BOJONEGORO | duta.co – “Lahirlah sebilah pusaka, karya Empu Kriyo bernama Kusumo, bunga yang harum, penebar nama baik. Tubuhnya tegak dapur Jangkung, lambang keluhuran dan keteguhan pendirian……”.

Narasi menggema berusaha menerangkan secara detail arak-arakan pusaka Empu Kriyo Kusumo. Berpadu lembut alunan gamelan mengiringi gemulai tari Api Kayangan, membuat tampilan SMP Negeri (SMPN) 1 Dander memukau pengunjung di Karnaval Kemerdekaan yang digelar di Desa Sumberarum, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Minggu (31/8/2025).

“Di karnaval kemerdekaan kali ini, SMPN 1 Dander sengaja memilih tema, Kirab Pusaka Empu Kriyo Kusumo, “Dapur Jangkung Luk Telu Blong Pok Gonjo”. Pilihan tema ini karena kita berusaha mengusung destinasi wisata Kayangan Api,” ungkap Ria Herawati, SPd.

Ria panggilan akrabnya, lantas menceritakan Empu Kriyo Kusumo atau dikenal dengan Empu Supa adalah seorang empu pembuat pusaka dari Kerajaan Majapahit yang melegenda di wisata api abadi Kayangan Api.

“Dia diyakini bertapa dan menggunakan api abadi untuk menempa keris dan pusaka kerajaan. Dan api yang tidak pernah padam diyakini sebagai bukti sejarah keahlian sang empu,” ungkap guru mata pelajaran IPA ini.

Pada karnaval kemerdekaan kali ini, pusaka yang diarak bernama Dapur Jangkung yang memiliki banyak makna filosofis. Ria lantas menguraikan makna itu, seperti tubuhnya tegak Dapur Jangkung lambang keluhuran dan keteguhan pendirian. Lengkung luk telu mengingatkan keseimbangan hidup kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada alam. Lalu, ia blongpok, tanpa hias, tanda ketulusan dan kejujuran yang apa adanya. Dan pada pangkalnya, kokoh gonjo, pondasi yang menjaga martabat, penyangga keluarga, penopang cita-cita.

“Jadi pusaka Dapur Jangkung ini bukan sekadar besi, ia adalah wewarah hidup, guru tanpa suara, yang mengajarkan, teguhlah, jujurlah, dan tebarkan kebaikan. Hal itu pula yang ingin kita ajarkan pada anak-anak didik kita untuk teguhlah, jujurlah, dan tebarkan kebaikan,” tegasnya.

Sementara khusus penari Api Kayangan, SMPN 1 Dander sebelumnya mendapat undangan pemecahan rekor MURI. “Jadi sudah ada 30 lebih penari ada kostum tarinya juga. Dan itu semakin memudahkan kita dalam memilih tema kali ini,” pamernya.

 

Namun yang terpenting dari keikutsertaan pada karnaval kemerdekaan kali ini, menurut Andi Subkhan, Wakil Kepala Sekolah SMPN 1 Dander, tidak hanya sekedar tampil tapi memiliki tujuan. Sebagai Lembaga Pendidikan, SMPN 1 Dander punya tanggung jawab untuk mengingatkan masyarakat tentang pentingnya merawat nilai-nilai dan tradisi juga warisan budaya leluhur.


“Kalau nilai-nilai tradisi itu tidak kita lestarikan, mau siapa yang melestarikan. Kita tentu tidak ingin apa yang kita punyai ini ke depan diklaim bangsa lain kan?. Jadi harapan kita, momen perayaan kemerdekaan ini bukan sekedar sebagai pengingat tapi bagaimana kita bersama juga menjaga budaya yang telah diwariskan oleh leluhur kita,” harapnya. rum

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry