
CIREBON | duta.co – Imam Jazuli Foundation kembali menggelar Workshop Pesantren Rintisan untuk angkatan ke-4 di hotel Aston Cirebon pada Minggu (20/09/26).
Panitia menyampaikan bahwa workshop ini menargetkan 10,000 pengasuh pesantren di seluruh Indonesia. Dan di angkatan ke-4 ini sudah lebih dari 2700 pengasuh yang mengikuti.
Peserta angkatan ke-4 ini diisi para pengasuh pesantren rintisan dari Jawa Tengah yang telah lolos seleksi panitia. Ballroom hotel Aston menjadi saksi atas tingginya minat dan antusias 680 pengasuh pesantren yang mengikuti workshop dari jam 1.30 hingga 17.00.
Sebagai keynote speaker, KH. M. Anwar Iskandar, Ketua Umum MUI Pusat dan anggota AHWA pada Muktamar ke-35 NU menyampaikan pesan agar para pengasuh melahirkan para pemimpin dari kalangan santri.
“Allah SWT menciptakan manusia tidak main-main, tetapi untuk menjadi khalifah di muka bumi. Khalifah itu pemimpin,” jelasnya.
Untuk menghasilkan para pemimpin, apalagi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa, para pengasuh pesantren harus membekali ilmu yang dibutuhkan oleh perubahan zaman namun tetapi dengan basis pesantren, seperti hukum, teknik, pertanian, dan seterusnya.
“Semua ilmu milik Allah SWT dan akan menghasilkan manfaat bagi yang mempelajarinya. Dikotomi ilmu yang melahirkan pemisahan sempit antara ilmu agama dan ilmu umum itu warisan kaum penjajah,” pesan beliau mengingatkan para pengasuh pesantren.
Untuk sukses dalam merintis pesantren, para pengasuh pesantren harus memiliki kemauan yang keras dalam menghadapi tantangan.
“Hidup adalah tantangan, dalam menghadapinya akan mendapatkan ilmu dan Ilmu adalah modal sukses,” pesan Kiai Anwar.
Di akhir sambutan, Kiai Anwar Iskandar mengingatkan agar para pengasuh pesantren memulai langkah dengan ikhlas.
“Niatkan ikhlas untuk mencari ridlo Allah atau untuk meninggikan kalimat Allah karena di sana ada jaminan pertolongan Allah dan keteguhan langkah,” pungkasnya.
Perubahan dan Peluang Masa Depan
Sebelum menyampaikan materi workshop, pengasuh pesantren Bina Insan Mulia, KH. Imam Jazuli menegaskan bahwa pesantren rintisan harus cepat dan tepat dalam merespons perubahan jika tidak ingin hilang dari peredaran zaman.
“Bayangkan, korporasi besar saja bisa tumbang oleh perubahan. Bukan mereka tidak ahli. Tapi terlambat atau menolak untuk merespons perubahan dengan cepat dan tepat. Ini juga terjadi pada institusi pendidikan. Berapa banyak yang tumbang dan berapa banyak yang tumbuh?” pesan beliau.
Perubahan itu harus diawali dari pengasuhnya. Dalam setiap perubahan membutuhkan keputusan yang cepat, jelas, dan otoritatif. Karena itu, Kiai Imam menegaskan bahwa semua workshop yang terkait dengan perubahan, selalu mensyaratkan kehadiran pengasuh pesantren langsung, tidak bisa diwakilkan.
“Kepemimpinan menentukan faktor sukses dan gagal dari sebuah perubahan,” tegasnya.
Memotivasi hadirin, Kiai Imam menyampaikan bahwa ada tren yang berbeda antara pesantren rintisan dan pesantren warisan.
“Tren pesantren rintisan banyak yang tumbuh karena mampu merespons perubahan zaman dengan tepat dan cepat. Baru sepuluh tahun sudah punya santri ribuan. Sebaliknya, tren pesantren warisan justru banyak yang menurun. Dulu yang daftar ribuan, kini pendaftarnya hanya ratusan,” papar Kiai Imam memotivasi pengasuh pesantren rintisan.
Pengasuh pesantren Bina Insan Mulia itu juga mengingatkan agar para pengasuh pesantren rintisan saling tolong menolong dan jangan bersaing dengan sesama pesantren. Kenapa?
“Jumlah penduduk Indonesia usia sekolah itu hampir 54 juta jiwa, sedangkan yang sekolah di pesantren belum sampai 10%, hanya sekitar 2,7 juta jiwa. Artinya, peluang yang bisa direbut masih sangat luas sekali. Untuk merebutnya dibutuhkan langkah-langkah adaptif terhadap perubahan,” jelasnya.
Di workshop pesantren rintisan ini, Kiai Imam Jazuli berbagi pengalaman dan pengetahuan terkait langkah-langkah strategis sampai ke teknis terkait pengelolaan kelembagaan, status organisasi, mengelola tenaga SDM, hubungan wali santri dan santri, bahkan sampai ke urusan membangun brand pesantren.
Meski materi workshop pesantren rintisan ini berbeda dengan workshop pesantren transformatif yang telah menggarap 5000 pengasuh pesantren di Indonesia, tetapi tujuan utamanya sama.
“Tujuan besarnya adalah bagaimana pesantren dapat merebut kepercayaan masyarakat sehingga semakin banyak anak-anak Indonesia masuk pesantren dan supaya dapat berkontribusi pada pembangunan Indoensia di wilayah yang berdampak pada perubahan besar dan nyata,” pungkas Kiai Imam.
Tirakat Jalur Langit
Di penghujung agenda workshop, Dr. KH. Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur tokoh NU yang banyak aktif di pesantren, MUI, dan PBNU menyampaikan pengalaman bahwa merintis pesantren itu berat. Karena itu, menurut beliau, ada modal Kiai Imam Jazuli yang belum dibagi kepada peserta workshop, yaitu modal spiritual atau tirakat.
“Beliau ini ahli tirakat dan telah mengamalkan puasa dalail 12 tahun lebih. Jadi harus ada jalur bumi dan jalur langit dalam merintis dan mengembangkan pesantren. Maka kita perlu mendapatkan ijazah dalail sore ini,” jelas Gus Fahrur di hadapan hadirin.
Workshop kemudian ditutup dengan proses pengijazahan tirakat dalailul khairat yang selama ini telah menjadi bagian penting dari semua agenda pendidikan spiritual di pesantren Bina Insan Mulia. (*)





































