Cak Nur (kiri FT duta.co) dan pertemuan Istana (FT/detik.com)

SURABAYA | duta.co – Kabar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (SAS) membawa sejumlah ulama dan kiai menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Jakarta membuat sejumlah warga NU prihatin.

Meski atas nama Lembaga Persahabatan Ormas Islam, NU tetap kena getahnya. Kiai Said mengaku tidak kampanye, ia hanya mendoakan Jokowi agar menang Pilpres 2019.

“Kelewatan dan, ironisnya tidak ada yang mau mengingatkan. NU sekarang ini sudah menjadi tim sukses politik. Kalau pengurus NU diam, maka, warga NU yang harus melakukan perlawanan,” tegas Sekjen Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyah (PPKN), Nur Hadi ST, kepada duta.co, Rabu (23/1/2019).

Menurut Cak Nur, panggilan akrabnya, hari ini warga NU perlu memberikan perlawanan terbuka, sekaligus pembelajaran bagi para pengurus yang tidak mengindahkan khitthah dan menjadikan NU sebagai tunggangan kepentingan politik pribadi.

Seperti diberitakan, pertemuan Kiai SAS berlangsung di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (22/1/2019). Kiai Said mengatakan kedatangannya bersama 14 pimpinan ormas Islam untuk menyampaikan terima kasih karena memilih kiai sebagai cawapres.

“Kami 14 ormas Islam mengucapkan terima kasih sudah diterima oleh Presiden Jokowi. Terima Kasih sudah memilih calon wakil presiden dari kiai, ulama,” ujar Said di kompleks Istana Kepresidenan.

Said Aqil kemudian menyatakan kedatangan dia dan sejumlah ketua itu bukan kampanye. Mereka hanya mendoakan Jokowi agar kembali terpilih sebagai presiden pada Pilpres 2019.

“Sekali lagi bukan kampanye, kami hanya mendoakan Pak Jokowi menang. Mendoakan bukan kampanye, mudah-mudahan Jokowi menang. Kurang Islam apa lagi Pak Jokowi, sejumlah posisi penting diberikan ke ulama,” katanya.

Hadir pula Sekretaris Umum LPOI (Lembaga Persahabatan Ormas Islam) Lutfi A Tamimi, Muflich Kholif dari Syarikat Islam Indonesia, Anwar Sanusi dari Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Yantze dari Persatuan Umat Islam, Yunus (HBMI), Deni dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Mohd Faisal dari Persatuan Islam (Persis), Khaeran (IKADI), Zulkifli dari Ittihadiyah, Aris Banaji dari Al Washliyah, dan Iqbal Sullam dari Nahdlatul Ulama.

Sementara itu, dalam pertemuan tersebut, Jokowi didampingi Menteri-Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Sekretaris Kabinet Pratikno, dan Kepala Staf Presiden Moeldoko.

Masih menurut Cak Nur, posisi Kiai SAS tidak bisa dilepaskan dari Ketua Umum PBNU. Ia membawa gerbong nahdliyin. Meski tidak menyebut kampanye, tetapi, orang awam paham bahwa itu kampanye terselubung.

“Orang awam mengerti, bahwa, semua itu kampanye. Sebagai Ketua Umum PBNU, hal itu dilarang. Karena itu, warga NU harus melakukan perlawanan terbuka, bahwa, pengurus NU sudah tidak mengindahkan AD/ART organisasi,” tegasnya.

Di samping itu, lanjutnya, sebagai warga negara ia harus ikut memberikan penjelasan kepada rakyat, bahwa, sebagai wong cilik jangan sampai menjadi korban pencitraan. “Hari ini semua pencitraan. Warga NU yang berada di lapisan terbawah menjadi korban,” tegasnya. (mky,dtc)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.