SURABAYA | duta.co – Ketua Barisan Kyai Santri Nahdliyin (BKSN), KH Agus Solachul A’am Wahib Wahab, berharap Pilpres menjadi ajang adu gagasan. Bagaimana menata Indonesia lebih baik, lebih maslahah bagi rakyat. Hindari ‘mainan’ ayat Alquran, di samping sensitif, bisa menimbulkan salah tafsir.

“Sekarang lagi rame istilah Lakum capresikum (bagimu capresmu), walana capresuna (bagi kami capres kami) dikaitkan dengan lakum dinukum waliadin, bagimu agamamu, bagi kami agama kami. Ini kalau tidak jernih menangkapnya, bisa keruh,” demikian Gus Aam Wahib panggilan akrabnya kepada duta.co, Kamis (8/11/2018).

Seperti diberitakan CNNIndonesia, Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Ma’ruf Amin mengutip surat Al Kafirun terkait dukungan di Pilpres 2019. Hal ini dilakukan Kiai Ma’ruf ketika ditanya soal kehadiran Prabowo Subianto di acara Haul Kubro Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad atau Mbah Priok, di Jakarta Utara, kemarin (4/11).

Kiai Ma’ruf mengaku tak khawatir kehadiran Prabowo itu akan menggerus basis suaranya di Jakarta Utara. Mantan Rais Aam PBNU itu lantas mengutip surat Al Kafirun ayat 6 sambil mengatakan bahwa masyarakat harus saling menghormati meskipun berbeda-beda pilihan dalam pilpres.

Lakum capresikum’ [bagimu capresmu], walana capresuna [bagi kami capres kami] Jadi kita masing-masing saja. Lakum dinukum waliadin bagimu agamamu, bagi kami agama kami,” kata dia saat ditemui di Kawasan Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (5/11).

Gus A’am (kiri) dan Gus Saiful Amin. (FT/MKY)

Menurut Gus Aam, Pilpres 2019 harus menjadi ajang adu gagasan untuk memakmurkan rakyat. “Hari ini kita saksikan, betapa negeri ini karut marut. Janji-janji Pilpres 2014 tidak terpenuhi. BBM yang katanya tidak naik, malah meroket, lapangan kerja menyempit diisi Tenaga Kerja Asing,  impor beras terus menggerus petani kita. Ini mestinya yang menjadi konsentrasi Capres-Cawapres,” tegas Gus Aam yang memilih menjadi tim relawan Prabowo-Sando ini.

Dengan konsentrasi ke problem rakyat, maka, pasangan Capres-Cawapres 2019 tidak perlu mengerek masalah ideologi. “Apalagi menakut-nakuti dengan sistem khilafah segala. Hari ini, paling penting adalah menyelamatkan kedaulatan ekonomi rakyat, tidak menjadi antek asing. Saya kira kepedulian ini yang harus diadu,” jelasnya. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.