berbagai amanah.
Delapan Anak, Semuanya Perempuan
Dalam kehidupan keluarga, Gus Rozaq menikah dengan Hj. Nur Hamidah Ali, putri KH Ali Marzuki dari Pondok Pesantren Langitan, Tuban.
Keduanya dikaruniai delapan anak, namun delapan anak ini tinggal 6 karena, kedua anaknya kembali kepada Allah lebih dulu. Menariknya, seluruh anak mereka adalah perempuan. Keluarga pesantren menjadi bagian penting dalam perjalanan Gus Rozaq. Lingkungan tersebut membentuk cara pandangnya dalam memaknai amanah dan pengabdian.
Hingga kemudian ia dipercaya menjadi Ketua Umum yayasan Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dan selang beberapa bulan setelah Gus Rozaq menjabat sebagai Ketua Yayasan beliau dipercaya oleh PBNU sebagai Ketua Panlok Muktamar NU ke-35.
Ketika Informasi Kehadiran Presiden Sempat Diragukan

Di balik kelancaran Muktamar, ada pula pengalaman yang cukup menguji keyakinannya. Salah satunya terjadi menjelang penutupan Muktamar.
Gus Rozaq mengaku mendapat informasi langsung mengenai kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto. Sebagai Ketua Panlok, ia kemudian melakukan koordinasi dengan pihak keamanan. Namun, respons yang diterimanya tidak seperti yang ia harapkan.
Informasi tersebut, menurut Gus Rozaq, belum diterima oleh pihak terkait. Bahkan ia mengaku mendapat respons dengan senyum yang membuatnya merasa informasi itu belum sepenuhnya dipercaya.
“Mereka bilang belum dapat informasi dan perintah sambil tersenyum, seakan tidak percaya. Namun saya yakin Presiden akan hadir saat penutupan karena saya dapat kabar by wa kalau bapak presiden mau hadir di penutupan langsung dari orang dekat presiden,” ujarnya.
Gus Rozaq memilih tidak memperpanjang persoalan tersebut. Ia tetap bekerja, persiapan tetap dilakukan. Keyakinan tetap dijaga. Dan pada akhirnya, Presiden Prabowo Subianto hadir dalam penutupan Muktamar NU ke-35.
Bagi Gus Rozaq, pengalaman itu bukan soal siapa yang benar atau siapa yang salah. Lebih dari itu, ia belajar bahwa seorang yang diberi amanah harus siap bekerja berdasarkan tanggung jawabnya, sekalipun pada satu titik keyakinannya belum dipercaya orang lain.
Semangat Muassis Menjadi Pegangan
Di tengah berbagai dinamika tersebut, Gus Rozaq kembali kepada satu pegangan semangat para Muassis NU. Menurutnya, para pendiri NU meninggalkan warisan yang jauh lebih besar daripada sekadar organisasi. Ada ilmu, akhlak, kemandirian, persaudaraan dan pengabdian.
“Semangat para Muassis inilah yang harus kita jaga. Mereka mendirikan NU bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kemaslahatan umat dan bangsa, serta mengorbankan jiwa, raga dan harta,” tuturnya.
Karena itulah kisah Mbah Wahab menjual gelang dan kalung begitu membekas. Di zaman ketika sebuah kegiatan besar bisa diukur dari anggaran dan fasilitas, kisah tersebut mengingatkan bahwa perjuangan NU pada masa awal juga dibangun melalui pengorbanan pribadi.
Bukan bertanya apa yang didapat dari NU, tetapi apa yang bisa diberikan untuk NU dan umat.
Tambakberas dan Pesan Sejarah
Bagi Gus Rozaq, Tambakberas bukan sekadar lokasi Muktamar. Tambakberas memiliki sejarah panjang dalam pendidikan Islam dan perjalanan Nahdlatul Ulama. Ketika ribuan muktamirin berkumpul di kawasan pesantren tersebut, menurutnya, ada pesan sejarah yang ikut menyertai.
Pesan untuk kembali mengingat perjuangan ulama terdahulu. Pesan agar tradisi keilmuan tidak terputus. Dan pesan agar NU tetap hadir dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, Muktamar tidak seharusnya berhenti pada seremonial dan persidangan. Harus ada energi baru yang lahir setelahnya.
Muktamar Selesai, Pengabdian Harus Berlanjut
Kini Muktamar NU ke-35 telah selesai. Namun bagi Gus Rozaq, pekerjaan sesungguhnya belum selesai. Ia berharap semangat kebersamaan yang tumbuh selama Muktamar dapat terus dibawa ke kehidupan NU setelah seluruh rangkaian kegiatan berakhir.
“Yang paling penting setelah Muktamar ini adalah bagaimana semangat kebersamaan tersebut terus dilanjutkan untuk kemaslahatan umat,” ujarnya.
Pendidikan, ekonomi, sosial dan persoalan kebangsaan harus menjadi ruang pengabdian berikutnya. Sebab, menurut Gus Rozaq, NU tidak didirikan untuk sekadar memiliki struktur.
NU lahir dari kegelisahan, ilmu, perjuangan dan pengorbanan para ulama. Dari Tambakberas, semangat itu kembali diingatkan.
Mbah Wahab pernah menjual gelang dan kalung demi perjuangan. Kini tantangannya memang berbeda. Tetapi nilai perjuangannya tetap sama berkhidmat, berkorban dan bekerja untuk kemaslahatan umat.
Gus Rozaq mungkin hanya satu nama dalam panjangnya sejarah Muktamar ke-35. Namun dari amanah yang ia jalankan, ada pesan yang ingin terus hidup, Muktamar boleh selesai. Panitia boleh dibubarkan. Tetapi semangat para Muassis jangan pernah ikut berakhir. (din)



































