POJOK LANSIA : Rektor Unusa,Prof Dr Ir Achmad Jazidie (tengah) ditemani Kepala Desa Semambung Jaenuri (berpeci) dan mahasiswa KKN Unusa membaca bersama siswa SD, MI. DUTA/endang

Budaya membaca di Indonesia memang masih rendah. Tapi, semua pihak terutama akademisi dan penggiat pendidikan mulai bergerak. Menumbuhkan budaya membaca untuk semua kalangan terutama anak-anak.

Fatikhul Mukhlisin, siswa kelas lima Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Islam Semambung Sidoarjo, baru pulang sekolah.

Dia dan beberapa temannya memanfaatkan waktu pulang sekolah untuk membaca buku favorit di perpustakaan mini yang ada di salah satu ruangan di Balai Desa Semambung.

Perpustakaan itu terletak di sebelah kanan balai. Dulu ruangan itu adalah tempat Posyandu ana dan lansia.

Dengan restu Kepala Desa Semambung Jaenur, separuh bagian dari Posyandu itu disulap menjadi perpustakaan mini yang diberinama pojok literasi, pojok lansia dan rumah pintar lansia.

Jaenuri bersama teman-temannya asyik membaca di salah satu sudut baca yang dilengkapi meja bulat. Mereka membaca buku sesuai keinginan dan kegemaran. Karena du tempat itu ada banyak jenis buku mulai komik, majalah hingga buku pelajaran.

Fatikhul nampak membaca sebuah komik. Komik Naruto menarik minatnya. “Ternyata komik Naruto bagus. Baru beberapa kali membaca di sin,” ujarnya saat dijumpai pas pembukaan pojok literasi Desa Semambung, Senin (5/8).

Fatikhul mengaku senang ada tempat untuk membaca buku di luar waktu sekolah. Sewaktu-waktu dia dan teman-temannya bisa membaca sambil bermain.

Apa yang dirasakan Fatikhul juga dirasakan Kades Sekampung Jaenuri. Mantan anggota TNI AD ini mengaku senang, warganya bisa  meningkatkan budaya membaca agar pengetahuan semakin meningkat.

“Saya berterima kasih kepada mahasiswa dan mahasiswi Unusa yang mau mengabdi melakukan KKN di Semambung ini. Terima kasih tak terhingga,” ujar Jaenuri.

Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) memang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di 15 desa di Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Salah satu desa yang dipilih adalah Semambung.

Mahasiswa KKN Unusa dari berbagai jurusan melakukan KKN selama tiga minggu. Tiga program besar mereka usung yakni Pojok Literasi, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Desa Ramah Lansia.

Ketiga program itu dijalankan selama tiga minggu KKN. Di Desa Semambung sendiri, untuk Pojok Literasi dengan membuatkan perpustakaan dan fasilitas membacanya.

Di situ pula ada pojok lansia yang dilengkapi dengan alat timbangan badan, brosur-brosur untuk bacaan serta buku-buku. Juga ada track dari semen dan batu kerikil untuk arena pijat refleksi.

Kader Posyandu Lansia berbincang dengan Kepala Marketing dan Humas Unusa, Mohammad Ghofirin (kanan). DUTA/endang

Fasilitas ini juga disediakan di depan Puskesmas Semambung di mana mahasiswa membuat taman khusus untuk para lansia di sana. Taman ini dilengkapi dengan tanaman toga yang bermanfaat untuk obat.

Orang tua atau nenek kakek banyak memanfaatkan fasilitas ini. Apalagi di Balai Desa Semambung, Puskesmas dan Taman Kanak-Kanak ada dalam satu lokasi. Sehingga fasilitas yang ada brnar-benar dimanfaatkan.

Sementara untuk program BUMDes, mahasiswa membuatkan merek dsn pengemasan untuk hasil olahan warga. Selama ini beberapa warga bisa memproduksi kerupuk kol.

Kol adalah sejenis kerang-kerangan yang biasa ditemui di sawah. Kol di Semambung sangat banyak karena di desa itu dikenal dengan lahan pertanian yang sangat subur.

Mohmamad Fariz Zaini mahasiswa Fakultas Kesehatan yang juga ketua KKN Semambung mengaku senang, semua fasilitas yang dibuat mahasiswa bisa bermanfaat.

“Sangat berkesan bagi kami. Dan kami berharap setelah KKN selesai ini semua bisa dijaga dan dirawat,” tandasnya.

Rektor Unusa, Prof Dr Ir Achmad Jazidie, M.Eng mengatakan KKN adalah sebuah pelajaran berharga bagi para mahasiswa. Karena saat KKN inilah mahasiswa bisa terjun langsung ke masyarakat.

Produk unggulan Semambung, kerupuk kol, kini sudah memiliki merek. DUTA/endang

“Tapi waktu tiga minggu itu tidak cukup untuk bilang bisa terjun secara utuh. Tapi setidaknya ini bisa dijadikan sebuah pelajaran,” tandasnya.

Diakui Jazidie, memang tidak mudah menjadi seseorang yang bisa diterima dengan baik di masyarakat. Karena untuk bisa menuju ke arah sana, memang harus meninggalkan rasa ego. “Ini yang luar biasa, ego kita lepaskan saat berada di masyarakat,” tukasnya.

Unusa memang mengembangkan KKN tidak sporadis. Unusa tidak tabrak lari dalam menerapkan konsep itu. KKN bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Sehingga KKN Unusa dalam satu daerah berlangsung terus menerus. Minimal tiga kali KKN dilakukan di suatu daerah. Sehingga hasil yang didapat bisa terlihat nyata.  end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.