
SURABAYA | duta.co – Imam Besar Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) Prof Dr HM Ali Azis M.Ag dalam khutbah Idul Fitri menyerukan ajakan kepada jamaah untuk menjadi Muslim Berdampak pasca-Ramadhan.
Dalam Shalat Idul Fitri yang diikuti Mensos H Syaifullah Yusuf, Gubernur Jatim Hj Khofifah Indar Parawansa, dan Wagub Jatim Emil S Dardak, serta 50.000-an jamaah itu, Prof Ali Azis menyampaikan khutbah bertema “Muslim Berdampak, Muslim Problem Solver.
“Puasa Ramadhan selama satu bulan telah melatih kita untuk menahan hawa nafsu dan
memperbanyak sedekah. Itu berarti, kita dilatih Ramadhan menjadi muslim berdampak, yaitu muslim yang memberi kontribusi kepada masyarakat,” katanya.
Dalam khutbah setelah Shalat Idul Fitri yang dipimpin KH Abdul Hamid Abdulllah M.Si yang juga Imam Besar MAS itu, Khotib Prof Ali Azis menjelaskan ”Berdampak” itu dalam sebuah hadits disebut “Anfa’uhum Linnas” atau manusia yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Dalam Al Qur’an (21: 106), Muslim Berdampak itu disebut rahmatan lil ’alamin atau problem solver yang merupakan muslim pemberi solusi atau kebahagiaan dalam masalah kemanusiaan, baik sesama muslim maupun non muslim, serta lingkungan. Lawan katanya adalah muslim la’natan lil alamin atau problem maker yaitu muslim yang selalu bikin masalah di tengah masyarakat dan lingkungan,” katanya.
Ia mengharapkan spirit Ramadhan melahirkan muslim berdampak sekelas Al-Khawarizmi, yang lebih dikenal Bapak Aljabar atau Bapak Algoritma. Atau, sekelas Ibnu Sina dalam ilmu kedokteran. Atau, dalam sosial keagamaan di
Indonesia seperti KH Ahmad Dahlan, tokoh pendiri Muhammadiyah, dan KH Hasyim Asy’ari, tokoh pendiri Nahdhatul Ulama, dua organisasi keagamaan yang melahirkan ratusan ribu lembaga pendidikan, Rumah Sakit dan pesantren di dalam dan luar negeri.
“Patut kita syukuri, di Jawa Timur, telah lahir anak muda asal Madura, Dr. Achmad Syaifuddin yang masuk dalam daftar 2 persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia dan masuk peringkat ke-17 di dunia yang dirilis Stanford University bekerja sama dengan Elsevier BV Belanda pada 19 September 2025,” katanya.
Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) itu selama tahun 2021-2025 atau lima tahun berturut-turut mencatat prestasi
internasional. Ia menemukan teknologi yang diberi nama UNUSA-Water, berupa sistem filtrasi bertingkat berbahan alam yang mampu mengubah air kotor menjadi air layak minum dan sanitasi.
“Betapa besar manfaatnya untuk masyarakat Indonesia, mengubah air kotor dan najis menjadi air yang bersih dan suci. Berapa juta orang yang diselamatkan dari kekurangan air,” katanya.
Menurut Prof Ali Aziz yang juga Guru Besar UINSA itu, berdampak itu tidak harus menjadi peneliti seperti di atas, namun Ramadhan mengajarkan bisa dengan sedekah tenaga, pemikiran, sedekah ilmu, dan sebagainya.
“Sedekah paling berharga bagi penguasa atau legislatif adalah kebijakan atau keputusan penting yang menyangkut masa depan jutaan manusia. Melalui mimbar ini, saya menyampaikan apresiasi kepada bapak presiden RI dan wakil presiden, dan semua anggota DPR yang melahirkan keputusan dan undang-undang yang menyejahterakan masyarakat. Itulah sedekah sesuai peran dan posisi kita, yang bermanfaat bagi semuanya,” katanya.
Pada malam Gema Takbir, Gubernur Khofifah sempat menyaksikan Rampak Bedug di Selasar Timur (Area Air Mancur) Masjid Al Akbar Surabaya (20/3).
“Untuk Rampak Bedug ada _Special Perform_, yakni Rampak Bedug TNI/Polri, Rampak Bedug Wartawan, Rampak Bedug Pilar Sosial, dan El Kiswah Gambus, yang juga disaksikan ribuan jamaah,” kata Humas MAS H Helmy M Noor.
Sebelum takbiran, Gubernur Khofifah juga bersilaturrahmi ke sejumlah ulama, seperti KH Miftachul Akhyar (Rais Aam PBNU) di Surabaya Utara, dan KH Anwar Manshur (Rais Syuriah PWNU Jatim) di Kediri. (*/mas)





































