“Macan sangat berwibawa apabila masih hidup di hutan sebagai tempat aslinya. Begitu pula hutan (umat) yang dijaga macan (kiai) akan menjadi tenang, aman dan damai, tidak mudah digarong bromocorah.”

Oleh: Muhtazuddin*

KH Ma’ruf Islamuddin, Ketua PCNU Sragen, Jawa Tengah dalam sebuah ceramahnya, mengatakan, bahwa, kiai itu ibarat harimau (baca: macan). Sangat berwibawa. Itu kalau dia konsisten berada di habitatnya (umat).

Sebaliknya, begitu meninggalkan umat, masuk ranah ‘sirkus’, kiai akan kehilangan wibawa. Seperti macan di kebun binatang, dibuat mainan anak-anak, dianggap binatang lucu oleh mereka.

Kiai Khoirin, Syuriah Ranting NU Desa Gilang, Sidoarjo, punya definisi lain. Menurutnya, kiai atau ulama, itu memilik sabda mulia, sabdanya disebut tuntunan. Syaratnya dia konsisten di ranah umat, ngurus umat.

Sebaliknya, kalau sudah gandrung dunia, kekuasaan, politik, maka, kiai atau ulama itu berubah menjadi totonan. Bukan dibutuhkan umat, melainkan membutuh (dukungan suara) umat.

Di mana suara bermuara, di situ menjadi titik konsentrasi. Ketika suara Pilpres 2019 banyak disedot anak-anak millennial, di situ pula kiai harus ikhlas bergaya millennial.

Belum lagi menghadapi sistem demokrasi yang kebablasan, one man one vote, setiap individu memiliki bobot suara yang sama. Di sinilah orang bodoh bisa dengan mudah menyanggah. Waallahu’alam.

Bahasa Kiai Ma’ruf maupun Bah Rin (panggilan akrab Kiai Khoirin), adalah bahasa lazim yang digunakan kiai-kiai kita. Bahwa orang berilmu itu ibarat macan.  Dan macan sangat berwibawa apabila masih hidup di hutan sebagai tempat aslinya. Begitu pula hutan (umat) yang dijaga macan (kiai) akan menjadi tenang, aman dan damai, tidak mudah digarong bromocorah.

Wibawa macan ini, berbeda dengan galaknya anjing. Meski menakutkan, macan tak mudah diajak kompromi, apalagi urusan pribadi. Macan tak mudah dikadali, hampir tidak ada rumah dijaga macan, sebagaimana anjing yang sering dipamerkan orang-orang kaya.

Kisah Macan Dimakan Kambing

Ada kisah menarik yang diunggah nu.or.id terkait ‘KERAMAT MBAH SHOLEH DARAT. Judulnya: Kisah Kambing Mbah Sholeh Darat Memakan Macan. Dalam tulisan ini, saya kutip lengkap saja.

Ichwan, sang penulis mendapat kisah ini dari KH Mukri Rohman, imam Masjid Kyai Sholeh Darat kampung Melayu Darat, Semarang Utara yang mengasuh pengajian kitab Majmu’ Syariat al-Kafiyat lil Awam, salah satu karya KH Sholeh Darat yang cukup populer.

Kiai Mukri mendengar cerita ini dari gurunya, KH Bisri Mustofa, sewaktu beliau mondok di Pondok Pesantren Leteh, Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 1970-an. Menurut cerita ayah KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) itu, pada suatu hari KH Sholeh Darat yang sudah kembali dari Mekah dan tinggal di nDarat (tanah) Semarang kedatangan tamu seorang tokoh yang terkenal sakti asal Jawa Timur. Si tokoh sudah biasa dipanggil kiai.

Tamu tersebut datang di malam hari.  Karena Kiai Sholeh sedang mengajar ngaji, seorang santri mempersilakan sang tamu menunggu di serambi langgar seraya disuguhi minuman. Langgar yang dibangun oleh mertua Mbah Sholeh, Kiai Murtadho, itu berbentuk panggung dan terbuat dari kayu jati.

Usai mengaji, Mbah Sholeh menemui tamunya tersebut.  “Jenengan tindhak mriki nithih napa (Anda datang ke sini naik apa?),” tanya tuan rumah kepada si tamu.

Numpak macan (naik harimau),” jawab si tamu dengan nuansa pamer.  Maklum saat itu tunggangan yang biasa dipakai orang umum adalah kuda.

“Lho, dicancang teng pundi macane (diikat di mana harimau itu?)”

“Saya ikat di luar pagar sana itu. Khawatir menakuti santri-santri jenengan.”

Mbah Sholeh hanya tersenyum. Lantas menyuruh santrinya menuntun macan besar tunggangan tamunya itu. Santri nDarat ternyata sama sekali tidak takut pada macan.

“Masukkan kandang, Kang. Biar tidak kedinginan atau kehujanan,” perintah Mbah Sholeh kepada santrinya.

Mengatahui bahwa yang dimaksud adalah kandang kambing, si tamu jadi khawatir.

“Jangan dimasukkan kandang,  Mbah. Nanti kambing jenengan dimakan sama macan saya,” ujarnya yang hanya ditimpali senyum sang tuan rumah.

“Tak apa-apa. Kambing saya akan aman kok,” jawab Mbah Sholeh seraya menggamit tangan si tamu untuk menenangkannya. Lalu dipersilakan menuju kamar untuk dipersilakan istirahat.

Sebelum tidur malam itu, si tamu membayangkan macannya pasti telah menerkam kambing-kambing milik Mbah Sholeh dan esoknya akan ada banyak bangkai.  Namun karena kelelahan, matanya segera terpejam.

Pagi hari usai diajak berbincang dan dijamu makanan oleh tuan rumah, dia bergegas menengok ke kandang. Betapa terperanjatnya dia, bukan bangkai kambing yang ditemukan, malah macannya yang mati. Tergeletak kaku di samping barisan kambing yang riuh mengembik.

“Mbeeek… Mbeeekkk…” suara kambing gaduh seperti meminta bangkai macan segera disingkirkan. Seekor kambing powel yang jenggotnya panjang, mulutnya tampak merah. Diduga kuat, si kambing itulah yang membunuh (memakan red.) si macan.

Akhirnya si tamu meminta maaf dan menyesali kesombongannya. Dia menyadari betapa rendah ilmunya dibanding sang kiai yang pernah jadi qadhi di Mekah dan menjadi mahaguru dari gurunya para ulama Nusantara ini. Begitu Ichwan mengakhiri tulisan seri 1-nya.

Kisah ini menarik dicermati. Macan memang tidak mau dipakai untuk kesombongan, tidak mau dipakai untuk menakut-nakuti kambing. Dia ikhlas kehilangan wibawa jika lepas dari hutan belantaran yang harus dijaganya. Begitu juga kiai, akan runtuh sabdanya jika tak lagi barada dalam wilayah umat.

Adalah tepat kalau para masyayikh nahdlatul ulama membuat keputusan kembali ke khitthah 26, dengan membangun budaya politik yang sehat dan bermartabat. Karena politik saat ini transaksional, wani piro, yang hanya untuk memenuhi kebutuhan sesaat. Bukankah begitu? Wallahu’alam. (*)

*Muhtazuddin, wartawan Duta Masyarakat Biro Jombang.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.