
Oleh KH Imam Jazuli Lc, MA*
PANGGUNG Workshop Dai Transformatif 13 September 2026 lalu di pesantren Bina Insan Mulia yang dihadiri 700 dai se-Jabar mendadak terasa berbeda saat sosok itu melangkah masuk. Ada aura wibawa yang tenang, namun menyimpan ketegasan yang tak bisa disembunyikan.
Beliau adalah KH. Anwar Iskandar. Bagi saya, kedatangan beliau bukan sekadar kehadiran seorang tokoh nasional, melainkan sebuah momen reflektif yang personal.
Menyaksikan beliau berdiri di depan mimbar membawa sebungkus rasa bangga yang membuncah di dada: bangga memiliki seorang kakak almamater dari Pondok Pesantren Lirboyo yang sinarnya kini benderang di episentrum tertinggi keagamaan nasional—sebagai Wakil Rais Aam PBNU sekaligus Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Melihat kiprah Kiai Anwar hari ini di PBNU dan MUI yang terus menjadi sorotan publik, kita seperti sedang diajak membaca ulang bagaimana seharusnya profil seorang kiai ideal di abad kedua Nahdlatul Ulama dibentuk. Beliau adalah prototipe langka: seorang santri tulen yang tidak gagap zaman, seorang ideolog yang lurus, sekaligus eksekutor peradaban yang visioner.

Jika kita membuka lembaran sejarah para kiai sepuh Nusantara, fokus utama perjuangan mereka hampir selalu tertuju pada satu titik dasar: mendirikan dan merawat pondok pesantren. Langkah itu tentu mulia dan menjadi fondasi utama kelangsungan tradisi tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama).
Namun, Kiai Anwar Iskandar memilih rute bertualang yang sedikit berbeda dan melompati zamannya. Tanpa sedikit pun menanggalkan identitas kepesantrenannya, beliau melebarkan sayap perjuangan dengan berfokus pada pembangunan institusi pendidikan tinggi.
Beliau mafhum betul bahwa tantangan zaman yang dihadapi generasi santri masa depan tidak lagi sekadar urusan membaca kitab kuning di atas surau. Santri harus masuk ke ruang-ruang saintifik, menguasai birokrasi, dan mewarnai kebijakan publik. Komitmen itu mewujud nyata dalam berdirinya universitas bonafide di Kediri, Universitas Islam Kadiri (UNISKA).
Langkah Kiai Anwar ini bukan eksperimen kacangan. Beliau serius membangun mutu. Bukti paling otentik dari kelas dan reputasi akademik kampus yang beliau rintis adalah keberhasilan beliau menarik tokoh sekaliber Prof. Dr. Moh. Mahfud MD untuk bersedia turun gelanggang menjadi rektornya pada medio tahun 2000-an.
Penunjukan seorang pakar hukum tata negara bereputasi internasional seperti Mahfud MD adalah pesan terang-benderang dari Kiai Anwar kepada dunia pendidikan: bahwa kampus Islam swasta di daerah pun bisa bersaing secara global jika dikelola dengan standar meritokrasi dan visi keilmuan yang tinggi.
Bagi kita para alumni Lirboyo, ini adalah sebuah teladan tak ternilai. Kiai Anwar mendobrak batas psikologis bahwa alumni pesantren salaf hanya bisa bergerak di sektor domestik keagamaan. Beliau membuktikan bahwa dengan modal kuantum Lirboyo, seorang kiai mampu meretas jalan lahirnya intelektual-intelektual Muslim baru dari rahim perguruan tinggi modern.
Menegakkan Supremasi Syuriah

Pertemuan saya dengan Kiai Anwar Iskandar bukan sekadar pertemuan formal antara junior dan senior almamater. Lebih dalam dari itu, ada sebuah chemistry ideologis yang mengikat kami. Kami menemukan titik temu yang sangat krusial pada satu prinsip dasar organisasi: Supremasi Syuriah.
Bukan rahasia lagi, dalam beberapa tahun terakhir, jam’iyah Nahdlatul Ulama sempat didera dinamika dan konflik internal yang cukup hangat terkait arah kemudi organisasi. Ada masa di mana tubuh Tanfidziyah (badan eksekutif) tampak bergerak terlalu dominan, bahkan terkadang melampaui batas operasionalnya hingga membayangi titah Syuriyah (dewan ulama).
Di masa-masa krisis itulah, saya dan Kiai Anwar berdiri di barisan yang sama. Kami berjuang bersama, bahu-membahu menjaga marwah dan supremasi Syuriah agar tidak tergerus oleh tarikan kepentingan politik praktis maupun pragmatisme struktural.
Bagi kami, NU didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan menempatkan para kiai sepuh di jajaran Syuriyah sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, sebagai kompas moral, dan penentu arah peradaban. Tanfidziyah sejatinya adalah operator teknis, pelaksana khidmah dari keputusan Syuriyah. Jika hubungan ini terbalik, maka NU akan kehilangan jiwanya dan berubah menjadi sekadar parpol atau ormas biasa yang gersang akan nilai spiritual.
Perjuangan yang melelahkan itu akhirnya membuahkan hasil yang gemilang di arena Muktamar. Salah satu capaian paling monumental dari gerakan menjaga khittah ini adalah perubahan mendasar pada tata cara pemilihan ketua. Kita berhasil mengembalikan mekanisme pemilihan ke khittahnya, di mana peran Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang berisi para kiai sepuh ditempatkan di posisi paling sentral untuk menentukan arah kepemimpinan PBNU.
Jangkar Moral AHWA
Peran Kiai Anwar Iskandar di Muktamar ke-35 di Jombang lalu sebagai salah satu anggota AHWA menegaskan posisi beliau sebagai jangkar moral jam’iyah. Ketika tensi politik muktamar memanas dan kepentingan faksi-faksi saling berbenturan, sosok Kiai Anwar hadir sebagai penengah yang jernih.
Melalui musyawarah mufakat yang teduh di dalam kamar AHWA, stabilitas organisasi berhasil dijaga, dan kepemimpinan PBNU periode 2026-2031 dapat dilahirkan dengan selamat tanpa menyisakan luka perpecahan yang dalam di akar rumput.
Misinya kini telah berjalan. Rel organisasi yang sempat agak melengkung kini perlahan mulai diluruskan kembali. Namun, perjuangan belum usai. Ke depan, kita menaruh harapan yang sangat besar agar Supremasi Syuriah tidak hanya gagah di dalam klausul Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi saja, melainkan benar-benar terasa denyutnya dalam setiap kebijakan eksekutif yang diambil oleh PBNU di abad kedua ini.
Kiai Anwar Iskandar telah membuka jalannya. Beliau telah memberikan contoh bagaimana menjadi alumni Lirboyo yang paripurna: kokoh dalam tradisi spiritual salaf, berani dan progresif dalam melahirkan institusi pendidikan tinggi, serta tegas tanpa kompromi saat menjaga pilar moral organisasi.
Sudah semestinya, sosok beliau bertransformasi menjadi teladan hidup bagi seluruh santri dan alumni Lirboyo di mana pun berada. Saatnya kita melipat ego, merapatkan barisan di belakang dawuh para kiai sepuh, dan memastikan bahwa menara NU abad kedua ini akan tetap tegak berdiri di atas fondasi kokoh bernama Supremasi Syuriah. Wallahu a’lam bish-shawab.
*Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon; Wakil Ketua PP RMI PBNU Periode 2010-2015.



































