SURABAYA | duta.co – Calon wakil presiden nomor urut 01, KH Ma`ruf Amin mengatakan untuk mewujudkan Indonesia yang maju, diperlukan penguatan empat bingkai kehidupan. Jika empat bingkai berbangsa ini dipegang teguh, Indonesia akan segera menjadi negara besar, bukan negara bubar apalagi negara punah.

“Indonesia adalah negara kesepakatan (darul mitsaq) dari seluruh elemen bangsa. Karena itu syarat utama untuk bisa maju maka jangan melupakan keutuhan dan persatuan bangsa. Sebab sebesar apapun sebuah bangsa jika pecah dan terjadi konflik maka tidak akan bisa membangun apalagi maju,” tegas KH Ma’ruf Amin  ketika berbicara di Silturahmi Nusantara Bersatu di Goci Mall, Surabaya, Senin (18/3/2019) malam.

Empat bingkai yang harus dipelihara dengan baik untuk membangun Indonesia yang maju, kata KH Ma’ruf Amin, yang pertama adalah bingkai politik. Jika kehidupan politik berbangsa kuat, maka kemakmuran bangsa akan mudah tercapai.

“Bingkai politis itu kita jaga dengan baik 4 pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhieneka Tunggal Ika,” jelas mantan Rais Aam PBNU ini.

Sedangkan bingkai yang kedua adalah bingkai yuridis. Dimana peraturan, perundang-undangan dan hukum harus dipatuhi untuk menjaga keutuhan bangsa. “Yang menyimpang jangan diberi ruang di negeri ini,” tegas KH Ma’ruf Amin.

Kemudian bingkai yang ketiga adalah bingkai sosiologis, yakni dengan penguatan kearifan lokal. “Filosofi kehidupan berbangsa ada pada kearifan lokal yang berasal dari beragam agama, suku dan etnis yang hidup di Indonesia. Itulah yang perlu kita angkat menjadi nilai-nilai alam kehidupan berbangsa dan bernegara,” dalih cawapres nomor urut 01.

Sementara bingkai yang keempat, lanjut KH Ma`ruf Amin, adalah Bingkai Teologis. Yakni agama harus menjadi sumber pemersatu. Agama harus jadi landasan kerukunan karena teologi yang kita bangun adalah kerukunan.

“Paham yang intoleran harus kita hilangkan di bumi Indonesia. Ini penting untuk kita semua dan Alhamdulillah sampai saat ini kita masih merawat dan terjaga dengan baik,” ujar mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini.

Untuk membawa Indonesia maju, Jokowi di periode empat tahun ini sudah berhasil membangun beragam infrastruktur. Mulai dari infrastruktur darat, laut, udara dan langit.

“Sekarang era digital. Sekarang kita sudah punya infrastruktur langit yakni Palapa Ring yang bisa mempercepat hadirnya perusahaan baru berbasis teknologi yang saat ini telah ada seribu lebih perusahaan,” paparnya.

Ditambahkan kiai Ma’ruf, tahun 2024 diharapkan Indonesia sudah bisa tinggal landas atau mi’raj karena itu 5 tahun kedepan bersama Pak Jokowi, pihaknya akan berupaya keras menyiapkan runway (landasan) supaya Indonesia bisa benar-benar tinggal landas.

“Kita jangan isra’ terus tapi kapan bisa mi’rajnya ya tahun 2024 itu Indonesia harus bisa tinggal landas. Karena itu mulai sekarang anak-anak jangan takut bercita-cita tinggi dan orang tua jangan kuatir anaknya tak punya masa depan sebab negara akan hadir dan terus hadir untuk kalian semua,” tambahnya.

Merasa Aman

Sementara itu dalam acara Silaturahmi Nusantara Bersatu ini, ribuan tokoh dari beragam agam, etnis dan suku hadir. Acara ini juga dihadiri Putri KH Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid, serta beberapa tokoh lainnya.

Arif Afandi sebagai penggagas acara mengatakan, acara kali ini sengaja mengundang masyarakat dari lintas agama, suku dan etnis untuk menunjukkan bahwa hanya pasangan Jokowi-Ma`ruf yang dinilai mampu menjaga kerukunan dan keberagaman.

“Kami semua merasa aman kalau Indonesia lima tahun ke depan tetap dipimpin Jokowi dan Kiai Ma`ruf Amin. Kita semua tahu Jokowi bekerja dengan baik. Saat ini berpasangan dengan Kiai Ma`ruf Amin dan kami semua merasa aman,” kata Arif Afandi.

Sejarah bangsa ini, menurutnya, dibangun atas persatuan dan gotong royong dari beragam agama, suku dan etnis. Dulu perjuangan arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 10 November tak terlepas dari seruan resolusi jihad yang dikumandangkan Nahdlatul Ulama.

“Jadi kaum agama yang mengumandangkan Resolusi Jihad, kemudian dipimpin nasionalis yakni Bung Tomo dan disokong pendanaannya oleh etnis Tionghoa, maka Sukseslah pertempuran 10 November 1945,” pungkas jurnalis senior ini. (ud)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.