Mohammad Ghofirin
Dosen FEBTD

GENERASI milenial adalah kelompok demografis yang lahir antara tahun 1981 hingga 2000. Generasi ini sering disebut juga dengan Generasi Y (Gen Y), yakni generasi yang tumbuh di masa transisi antara era analog dan era digital.

Saat ini, generasi milenial sampai pada usia produktif, yakni sekitar usia 25 hingga 44 tahun.

Pada fase ini, generasi milenial memiliki energi dan kemampuan untuk bekerja dan menghasilkan pendapatan, mengembangkan karier dan usaha, berwirausaha dan membuka lapangan pekerjaan, berinvestasi dan membangun aset, meningkatkan kualitas hidup serta berkontribusi pada pembangunan nasional.

Karena itu, generasi milenial harus memiliki kemampuan mengelola keuangan untuk mencapai kemandirian dan kesejahteraan finansial.

Berikut 9 kiat sukses mengelola keuangan bagi generasi milenial:

1.    Mencatat pendapatan dan pengeluaran

Salah satu langkah paling dasar namun sering diabaikan dalam mengelola keuangan pribadi adalah mencatat pendapatan dan pengeluaran. Meski terlihat sederhana, kebiasaan ini menjadi pondasi penting bagi setiap individu yang ingin mencapai stabilitas dan kemandirian finansial. Tanpa catatan keuangan yang jelas, seseorang akan sulit mengetahui kondisi finansialnya, apakah masih dalam batas aman, mulai boros, atau bahkan defisit.

2.    Menyusun anggaran dan disiplin menjalankannya

Banyak orang memiliki penghasilan yang cukup, bahkan besar, namun tetap merasa kekurangan di akhir bulan. Penyebabnya bukan semata karena kecilnya pendapatan, melainkan karena tidak adanya perencanaan keuangan yang terarah. Di sinilah pentingnya membuat anggaran (budgeting) berdasar pada prioritas kebutuhan sebagai alat kontrol dan panduan penggunaan uang.

Pertama, untuk kebutuhan pokok, seperti makan, tempat tinggal, transportasi, dan tagihan rutin (listrik, air, telepon, lingkungan).

Kedua, untuk tabungan, diantaranya tabungan harian, tabungan masa depan (membeli rumah & kendaraan, menikah, pendidikan, membuka usaha), tabungan dana darurat, tabungan sosial (zakat, infaq, sedekah, qurban, haji, silaturrahmi), tabungan liburan, tabungan hari tua (pensiun), dan tabungan berupa asuransi.

Ketiga, untuk investasi, baik investasi jangka pendek, jangka mengah, maupun jangka panjang.

3.    Menghindari utang konsumtif

Godaan membeli barang tersier dengan cicilan atau sistem pay later sangat besar di kalangan milenial. Padahal, utang konsumtif adalah salah satu sumber masalah keuangan paling umum. Sebaiknya gunakan utang hanya untuk hal produktif seperti modal usaha, pendidikan, atau properti.

4.    Memiliki asuransi

Asuransi pada dasarnya adalah sistem perlindungan keuangan. Melalui pembayaran premi secara berkala, seseorang melakukan antisipasi risiko finansial di masa depan. Jenis asuransi yang dapat dimiliki adalah asuransi jiwa, kesehatan, pendidikan, kendaraan, property.

5.    Membangun dana darurat

Kejadian tak terduga seperti kehilangan pekerjaan atau sakit bisa mengganggu stabilitas keuangan. Karena itu, milenial perlu memiliki dana darurat minimal tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan. Simpan dana ini di rekening terpisah agar tidak mudah digunakan untuk kebutuhan lain.

6.    Mulai berinvestasi

Menabung saja tidak cukup karena nilai uang akan berkurang akibat inflasi. Oleh karena itu, investasi menjadi langkah penting untuk menjaga dan menumbuhkan kekayaan. Saat ini, berbagai instrumen investasi mudah diakses, seperti reksa dana, emas, saham, deposito, obligasi, property, dan sosial (wakaf).

7.    Menyisihkan zakat, infaq, dan sedekah dan wakaf

Keberkahan harta tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, tetapi seberapa bermanfaat harta itu bagi orang lain. Oleh karena itu, sisihkan setiap harta untuk membayar zakat, infaq, dan sedekah secara rutin. Bagi milenial, menyalurkan sebagian pendapatan berupa wakaf bukan hanya sekadar amal kebaikan, tetapi juga investasi spiritual yang akan berbalas berlipat di masa depan.

8.    Meninggalkan gaya hidup hedonistik

Meninggalkan gaya hidup hedonistik bukan berarti menolak kebahagiaan, melainkan belajar menikmati hidup secara lebih bijak dan terukur. kesuksesan bukan diukur dari tampilan luar, pakaian bermerek, liburan mewah, atau kendaraan mahal. Menjalani hidup sederhana bukan tanda ketidakmampuan, melainkan wujud kecerdasan finansial dan kedewasaan emosional.

9.    Meningkatkan literasi keuangan digital

Akses mudah terhadap e-commerce, layanan pay later, hingga investasi instan sering kali membuat generasi milenial terjebak dalam jebakan finansial tanpa sadar. Karena itu, literasi keuangan digital menjadi kunci utama untuk mencapai kemandirian dan kesejahteraan finansial bagi generasi milenial. *

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry