Oleh : Slamet Jumadi

 

KANWIL Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan sebagai representative Kementerian Keuangan di daerah punya peran penting sebagai Regional Chief Economist (RCE).

Aktivitas RCE melalui Penajaman Kajian Fiskal Regional (KFR), Implementasi Assets & Liabilities Committee (ALCo), serta Forum Koordinasi Pengelola Keuangan Negara (FKPKN) di daerah, harus mampu menjelaskan fungsi dan kebijakan fiskal, melihat bagaimana dampak APBN di masing-masing daerah, juga memiliki sensitivitas serta kerangka berpikir bahwa uang negara harus menghasilkan manfaat maksimal bagi rakyat dan bagi perekonomian untuk menciptakan kesejahteraan dan kesempatan kerja.

Harapannya, kegiatan RCE dapat menghasilkan output dan outcome yang nyata serta nilai tambah bagi pemerintah daerah.

Berdasarkan laporan ALCo, Kinerja APBN dan Perkembangan Ekonomi Regional Wilayah Jawa Timur sampai dengan 31 Oktober 2022 bahwa Pendapatan Negara Rp204,77 T (85,41% dari target) terdiri dari Penerimaan Pajak – Rp87,68 T (90,52%) secara nominal tumbuh 25,46% dibandingkan periode yg sama TAYL.

Jenis penerimaan Perpajakan yang mencatatkan realisasi tertinggi adalah Pajak Pertambahan Nilai sebesar 95,24%, Penerimaan Bea Cukai – Rp111,32 T (80,63%) secara nominal tumbuh positif 19,72% dibanding periode yang sama TAYL ditopang pertumbuhan penerimaan Cukai dan BM yang masih tinggi serta BK telah melampaui target, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) –  Rp5,87 T (118,52) secara nominal tumbuh negatif 9,31%, terutama disebabkan oleh Perubahan status BLU ke PTN-BH (Univ. Brawijaya dan UNM).

Pada sisi pengeluaran, Belanja Negara  Rp101,32 T (83,16%) terdiri dari Belanja K/L – Rp33,25 T (71,79%) dan Tranfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) – Rp68,07 T (90,13%). Realisasi Belanja K/L mengalami pertumbuhan negatif 4,93% dibandingkan periode yang sama TAYL. Hanya Belanja Pegawai dan Belanja Sosial yang tumbuh positif secara nominal sebesar 0,48% dan 17,16%.

Realisasi TKDD sebesar Rp68,07 T (90,13%), tumbuh 3,18% dibandingkan periode yang sama TAYL. Pertumbuhan ditopang oleh realisasi DAU, DBH, Dana Desa dan DAK Fisik , sedangkan jenis transfer lainnya mengalami pertumbuhan negatif. Sehingga Surplus regional Jatim mencapai Rp103,56 T.

Sedangkan untuk Realisasi I-Account APBD Konsolidasian, Realisasi Pendapatan Daerah Konsolidasian sebesar Rp101,42 T (87,03%), Belanja Daerah Konsolidasian Rp77,25 T (60,18%), Surplus APBD Konsolidasian Rp24,17 T, Pembiayaan Netto Daerah Konsolidasian Rp8,02 T dan Akumulasi SiLPA Konsolidasian Rp32,19 T.

Kontribusi TKDD terhadap pendapatan APBD Konsolidasian sampai dengan 31 Oktober 2022 sebesar Rp68,07 atau 67,12% dari total Pendapatan Daerah Konsolidasian Se-Jatim.

 

Perkembangan Ekonomi Regional

Triwulan III-2022 sebesar Rp700,59 T (ADHB) atau Rp447,54 T (ADHK) tumbuh 2,15% (qtoq), 5,58% (yony), dan 5,40% (c-to-c). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada Triwulan III-2022 pada Lapangan Usaha Transportasi & Pergudangan sebesar 28,02% (y-on-y) dan 22,97% (c-to-c) sedangkan secara (q-to-q) pertumbuhan tertinggi pada LU Konstruksi sebesar 7,98%.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi Triwulan III-2022 pada Impor Luar Negeri sebesar 29,38% (y-on-y) dan 19,29% (c-to-c), sedangkan secara (q-to-q) pertumbuhan tertinggi pada Konsumsi Pemerintah sebesar 8,54% (q-to-q). Dari sisi produksi kontribusi terbesar oleh Industri Pengolahan (30,12%) tumbuh 1,57% (q-to-q), 5,60% (y-on-y), dan 6,85% (c-to-c).  Sedangkan dari sisi pengeluaran adalah Konsumsi-RT (58,62%) terkontraksi 0,83% (q-to-q), dan tumbuh 7,15% (y-on-y) dan 6,43 (c-to-c).

Tingkat Inflasi Okt-2022 sebesar 6,65% (y-on-y), 5,55% (y-t-d), dan 0,04% (m-to-m). Pada bulan Oktober (m-to-m), dari 11 kelompok pengeluaran, 10 kelompok pengeluaran mengalami inflasi (tertinggi Kesehatan sebesar 0,65%) dan  1 kelompok pengeluaran mengalami deflasi yaitu Makanan, Minuman dan Tembakau (-0,49%).

Berdasarkan klasifikasi Bahan Makanan (Bama) dan Energi, komponen Bama mengalami deflasi -0,76% (m-t-m), Inflasi 7,13% (y-on-y), 3,34% (y-t-d) sedangkan komponen Energi mengalami inflasi 0,42% (m-t-m), 18,13% (y-on-y), 18,13% (y-t-d)

Neraca Perdagangan bulan Oktober 2022 defisit US$0,63 Miliar (sektor migas defisit US$0,46 M & Non Migas US$0,17). Secara kumulatif s.d Oktober 2022 defisit US$7,85 Miliar. Impor bulan Oktober turun 9,05% (m-to-m) namun tumbuh 27,28% (ytd), impor  masih didominasi oleh bahan baku/penolong (70,48%).

Berdasarkan komoditas, impor bulan Oktober didominasi oleh sektor migas (industri bahan bakar) sebesar 10,32% terutama diimpor oleh PT Pertamina Patra Niaga. Ekspor bulan Oktober turun 4,98% (m-to-m) namun tumbuh 7,84% (ytd)

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Kota Surabaya bulan Okt-2022 sebesar 129,3 meningkat 2,46% (m-to-m), lebih tinggi dibandingkan IKK Nasional sebesar 120,3.

Indeks Penjualan Riil (IPR) Kota Surabaya pada bulan Okt-2022 diproyeksikan sebesar 414,1 naik 1,75% (m-to-m) dan 5,78% (y-on-y).

PMI manufaktur Indonesia Okt-2022 (51,8) turun dibandingkan Sep-2022 (53,7). Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur mengindikasikan kondisi manufaktur dalam perekonomian dan mengukur beberapa komponen manufaktur seperti jumlah produksi, jumlah permintaan, harga bahan baku dan ketenagakerjaan.

Data Pendapatan yang disajikan adalah pendapatan yang diterima di Kantor-kantor layanan di Jatim (KPP, KPPBC, KPKNL, dan KPPN).

Belanja terdiri atas Belanja Satker K/L yang ada di wilayah Jatim dan Belanja TKDD yang sebagian besarnya tidk dibayarkan di KPPN Jakarta (DAU, DBH, DID, DAK Non Fisik).

 

*Penulis adalah Kepala Subbag Tata Usaha dan Rumah Tangga, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jatim

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry