KUPAS KIAI MASJKUR: Seminar nasional ‘membongkar’ jejak perjuangan Kiai Masjkur sebelum dan setelah kemerdekaan RI di Graha Astranawa Gayungsari Timur Surabaya, Kamis (7/12/2017). (duta.co/mky)

SURABAYA | duta.co – Pecahnya perang 10 November 1945 di Surabaya tak bisa dilepaskan dari Resolusi Jihad yang dicetuskan pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim As’yari. Para laskar santri berbagai daerah berduyun-duyun ke Surabaya untuk berperang mempertahankan kemerdekaan.

“KH Masjkur mengirimkan laskar dari Malang pada 9 November 1945,” ujar KH Tolchah Hasan di sela-sela seminar nasional ‘membongkar’ jejak perjuangan Kiai Masjkur sebelum dan setelah kemerdekaan RI di Graha Astranawa Gayungsari Timur Surabaya, Kamis (7/12/2017).

Saat itu, Kiai Masjkur memang komandan Laskar Sabilillah Malang. Kiai Masjkur juga hadir di Kantor NU Bubutan, tempat ditandatanganinya Resolusi Jihad oleh Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

“Kiai Masjkur turut hadir di Kantor NU Bubutan saat itu,” ujar Drs H Choirul Anam (Cak Anam), sejarawan NU selaku pembicara pada seminar tersebut. “Kiai Masjkur juga salah satu anggota BPUPKI,” tambah Cak Anam.

Menurut sejarah nasional, BPUPKI atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia adalah sebuah badan yang dibentuk pemerintah Jepang pada 1 Maret 1945 dengan tujuan untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. BPUPKI beranggotakan 62 orang, dipimpin Radjiman Widoyoningrat, dibantu dua wakil ketua, yaitu Ichibangase Yosio (orang Jepang) dan Raden Pandji Soeroso.

Kiai Tolchah yang juga ketua Dewan Pembina Yayasan Sabilillah Singosari, Malang, mengatakan, dirinya tak hapal data-data sejarah Kiai Masjkur. Menurut dia, pemerintah lebih punya banyak data tentang itu. Data-data yang digunakan untuk proposal mengusulkan Kiai Masjkur agar mendapatkan gelar pahlawan nasional juga diambil dari data milik pemerintah.

Yang dia ketahui, Kiai Masjkur banyak berkorban jiwa, raga, dan harta. “Beliau banyak mengeluarkan harta untuk mendirikan sekolah-sekolah. Ikhlas tanpa pamrih. Beliau memang dari keluarga berada,” ujar Kiai Tolchah yang selama 20 tahun tinggal seatap dengan Kiai Masjkur. “Yang menikahkan saya juga Kiai Masjkur,” tambahnya.

Menurut Kiai Tolchah, Kiai Masjkur merupakan sosok yang sangat patut diteladani. Sosok yang egaliter. Tamunya banyak, dari kalangan bawah sampai elite, dari orang biasa, santri, kiai, serta pejabat. Muridnya banyak, beberapa juga menjadi orang penting di negeri ini. “Saya termasuk yang sering diajak bertemu orang-orang penting,” ujar Kiai Tolchah yang juga mantan Menag ini.

 

Sosok Kiai Masjkur

Munculnya fatwa resolusi jihad oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari diyakini melatarbelakangi terjadinya rentetan peristiwa monumental lain seperti peristiwa 10 November 1945 hingga agresi militer II pada akhir tahun 1948 hingga pertengahan 1949.

Dalam sejarah perjuangan itu, baik pada saat sidang-sidang BPUPKI-PPKI hingga agresi militer I dan II, perlu dicatat nama seorang ulama yang berasal dari Singosari Malang bernama KH Masjkur. Bersama kiai-kiai lain, KH Masjkur menjadi komando laskar kiai yang bernama Laskar Sabilillah.

Sebagaimana yang tercatat dalam sejarah bangsa ini, Laskar Sabililillah, beserta laskar-laskar lain seperti Laskar Hizbullah dan Laskar Rakyat turut memberikan sumbangsih besar dalam perjuangan kemerdekaan.

KH Masjkur dilahirkan di Singosari Malang pada 30 Desember 1899 M/1315 H. Semasa kecil KH Masjkur pernha nyantri di beberapa pondok pesantren, di antaranya Pesantren Bungkuk, Pesantren Sono Buduran Sidoarjo.

Kemudian, Pesantren Mangunsari Nganjuk, Pesantren Tebuireng Jombang, Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo. Juga, Pesantren Bangkalan, Pesantren Jamsaren Solo, Pesantren Penyosongan Cibatu. Lalu, Pesantren Kresek Cibatu dan Pesantren Ngamplang Garut.

Deretan Peran Kiai Masjkur

Namanya tercatat sebagai tokoh dari kalangan Islam mewakili NU yang ikut mendirikan Pembela Tanah Air (PETA) di Jawa (1943 – 1945), anggota Pengurus Latihan Kemiliteran di Cisarua (1944-1945), Syou Sangkai (DPRD). Juga tercatat sebagai anggota BPUPKI–PPKI (1944-1945), pimpinan Dewan Mobilisasi Pemuda Islam Indonesia/DMPII (1946).

Juga menjadi pimpinan tertinggi Hizbullah Sabilillah (1945), Laskar Hizbullah, PP Legiun Veteran RI (1975), pimpinan Dewan Harian Nasional Angkatan 45 (1976-1994), KNIP (1945-1946). Kiai Masjkur juga anggota Dewan Pertahanan Negara (1946-1948), Menteri Agama RI beberapa Kabinet Kerja (1948-1950), dan kepala Kantor Urusan Agama Pusat (1950-1953).

Kiai dari Singosari Malang itu juga menginisiasi dan mendirikan beberapa lembaga pendidikan. Antara lain Universitas Islam Indonesia (1948-1955), Perguruan Tinggi Ilmu Quran (1977-1994), dan Universitas Islam Malang (Unisma) 1980-1994, dan lain-lainnya.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, jasa sekaligus peranan penting tersebut mulai redup dan jarang diperbincangkan secara khusus. Karena alasan tersebut, Yayasan Sabilillah Malang dan PCNU Kota Malang bersama-sama elemen masyarakat lainnya telah sepakat untuk mengusulkan KH Masjkur sebagai Pahlawan Nasional. kim

Tinggalkan Balasan