LOYALITAS KE KIAI -- Tampak kegiatan Banser Kabupaten Pasuruan. Mereka dikenal sebagai kader NU yang loyal terhadap ulama atau kliai. (duta.co/Abdul)

Meski Begitu Tidak Ada Ancaman Pecat Memecat

LOYALITAS KE KIAI — Tampak kegiatan Banser Kabupaten Pasuruan. Mereka dikenal sebagai kader NU yang loyal terhadap ulama atau kiai. (duta.co/Abdul)

PASURUAN | duta.co — Media sosial lagi ramai berita anggota Banser sibuk menjaga gereja. Di sisi lain ada juga berita larangan dari kiai-kiai NU di Pasuruan, karena gereja merupakan tempat ibadah bagi kaum Nasrani. Bahkan muncul kabar anggota Banser yang menjaga gereja bakal dipecat dari keanggotaan.

Benarkah demikian? Menurut Sekretaris GP Ansor Kabupaten Pasuruan, Abdul Karim, kiai di jajaran pengurus PCNU Kabupaten Pasuruan, memang melarang Banser ikut-ikutan menjaga gereja. Tetapi tidak ada ancaman pecat memecat. Perintahnya pun disampaikan per lisan.

“Memang ada perintah secara lisan dari kiai di NU Kabupaten Pasuruan. Beliau-beliau minta agar anggota Banser yang selama ini menjaga gereja dalam kegiatan ibadah kaum nasrani, tidak dilakukan. Mengingat tugas Banser adalah membentengi ulama dan ajaran Ahlussunah wal jamaah (Aswaja), bukan menjaga gereja,” kata Abdul Karim, saat dihubungi Duta, Minggu (25/12/2016).

Dijelaskannya, secara instruksi (tersurat) dari GP Ansor pusat maupun wilayah Jawa Timur, tidak ada. Hal ini merupakan pandangan para kiai, bahwa anggota Banser tugasnya bukan untuk menjaga gereja. Apalagi tugas tersebut sudah menjadi kewenangan kepolisian.

“Ini yang kami garis bahawi apa yang dikehendaki para kiai. Karenanya kami mematuhinya, meski tak ada instruksi dari lembaga, ” jelasnya.

Dia menegaskan, bahwa Banser merupakan garda terdepan mempertahankan dan mengembangkan ajaran Aswaja. Tugas Ansor dan Banser adalah mempertahankan dan mengembangkan ajaran Aswaja yang berpegang teguh kepada Alquran, hadits, ijma’ dan qiyas. Dalam fiqih menganut pada mazhab empat yakni, Imam Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hambali.

Tak hanya itu, lanjut Karim, Banser juga mengikuti Al-Asya’ari dan Al-Maturidi dalam bidang aqidah. Sedangkan dalam bidang tasawuf mengikuti Junaid Al-Baghdadi dan Imam Ghazali.

“Aswaja diikuti mayoritas umat Islam di Indonesia khususnya NU. Karena didalamnya mempunyai beragam konsep yang jelas dan dilandasi dalil-dalil yang qath’i, ” terang Karim.

Ditambahkannya, adapun salah satu konsep yang terkandung dalam ajaran Aswaja yaitu tasawuf, tasamuh, tawazun dan amar ma’ruf nahi mungkar.

“Amar ma’ruf nahi mungkar untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran. Ajaran ahlussunah wal jamaah ini merupakan benteng aqidah amaliah warga NU, yakni mewaspadai beberapa aliran keras yang berkembang akhir-akhir ini, ” pungkasnya. (dul)

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan